Kamu mungkin pernah gak sengaja denger alunan musik petik yang syahdu banget pas lagi scroll FYP TikTok atau dengerin playlist santai di Spotify. Nah, bisa jadi yang kamu denger itu adalah suara dari alat musik tradisional gambus. Alat musik yang sngat populer ini merupakan hasil adaptasi keren dari budaya Arab, yang akhirnya sukses mewarnai belantika musik di Indonesia sampai ke negara tetangga kita, Malaysia. Tapi, sebenarnya apa sih gambus itu?
Gampangnya, gambus ini sejenis kecapi yang sering banget muncul dalam berbagai genre musik rakyat Melayu, salah satunya musik ghazal yang super estetik. Biasanya, alat musik ini dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu syahdu dan tari zapin yang energik. Berasal dari Timur Tengah, versi Melayu yang hits di sini mneggunakan sekitar 9 sampai 12 senar nilon yang dipetik manis. Secara umum, ada dua jenis gambus yang paling populer di kalangan musisi lokal, yaitu Gambus Hadramaut dan Gambus Hijaz.
1. Ragam Seru Panggung Zapin Gambus
Pertunjukan zapin gambus, baik yang pakai tarian atau cuma instrumennya aja, sering banget tampil di berbagai momen seru. Mulai dari acara syukuran, pernikahan, pertunangan, aqiqah, sampai festival budaya kreatif. Bahkan di Malaysia, kesenian ini sering masuk program televisi anak muda, lho! Di ranah budaya Melayu, festival zapin masih rutin diadakan untuk merayakan kelulusan khatam Al-Qur'an hingga acara sakral di kesultanan.
Karena punya ikatan sejarah yang kuat dengan penyebaran agama, kesenian ini juga sering banget meramaikan hari besar seperti Idul Fitri, Idul Adha, hingga Tahun Baru Hijriah. Kebayang kan serunya dengerin selawat dan pujian maulid yang diiringi ketukan zapin yang bikin suasana makin hidup? Menariknya, musik gambus versi Arab dan Melayu punya perbedaan mencolok pada konten lagunya. Versi Arab lebih penuh dengan improvisasi cengkok yang rumit, sedangkan versi Melayu cenderung mengadaptasi dialek lokal pesisir yang lebih ramah di telinga kamu.
2. Jejak Penyebaran Gambus di Nusantara
Penyebaran populasi muslim Melayu di kawasan pesisir Sabah, Sarawak, Brunei, hingga Kalimantan bikin gambus erat banget sama identitas masyarakat pesisir. Bukti sejarah masuknya pengaruh ini bahkan sudah tercatat rapi di dokumen kuno Tiongkok. Nilai-nilai religius inilah yang bikin kesenian ini gampang diterima dari Kalimantan sampai Sulawesi.
Meskipun gak ada yang tahu pasti kapan pertama kali alat musik ini mendarat di bumi Nusantara, satu hal yang pasti: pengaruh musisi muslim dari Persia dan Gujarat punya andil besar dalam melahirkan kreasi lokal yang luar biasa. Hebatnya, masyarakat Indonesia selalu punya cara kreatif untuk memodifikasi budaya luar menjadi sesuatu yang khas dan unik milik kita sendiri.
3. Usut Punya Usut, Dari Mana Sih Asalnya?
Banyak teori seru tentang perjalanan alat musik ini sampai ke Nusantara. Salah satu ceritanya adalah gambus masuk barengan dengan syiar Islam di Malaka sekitar abad ke-15. Ada yang bilang asallnya dari wilayah Hadhramaut di Yaman, yang di sana disebut qanbus. Namun, ada juga peneliti yang menghubungkannya dengan alat musik petik kuno asal Turki dan Persia bernama barbat.
Berdasarkan buku keren bertema musik klasik Persia yang ditulis oleh Ella Zonis, beliau menyimpulkan kalau barbat aslinya dibuat dari satu gelondong kayu utuh. Di era Dinasti Sasanian, orang Persia punya barbat yang kemudian diadaptasi oleh orang Arab menjadi ud, lalu berevolusi lagi menjadi qanbus. Intinya, gambus Melayu kita ini mengambil nama dari Hadramaut, tapi mewarisi bentuk estetik dari barbat Persia. Keren banget, kan?
4. Vibe Kolaborasi Gambus dan Tari Zapin
Bagi para maestro musik tradisional, kelompok musik zapin itu rasanya bakalan hambar tanpa kehadiran gambus. Ada alasan kuat di balik hal ini. Suara khas dari instrumen ini langsung memberikan getaran religiusitas sekaligus identitas Melayu yang kental banget buat siapa pun yang mendengarnya.
Menurut penjelasan Tom Ibur dalam kajiannya, beliau bilang kalau tari zapin ini punya nama dan gaya yang unik di tiap daerah di Indonesia. Contohnya di Jambi, tari ini lebih dikenal dengan sebutan dana sarah. Di Jawa dan Madura dinamai zafin. Sementara di Kalimantan dan Sulawesi, warga lokal menyebutnya jepin atau jepen. Hal ini juga diperkuat oleh penelitian Dr. Paranti, yang mana beliau menegaskan kalau jejak zapin ini bisa kita temukan hingga ke Ambon, Flores, Ternate, bahkan Jakarta!
Sejarawan terkemuka Richard Winstedt juga ikut bersuara mengenai hal ini. Dalam catatan sejarah yang beliau susun, beliau ngakuin kalau kata zapin sendiri diserap dari bahasa Arab yang populer di Johor dan wilayah Melayu lainnya. Serunya lagi, di Indonesia, sejarah musik melayu ini terus berkembang dinamis. Di Jakarta misalnya, zapin gambus berpadu apik dengan gerakan pencak silat khas Betawi yang menghasilkan warna musik baru yang sngat dinamis dan penuh kecebatan seni tinggi!