Hey, kmau! Yogyakarta nggak cuma soal candi dan kuliner, tapi juga penuh tradisi Yogyakarta yang keren abis. Salah satunya adalah ritual upacara adat Bekakak di Desa Ambarketawang, Gamping. Meski jarang muncul di feed media sosial, upacara ini punya cerita yang dalam dan vibe yang beda dari yang lain.
1. Tips Biar Nge‑cek Upacara Bekakak Tanpa Ribet
Kalau penasaran pengen liat langsung, gampang banget. Desa Ambarketawang cuma sekitar 7 km barat Kota Yogyakarta, deket banget sama Jalan Raya Yogyakarta‑Purworejo. Naik motor, mobil, atau naik ojek? Semua bisa. Kalau pakai transportasi umum, turun di ringroad Gamping pakai bus KOPATA jalur 9 atau Damri/ASPADA/PUSKOPKAR jalur 15. Kasih tau kondektur "saya mau turun di ringroad Gamping buat nonton Bekakak", terus tunggu prosesi lewat, ikutin dari belakang, dan rasain atmosfernya.
2. Sejarah Keren Upacara Bekakak yang Bikin Bangga
Ritual ini udah ada sejak zaman Sri Sultan HB I dulu. Beliau sempat jumeneng nata di Ambarketawang setelah Perjanjian Gianti 1755, jadi semacam ibu kota sementara Kasultanan Yogyakarta. Di sana, beliau ditemani tiga abdi dalem: Ki Wirasuta, Ki Wirajamba, dan Ki Wiradana. Ki Wirasuta tinggal di gua, terus ada bencana longsor yang menimpa gua itu. Walau jasadnya tak ditemukan, masyarakat yakin ruh beliau tetap melingkupi bukit Gamping, makanya ritual Bekakak jadi sarana menghormati dan minta berkah.
3. Prosesi Upacara Bekakak yang Penuh Warna
Semua dimulai dari pembuatan boneka pengantin ketan yang dikerjakan bareng‑bareng. Selama proses, warga nge‑play musik gejog lesung sambil nyanyiin tembang perkawinan. Ada dua pasangan: satu gaya Yogyakarta, satu lagi gaya Solo. Setelah boneka siap, air suci diambil dari sendang Tirto Donojati dan diarak keliling desa sampai di Bungalow Ambarketawang.
Di malam harinya, desa ngadain tirakatan plus pertunjukan ketoprak atau wayang orang. Keesokan harinya, ada drama "Prasetyaning Sang Abdi" yang nyeritain kesetiaan Ki Wirasuta kepada Sri Sultan HB I. Setelah itu, boneka pengantin dibawa ke Gunung Kiling dan Gunung Gamping, diiringi bregadho, jathilan, dan gendruwo yang menari‑tari seru.
Puncaknya, boneka pengantin disembelih oleh utusan Keraton. Dari lehernya keluar cairan merah tua yang terbuat dari juruh (larutan gula kelapa). Potongan Bekakak lalu disebar ke penonton, siapa cepat dia dapat!
4. Upacara Sugengan Ageng: Penutup yang Mantap
Setelah penyembelihan, acara dilanjutkan dengan Sugengan Ageng yang dipimpin Ki Juru Permana di Bungalow Ambarketawang. Lokasinya dihias kain kuning‑hijau, lengkap dengan sesaji berupa bunga mayang, kelapa gading, dan air amerta. Prosesi dimulai dengan pembakaran kemenyan, lalu Ki Juru Permana bacain ikrar Sugengan Ageng dalam bahasa Arab.
Selanjutnya, dua ekor merpati putih dilepas, simbol damai dan harapan. Sesaji dibagikan ke semua hadirin, termasuk makanan kesukaan Sri Sultan HB I yaitu tawonan. Dengan itu, ritual Bekakak resmi selesai dan warga bersyukur.
5. Kenapa Kamu Harus Ngerasain Upacara Bekakak?
Selain jadi pengalaman budaya yang jarang ditemuin, ritual ini ngasih kamu kesempatan buat nyelam ke dalam sejarah Yogyakarta, liat pertunjukan tradisional, dan ngerasain kebersamaan komunitas yang solid. Semua prosesnya positif dan penuh rasa syukur, jadi cocok buat kamu yang suka traveling sambil belajar.
Jadi, kalau liburanmu ke Yogyakarta jatuh di bulan Safar (biasanya Desember‑Januari), jangan sampai lewatin kesempatan ini. Siapkan kamera, bawa semangat, dan rasain sensasi ritual penyembelihan pengantin yang unik ini. See you di Ambarketawang, bro!