Pernah nggak sih kamu mikir gimana jadinya kalau sekarang permpuan nggak boleh sekolah? Pasti mager banget kan kalau potensi kamu dibatasi cuma karena gender? Nah, untungnya kita punya sosok hebat yang memperjuangkan hak-hak ini. Di balik kemerdekaan Indonesia yang kita nikmati sekarang, ada banyka pahlawan yang jasanya nggak main-main. Salah satu yang paling berpengaruh adalah tokoh permpuan asal Jawa Barat yang super visioner. Yuk, kita kupas tuntas kisah inspiratif beliau!
1. Jatuh Bangun Merintis Sekolah Perempuan Pertama
Perjuangan beliau nggak cuma modal nekat, tapi pakai strategi yang matang lewat jalur pendidikan kaum wanita. Di tahun 1904, setelah dapat lampu hijau dari Bupati R.A Martanegara, beliau resmi membuka Sakola Istri pertama se-Hindia Belanda. Gokil, kan? Awalnya, muridnya cuma 20 orang dan minjam ruangan pendopo kabupaten Bandung.
Karena peminatnya makin membludak, di tahun 1905 sekolha ini pindah ke Jalan Ciguriang buat nambah kelas. Kerennya lagi, tanahnya dibeli pakai uang pribadi beliau plus bantuan donasi dari Bupati Bandung. Support system beliau makin lengkap setelah menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata di tahun 1906. Suami beliau yang juga seorang guru ini punya visi yang sejalan, jadi mereka bahu-membahu ngembangin sekolah ini biar makin hits di kalangan masyarakat kala itu.
2. Masa Muda sang Visioner yang Out of the Box
Sekarang, mari kita flashback ke masa kecil beliau. Lahir di keluarga bangsawan Sunda pada 4 Desember 1884 dari pasangan Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somagara, beliau beruntung bisa mencicipi sekolah Belanda. Padahal waktu itu, keputusan ortu beliau sempat didebat karena dianggap menabrak adat.
Sejak kecil, bakat mengajar beliau emang udah kelihatan menonjol banget. Waktu tinggal bareng pamannya di Cicalengka, beliau sering banget main sekolah-sekolahan sama anak-anak pembantu kepatihan. Pakai pecahan genting dan arang, beliau mengajari mereka cara membaca, menulis, bahkan bahasa Belanda! Hal ini sempat bikin heboh warga sekitar karena waktu itu belum ada rakyat jelata yang bisa bahasa Belanda, apalagi yang ngajarin anak permpuan umur 10 tahun. Jiwa tokoh pahlawan nasional beliau emang udah kelihatan sejak dini!
3. Warisan Abadi dan Akhir Perjalanan sang Pionir
Perkembangan sekolah rintisan beliau melesat tajam. Pada tahun 1914, namanya berganti jadi Sakola Kautamaan Istri dan cabangnya udah menyebar ke hampir seluruh kabupaten di Bandung, bahkan sampai ke Bukittinggi! Atas dedikasi luar biasa ini, pemerintah Hindia Belanda sampai memberikan bintang jasa kepada beliau sebagai bentuk apresiasi.
Setelah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemajuan bangsa, beliau mengembuskan napas terakhir pada usia 62 tahun, tepatnya tanggal 11 September 1947 di Tasikmalaya. Awalnya dimakamkan secara sederhana di Cineam, tapi pada tahun 1950, makam beliau dipindahkan ke Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar. Perjuangan beliau dalam sejarah perjuangan perempuan bakal selalu membekas dan menginspirasi kita semua untuk terus maju mengejar mimpi!