Karya Chairil Anwar: Dari Puisi Saduran Sampai Prosa Terjemahan yang Bikin Kamu Terpukau
Daftar Isi
Yo, generasi muda! Siapa sih yang nggak kenal Chairil Anwar? Penyair legendaris ini bukan cuma jago nulis puisi orisinil, tapi juga puisi saduran dan prosa terjemahan yang keren abis. Yuk, intip lagi‑lagi karya‑karyanya yang masih hits sampai sekarang, pake bahasa yang lebih santai dan asik.
Prosa Chairil Anwar yang Bikin Penasaran
- Pidato Chairil Anwar – Disampaikan di depan Angkatan Baru Pusat Kebudayaan tanggal 7 Juli 1943.
- Berhadapan Mata – Surat yang dimuat di harian Pemandangan 28 Agustus 1943, bagian awal korespondensi antara Chairil dan H.B. Jassin sebelum sensor Jepang.
- Maar Ik Wil Stil Zijn – Prosa liris berbahasa Belanda yang nunjukin sisi multibahasa sang sastrawan.
- Hoppla! – Sebuah karya pendek yang penuh energi.
- Tiga Muka Satu Pokok – Eksperimen struktur yang unik.
- Pidato Radio 1946 – Dari delapan rencana, cuma satu yang sempet disiarkan, tapi tetap jadi jejak sejarah.
- Membuat Sajak, Melihat Lukisan & Membaca Sajak, Melihat Lukisan – Dua esai yang ngulik hubungan antara puisi dan visual.
Puisi Saduran yang Bikin Mata Terbuka
- Kepada Peminta‑Minta – Adaptasi dari puisi Willem Elsschot “Tot den Arme”.
- Krawang‑Bekasi (kenang, Kenanglah Kami) – Diambil dari “The Young Dead Soldiers” karya MacLeish, pertama muncul di MI Th. II No. 47 (20 Nov 1948).
- (Kelam dan Angin Lalu Mempesiang Diriku)
- Kenang, Kenanglah Kami
Puisi Terjemahan yang Bikin Baper
- Hari Akhir Olanda di Jawa – Terjemahan Max Havelaar karya Multatuli.
- Somewhere, P.P.C, Mirliton – Semua dari E. Du Perron.
- Musim Gugur & Jenak Berbenar – Dari R.M. Rilke.
- Huesca & (Jiwa di Global Yang Hilang Jiwa) – Karya John Cornford.
- Datang Dara Hilang Dara – Aslinya “A Song of The Sea” oleh Hsu Chih‑Mo, dulu disangka orisinil.
- Fragmen – Terjemahan bebas puisi Conrad Aiken.
- Lagu Orang Usiran – Dari W.H. Auden.
- (Aku Pergi ke Satu Pantai)
- (Biar Malam Kini Lalu) – Juga terjemahan Auden.
Prosa Terjemahan yang Bikin Pikir Dua Kali
- Kena Gempur – Adaptasi cerita John Steinbeck.
- Raid – Cerita singkat yang penuh ketegangan.
- Pulang Dia si Anak Hilang – Dari Andre Gide “Le Retour de l’Enfant Prodigue”.
- Beberapa Surat dan Sajak R.M Rilke – Tiga surat + dua puisi terjemahan.
- Tempat nan Higienis dan Lampunya Terang – Terjemahan Hemingway “A Clean, Well‑Lighted Place”.
Kenapa Karya sastra Chairil Anwar Gak Pernah Mati?
Chairil Anwar lahir 26 Juli 1922 di Medan, meninggal 28 April 1949 di Jakarta karena sakit. Meskipun hidupnya singkat, jejaknya nggak pernah pudar. Ia adalah pelopor Angkatan ’45, bareng Asrul Sani dan Rivai Apin, yang ngerombak banget cara nulis puisi Indonesia.
Gaya bahasanya bebas, anti‑bunga‑bunga, dan penuh pemberontakan. Karena itu, kritikus bilang karya‑karyanya lebih ngedepain isi daripada bentuk. Di era pendudukan Jepang, Chairil baru 20 tahun, penuh semangat dan idealisme, jadi wajar kalau puisi‑puisinya berapi‑api.
Contohnya puisi Aku yang terkenal:
Aku Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tidak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu‑sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan dapat kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan saya akan lebih tak perduli Aku mau hayati seribu tahun lagi
Puisi ini nunjukin betapa bahasa bebas Chairil bisa nyampein gejolak batin yang kuat.
Beberapa pengamat nyebut pengaruh sastrawan Belanda kayak Marsman dan Slauerhoff. Tapi itu wajar, bukan plagiasi. Justru ngasih warna baru di dunia sastra Indonesia.
H.B. Jassin, yang dijuluki “Paus Sastra Indonesia”, pernah bilang, “Chairil menulis ‘Aku’ di usia 20 tahun, lalu enam tahun kemudian dipanggil Tuhan. Takdir memang ngga bisa dilawan!”
Walau hidupnya singkat, karya Chairil Anwar tetap hidup di hati pelajar SD, mahasiswa sastra, sampai ke panggung lomba baca puisi dan peringatan HUT Kemerdekaan. Kajian akademis terus mengalir, dari esai sampai disertasi.
Jadi, kalau kamu lagi nyari inspirasi atau sekedar mau ngerasain vibe sastra yang kekinian, jangan ragu selami lagi karya‑karya Chairil. Siapa tau, kamu bakal nemuin bagian diri yang belum pernah terungkap sebelumnya.