Lewati ke konten

Gak Cuma Nostalgia: Kenapa Motor Antik Bikin Kamu Pengen Ngegas & Koleksi!

Hey kamu! Pernah liat temen lo ngulik motor kuno sampai detail stripingnya, kayak lagi nonton drama? Bagi kebanyakan cowok, motor itu bukan cuma alat transportasi, melainkan bestie kedua yang bikin gaya makin keren. Nah, kalau udah ngomongin motor antik, ceritanya makin seru, karena tiap unitnya punya cerita, nilai, dan vibe yang nggak bisa diukur cuma pakai uang.

1. Legalitas Motor Kuno

Seringkali, pas komunitas motor kuno mau ngadain touring, mereka harus ngadepin urusan surat-surat. Kebanyakan motor produksi sebelum 1965 udah tidak ada surat resmi lagi, jadi pas mau melaju di jalan, harus siap-siap ngobrol sama polisi. Di Indonesia, legalitas ini masih jadi tantangan, apalagi kalau motor udah berpindah tangan berkali‑kali.

Salah satu pendiri komunitas di Yogyakarta ngaku kalau dokumen kendaraan lama sering “hilang” di era revolusi dulu. Makanya, banyak anggota komunitas motor kuno yang ngajuin permohonan ke DPRD DIY supaya pemerintah bantu urus legalitas. Meskipun terdengar ribet, bagi mereka yang cinta motor antik, semua effort itu worth it.

2. Komunitas Motor Kuno

Dari hobi yang sama, para penggemar mulai tuker‑tukeran info soal bengkel, sparepart, sampai spot nongkrong. Lama kelamaan, mereka bikin perkumpulan resmi. Di tiap kota besar ada yang namanya komunitas motor antik, entah itu berdiri sendiri atau cabang nasional.

Salah satu yang paling dikenal adalah Brotherhood di Bandung. Mereka khusus koleksi motor protesis Amerika & Eropa sebelum 1960‑an. Contohnya, motor BSA yang dibawa tentara sekutu ke Indonesia pas 1945. Pabrik BSA udah tutup sejak 1972, jadi suku cadangnya langka, tapi berkat jaringan Brotherhood, anggota masih bisa dapet sparepart dan jalan bareng.

Selain Brotherhood, ada juga Classic Motor Cycle (CMC) yang fokus ke motor protesis Jepang. Karena pabrik Jepang masih beroperasi, suku cadangnya lebih mudah dicari, jadi perawatannya relatif simpel dibanding motor Eropa.

3. Harga dan Usia Motor Antik

Kalau ngomongin harga motor antik, ada satu nama yang selalu muncul: Brough Superior 1929. Motor ini diproduksi oleh George Brough (beliau) di Nottingham, Inggris, dari 1919 sampai 1940. Mesinnya 1000 cc, bisa melaju sampai 161 km/jam, dan dijuluki “Rolls‑Royce‑nya motor”.

Di lelang internasional, satu unit Brough Superior 1929 laku dengan harga sekitar 286 ribuan poundsterling—setara lebih dari 4 miliar rupiah! Itu bikin motor ini jadi motor antik termahal di dunia, menyalip rekor sebelumnya yang dipegang Cyclone dengan 3,9 miliar.

Selain Brough, ada juga Pierce Four (APF) buatan Amerika tahun 1910‑1913. Mesinnya 4 silinder 4 HP, top speed 97 km/jam. Meskipun tidak secepat Brough, motor ini pernah menang gelar “Motor Kuno Terbaik” di Concorso d’Eleganza Villa d’Este, berkat desain dan orisinilitasnya.

Intinya, semakin langka motor, semakin tinggi harga motor antik melambung. Tapi buat kamu yang suka tantangan, nilai sentimental dan kebanggaan bisa jauh lebih berarti daripada sekadar angka di rekening.

Jadi, kalau kamu penasaran atau mau nyemplung ke dunia motor antik, gabung aja ke komunitas terdekat, cari tahu soal legalitas, dan siap‑siap jatuhin duit buat dapetin unit impian. Karena di balik tiap mesin tua, ada cerita yang siap kamu tulis sendiri.

Artikel Lain di Motor