Jangan Sepelekan Batuk, Ini Fakta Batuk 100 Hari yang Wajib Kamu Tahu
Daftar Isi
Pernah gak sih kamu denger istilah batuk 100 hari? Kedengarannya serem bangeet ya, masa iya batuk bisa bertahan sampai tiga bulan lebih? Ternyata, ini bukan mitos belaka, gaes. Pnyakit yang punya nama ilmiah pertusis ini emang nyata dan disebabkan oleh serangan bakteri Bordetella pertussis, bukan karena virus flu biasa yang sering kamu alami pas lagi kecapekan.
Kalo di Indonesia, kita lebih sering menyebutnya dengan batuk rejan. Penyakit ini emang gak main-main tingkat penularannya. Makanya, yuk kita kupas tuntas biar kamu makin aware sama kesehetan diri sendiri dan orang-orang tersayang di sekitar kamu!
Cara Penularan dan Masa Inkubasi si Bakteri
Nah, penularan kuman penyebab penyakit ini tuh gampang banget terjadi lewat udara. Pas penderita bersin atau batuk, droplet-nya bisa terhirup sama orang sehat di dekatnya. Selain itu, berbagi alat makan atau minum dengan penderita juga bisa jadi jembatan penularan yang instan. Makanya, kalau ada teman kamu yang lagi sakit, sebaiknya ingatkan dengan sopan agar beliau menggunakan masker demi kebaikan bersama.
Setelah kuman masuk ke tubuh, gak langsung bikin bersin-bersin saat itu juga, gaes. Ada yang namanya masa inkubasi yang memakan waktu sekitar 5 sampai 21 hari sebelum gejala awal mulai muncul. Jadi, mrasakan tubuh mulai demam itu butuh proses beberapa minggu setelah pertama kali terpapar dari penderita. Sangat licik, kan? Oleh karena itu, menjaga imun tubuh tetap prima adalah kunci utama.
Kenali Gejala Awal Biar Gak Kecolongan
Pada fase awal, gejala pertusis ini sekilas mirip banget sama flu biasa, kayak demam ringan dan hidung meler. Tapi yang bikin beda, produksi lendir di saluran pernafasan bakal melimpah ruah kerna selaput lendir sedang diserang oleh bakteri jahat. Tubuh kita otomatis merespon ganguan ini dengan cara batuk secara intens supaya lendir tersebut bisa keluar.
Intensitas batuk ini biasanya bakal meningkat drastis pas malam hari, bahkan bisa sampai ratusan kali! Saking seringnya batuk, penderita terkadang sampai kesulitan buat menghirup oksigen. Dalam beberapa kasus yang cukup berat, wajah penderita bisa sampai terlihat membiru karena kekurangan oksigen akibat frekuensi batuk yang terlalu rapat dan ekstrem. Kasihan sekali kan jika tubuh beliau harus menahan rasa sakit yang luar biasa tersebut?
Bahaya Komplikasi yang Wajib Kamu Waspadai
Jangan sekali-kali menganggap remeh penyakit ini, gaes. Tekanan yang sangat kuat saat batuk terus-menerus bisa memicu pecahnya pembuluh darah kecil di area mata. Gak cuma itu, tekanan tinggi di area perut saat batuk parah juga berpotensi menyebabkan hernia. Ngeri banget, kan?
Bahkan pada kasus yang fatal, kekurangan oksigen yang parah bisa memicu terjadinya kejang hingga perdarahan pada otak penderita. Jika kamu menemui kerabat yang mengalami batuk dengan durasi yang gak wajar, segeralah sarankan agar beliau langsung berkonsultasi ke dokter spesialis. Menurut dokter yang ahli di bidangnya, beliau pasti akan memberikan penanganan terbaik seperti antibiotik khusus dan menyarankan cara mencegah pertusis melalui program vaksinasi pertusis yang lengkap sejak usia dini agar terhindar dari risiko fatal.