Hai kamu! Siap-siap deh buat ngulik Sejarah Candi Borobudur yang legendaris ini dengan gaya yang santai tapi tetap informatif. Yuk, intip cerita-cerita seru di balik megahnya candi Buddha terbesar di Indonesia ini.
1. Proses pembangunan Candi Borobudur yang Bikin Penasaran
Bangunan megah ini dibangun dari batu sungai alami yang diambil sekitar area. Totalnya ada 55.000 meter kubik batu, cukup buat bikin struktur setinggi 42 meter dengan dasar lebar 118 meter. Meskipun batu‑batu itu “basi” karena umur ribuan tahun, kekuatannya tetap top!
Setelah semua batu disusun, tim pembangun menambahkan 2.670 relief yang menceritakan kisah‑kisah epik seperti Ramayana. Kamu bisa “jalan‑jalan” mengelilingi relief ini searah jarum jam, mulai dari pintu masuk timur, buat dapet vibe spiritual yang kuat.
Bangunan dibagi menjadi empat tingkatan: Kamadhatu (dasar), Rupadhatu (tiga tingkat berikutnya), Arupadhatu, dan Arupa di puncak yang melambangkan nirwana. Setiap lapisan ngasih pelajaran tentang perjalanan spiritual manusia.
2. Mengenal Asal‑Usul nama Borobudur yang Penuh Makna
Berbagai pakar punya teori soal asal‑usul nama “Borobudur”. Prof. Dr. Poerbotjoroko berpendapat bahwa “Boro” berasal dari bhoro (biara) dan “budur” berarti “di atas”. Jadi, nama Borobudur bisa diartikan “biara di atas bukit”.
Prof. Dr. W.F. Stutterheim menegaskan arti yang mirip: “biara di atas bukit”. Sementara Prof. J. G. De Casparis menyebutkan kata bhumisambharabudhara yang berarti “tempat pemujaan arwah nenek moyang”. Ada juga teori Drs. Soediman yang menggabungkan kata “Bara” (vihara) dan “Budur” (di atas), jadi artinya “asrama atau vihara di atas bukit”. Semua versi ini nunjukin betapa dalamnya makna spiritual candi ini.
3. Jejak Sejarah Candi Borobudur yang Keren
Menurut Prasasti Karang Tengah, pembangunan dimulai sekitar tahun 824 M oleh Raja Samaratungga. Beliau adalah raja dari Dinasti Syailendra yang memimpin kerajaan Mataram Antik. Pembangunan selesai pada 847 M dengan bantuan putri beliau, Dyah Ayu Pramodhawardhani.
Prasasti lain seperti Prasasti Klurak menyebutkan bantuan guru dari Bengalore bernama Ghandadwipa dan pangeran Kashmir bernama Visvawarma. Sedangkan Prasasti Sri Kahulunan (842 M) menegaskan candi dibangun untuk agama Buddha Mahayana.
Setelah abad ke‑19, tokoh Barat juga ikut terlibat. Thomas Stamford Raffles (yang dikenal juga karena menemukan kembang bangkai di Aceh) mengirim insinyur Belanda, Cornelius, buat membersihkan semak‑semak yang menutupi candi. Pada tahun 1835, seluruh bagian candi berhasil digali, dan selanjutnya dokumentasi foto serta gambar relief dilakukan oleh Wilsen (1849) dan Van Kinsbergen (1873). Semua upaya ini membantu melestarikan Sejarah Candi Borobudur hingga kini.
- Raja Samaratungga – beliau memulai proyek megah ini.
- Dyah Ayu Pramodhawardhani – beliau menyelesaikan pembangunan.
- Ghandadwipa & Visvawarma – beliau berperan sebagai penasihat arsitektur.
- Thomas Stamford Raffles – beliau memicu upaya restorasi modern.
- Cornelius, Hartman, Wilsen, Van Kinsbergen – beliau semua berkontribusi dalam dokumentasi.
Jadi, selain jadi ikon wisata, Borobudur juga jadi simbol kebanggaan budaya Indonesia. Dengan menjaga estetika alam sekitar dan melestarikan Sejarah Candi Borobudur, kita semua punya peran penting dalam melestarikan warisan ini untuk generasi selanjutnya.