Spill the Tea, Rahasia Komunikasi Keren Biar Circle-mu Makin Solid dan Gak Gampang Miskom
Daftar Isi
Pernah gak sih kamu kepikiran, kenapa kita hobi banget nongkrong sambil ngobrol atau sekadar balesin chat di WhatsApp? Yup, fungsi komunikasi interpersonal emang sedekat itu sama kehidupan kita sehari-hari. Rasanya mustahil banget hidup tanpa berinteraksi dengan orang lain. Alih-alih nanya "gimana cara kita ngobrol?", mendingan kita bahas hal yang lebih seru: apa sih sebenernya manfaat dari interaksi yang kita lakukan tiap hari ini?
Kalo kata Thomas M. Scheidel (beliau ini salah satu pakar keren di bidangnya), kita itu berkomunikasi buat nunjukin siapa diri kita sebenernya, membangun koneksi sosial dengan orang di sekitar kita, dan tentunya buat memengaruhi cara berpikir atau perilaku orang lain biar searah sama kita. Jadi, lewat obrolan santai, kita sebenernya lagi nunjukkin persona kita ke circle pertemanan. Bnyak banget kan manfaatnya?
Gak cuma beliau, ada juga Rudolph F. Verderber yang punya pandangan super menarik. Beliau ngejelasin kalau komunkasi punya dua fungsi utama yang gak bisa dipisahkan, yaitu fungsi sosial dan fungsi pengambilan keputusan. Fungsi sosial itu erat banget hubungannya dengan cara membangun relasi sosial biar makin akrab. Sedangkan fungsi pengambilan keputusan itu lebih ke proses internal dalam diri kamu, baik pas lagi overthinking sendiri (intrapersonal) maupun pas lagi minta saran dari sahabat terdekat.
Hal senada juga diungkapin sama Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson. Beliau berdua sepakat kalau interaksi itu berguna banget buat diri sendiri - seperti ngebentuk konsep diri yang positif dan bikin kita makin peka - sekaligus buat ngembangin masyarakat di sekitar kita. Nah, biar makin paham, yuk kita bedah empat pilar utama versi William I. Gorden. Beliau membaginya menjadi beberapa bagian seru di bawah ini!
Ekspresikan Dirimu Lewat Komunikasi Ekspresif
Kadang, kata-kata aja gak cukup buat nunjukin apa yang lagi kamu rasain. Di sinilah peran dari ekspresi emosi nonverbal bermain. Saat kamu lagi ngerasa seneng, jatuh cinta, atau bahkan lagi bad mood, biasanya bahasa tubuh, tatapan mata, sampai pilihan emoji di chat bakal lebih jujur berbicara daripada sekadar ucapan lisan.
Pernah gak kamu denger temenmu bilang "aku gak apa-apa kok," tapi mukanya cemberut dan bales chatnya singkat banget? Pasti kamu lebih percaya sama tanda nonverbalnya, kan? William I. Gorden (beliau sangat memahami hal ini) menyebutkan bahwa menyalurkan emosi lewat bahasna tubuh yang tepat justru bakal bikin hubungan sosial kamu makin sehat dan minim kesalahpahaman.
Capai Goals Kamu Pakai Komunikasi Instrumental
Kamu pengen ngebujuk temen-temen circle kamu buat nyobain kafe estetik yang baru buka? Atau kamu lagi presentasi ide kreatif di depan dosen? Nah, momen-momen ini butuh banget yang namanya skill komunikasi persuasif.
Fungsi instrumental ini emang fokus banget buat mengedukasi, menghibur, dan yang paling penting: memengaruhi orang lain. Komunkasi dalam konteks ini adalah alat utama buat mencapai target-target hebat dalam hidupmu. Coba deh intip tokoh-tokoh inspiratif dunia, salah satunya seperti BJ Habibie. Beliau sangat karismatik dan hebat dalam meyakinkan orang lain lewat tutur katanya yang tertata rapi. Gak cuma jago ngomong, beliau juga sangat menghargai seni mendengarkan, lho!
Bikin Circle Makin Solid dengan Komunikasi Sosial
Sebagai anak muda yang aktif, kita pastinya bukan tipe penyendiri yang suka mengisolasi diri. Manusia itu makhluk sosial sejati. Pakar komunikasi tanah air kita, Deddy Mulyana (beliau adalah sosok yang sangat dihormati di dunia akademik), pernah menyampaikan kalau tanpa adanya interaksi sejak dini, manusia bisa tumbuh menjadi pribadi yang liar dan sulit beradaptasi.
Lewat obrolan sehari-hari, kita juga lagi belajar tentang nilai dan budaya di sekitar kita. Tapi inget ya, karena tiap orang punya latar belakang budaya yang beda, kadang bisa memicu sedikit miskomunikasi. Misalnya, gaya bicara orang luar yang cenderung blak-blakan (low context) bisa aja bikin kaget temen-temen kita yang terbiasa dengan gaya bicara lembut dan penuh kiasan (high context). Di sinilah pentingnya memahami peran komunikasi sosial biar kita bisa saling menghargai vibe masing-masing.
Ngeritual Bareng Lewat Komunikasi Ritual
Pernah ikutan acara kelulusan sekolah, nonton konser bareng fans club, atau ikutan serunya kegiatan ospek di kampus baru? Kegiatan kolektif kayak gini sebenernya masuk ke dalam bentuk interaksi ritual, lho. Saat kamu gabung di acara-acara tersebut, kamu secara gak langsung lagi mendeklarasikan kalau kamu adalah bagian dari kelompok yang solid.
Deddy Mulyana (beliau kembali mengingatkan) bahwa dalam interaksi ritual, yang paling penting bukanlah seberapa megah acaranya, melainkan rasa kebersamaan, senasib sepenanggungan, dan kehangatan yang tercipta di dalamnya. Hal ini membuktikan kalau kita bukan robot yang cuma bergerak berdasarkan logika, melainkan manusia yang butuh rasa aman, ketenteraman, dan pengakuan di dalam sebuah komunitas. Makanya, yuk jaga terus hubungan baik dengan selalu menerapkan pentingnya komunikasi kelompok yang positif!