Pernah nggak sih kamu merasa jenuh sama bisingnya algoritma media sosial yang isinya gitu-gitu aja? Kadang, jiwa muda kita tuh butuh asupan yang menenangkan tapi tetep keren. Nah, salah satu caranya adalah dengan melakukan apresiasi puisi bertema spiritual. Puisi religi itu bukan cuma barisan kata-kata biasa, tapi punya kekuatan magis yang bisa bikin kamu refleksi diri tanpa merasa digurui, lho.
1. Makna Mendalam di Balik Estetika Kata-kata Indah
Pernah denger istilah dulce et utile dari penyair klasik Horatio? Artinya indah sekaligus berguna, guys! Konsep ini pas banget buat ngegambarin makna puisi religi yang sesungguhnya. Puisi jenis ini nggak cuma mengutamakan estetika bahasa yang estetik, tapi juga membawa nilai kehidupan yang dalem banget buat kerohanian kita. Melalui perenungan kata-kata, kita diajak buat melihat kembali hubungan kita dengan Sang Pencipta.
Sebagai contoh nyata, mari kita bedah karya dari Mamik Wijayanti, seorang akademisi sastra dari Universitas Airlangga. Beliau salalu berhasil menyajikan puisi yang bikin pembacanya langsung mikir keras tapi tetep dapet ketenangannya. Coba deh kamu resapi salah satu puisi karya beliau yang menajdi refleksi diri berikut ini:
Refleksi
Tuhan mengatakan banyak nan dipanggil, sedikit nan dipilih
Bukankah sekarang juga banyak nan ditanya, sedikit nan menjawab
Banyak nan melihat, sedikit nan sadar
Banyak nan mendengar, sedikit nan melakukan
Banyak nan berjalan, sedikit nan lurus
Banyak nan percaya, sedikit nan mengimani
Banyak nan taat, sedikit nan tekun
Banyak nan kaya, sedikit nan mau berbagi
Banyak nan tahu Tuhan, sedikit nan takut
Banyak nan menderita, sedikit nan bertahan
Banyak nan tahu kasih, sedikit nan sungguh
Banyak nan memuji, sedikit nan tulus
Banyak nan membaca firman, sedikit nan dipraktikkan
Lalu masuk di manakah engkau nan mengaku sebagai anak Tuhan
(Surabaya, 2012)
Puisi di atas minim metafora yang rumit, tapi maknanya nembus langsung ke hati. Melalui pengulangan kata "banyak" dan "sedikit", beliau seolah membandingkan kenyataan hidup kita. Banyak orang yang merasa sudah di jalan yang benar, tapi apakah aslinya memang begitu? Ini bener-bener jadi bahan introspeksi yang sehat buat kesehatan mental dan spiritual kamu.
Satu lagi karya keren dari beliau yang nggak kalah menginspirasi:
Bersatulah Orang-Orang Benar
Kami berseru di tengah gersangnya pemikiran
Kami kumpulkan kegelisahan ini
Kami nobatkan
Engkau sebagai pengobat dahaga kegelisahan
Dunia makin menajamkan pisau dosa
Bersatulah orang-orang benarkumpulkan
Kebenaran sebagai bukti masih adanya Tuhan
Biarkan mulut nan mengaum menangkap angin
Dan mulut nan memuji menangkap amin
Bersatulah orang-orang benar
Di tengah tarian hayati dengan jeram jarum
Tak guna bibir menguap jika tidak ada kebenaran di sana
(Kediri, 2012)
Lewat bait-bait di atas, beliau berpesan agar orang-orang baik tidak mudah goyah oleh kerasnya tantangan zaman. Kalimat "mulut nan memuji menangkap amin" ngingetin kita bahaw hidup yang dijalani dengan kebaikan pasti akan membawa jaminan kedamaian sejati.
2. Sosok Hebat Penyair Religi Lintas Keyakinan di Indonesia
Di Indoneisa, kita punya banyak banget tokoh hebat yang produktif melahirkan karya sastra indonesia bernapas spiritual. Menariknya, karya-karya ini lahir dari para tokoh yang emang mendedikasikan hidupnya dekat dengan dunia religi. Jadi, vibes yang tersampaikan itu kerasa tulus dan jujur banget.
Dari kalangan Islam, kita pasti akrab dengan nama besar seperti Kiai Haji Mustofa Bisri atau Gus Mus, serta budayawan kondang Cak Nun. Beliau-beliau ini super kreatif dalam menyebarkan pesan kedamaian lewat tulisan yang santai tapi ngena. Dari kalangan Katolik, ada Rama Sindhu yang sangat legendaris dengan novelnya "Anak Bajang Menggiring Angin". Sementara dari Bali, ada Ida Pedanda Made Sidemen, seorang pendeta Hindu sekaligus seniman besar yang sangat dihormati karena karya-karyanya yang sarat nilai kehidupan. Keberagaman tokoh ini membuktikan bahwa spiritualitas lewat seni itu sifatnya universal dan menyatukan kita semua.
3. Kritik Sosial yang Adem Lewat Karya Gus Mus
Sekarang, mari kita ngobrolin sosok Gus Mus. Beliau adalah seorang kiai, budayawan, sekaligus sastrawan yang gayanya nyentrik dan ramah banget sama anak muda. Sebagai pengasuh pesatren, beliau tidak memilih jalan yang kaku dalam berdakwah. Beliau justru lebih suka menanamkan nilai-nilai kasih sayang dan kemanusiaan lewat bait-bait puisi yang segar.
Gaya penulisan beliau memnag lugas, jenaka, tapi sekaligus tajam meruntuhkan kesombongan manusia. Coba deh kamu baca salah satu karya epik beliau berikut ini:
Sajak Atas Nama
Ada nan atas nama Tuhan melecehkan Tuhan
Ada nan atas nama negara merampok negara
Ada nan atas nama rakyat menindas rakyat
Ada nan atas nama humanisme memangsa manusia
Ada nan atas nama keadilan meruntuhkan keadilan
Ada nan atas nama persatuan merusak persatuan
Ada nan atas nama perdamaian mengusik kedamaian
Ada nan atas nama kemerdekaan memasung kemerdekaan
Maka atas nama apa saja atau siapa saja kirimlah laknat kalian
Atau atas namaKu perangilah mereka!
Dengan kasih sayang!
(Rembang, 1997)
Keren banget, kan? Puisi ini ngingetin kita supaya nggak gampang memanipulasi hal-hal baik demi kepentingan pribadi. Kritik sosialnya dapet banget, tapi ditutup dengan pesan yang sangat teduh: "Dengan kasih sayang!".
Berikutnya, ada karya beliau yang sangat populer dan relate banget sama fenomena sosial masa kini:
Ada Apa dengan Kalian
Kalian sibuk mengujarkan dan mengajarkan kalimat syahadat
Sambil terus mensekutukan diri kalian dengan Tuhan penuh semangat
Berjihad di jalan kalian
Berjuang menegakkan syariat kalian
Memerangi hamba-hamba-Nya nan seharusnya kalian ajak ke jalanNya
Seolah oleh kalian belum tahu bedanya
Antara mengajak nan diperintahkanNya
Dan memaksa nan dilarang-Nya
Kalian kibarkan Rasulurrahmah AL-Amin mana
Sambil menerbarkan laknatan lil’aalamien mana
Ada apa dengan kalian
Mulut kalian berbuih akhirat
Kepala kalian loka global nan kalian anggap nikmat
Ada apa dengan kalian?
Kalian bersemangat membangun masjid dan musala
Tapi malas memakmurkannya
Kalian bangga menjadi panitia zakat dan infak
Seolah-olah kalian nan berzakat dan berinfak
Kalian berniat puasa di malam hari
Dan iman kalian ngeri
Melihat warung buka di siang hari
Kalian setiap tahun pergi umrah dan haji
Tapi kalian masih terus tega berlaku keji
Ada apa dengan kalian?
Demi menjaga tubuh dan perut kaum beriman dari virus keharaman
Kalian teliti dengan cermat semua barang dan makanan
Bumbu penyedap, mie, minyak, sabun, jajanan
Rokok dan berbagai jenis minuman
Alkohol, minyak babi dan nikotin ialah najis dan setan
Yang mesti dibasmi dari kehidupan
Untuk itu kalian
Tidak hanya berkhotbah dan memasang iklan
Bahkan menyaingi pemerintah kalian
Menarik pajak produksi dan penjualan dan agar terkesan sakral
Kalian gunakan sebutan mulia, label halal
Tapi agaknya kalian melupakan setan nan lebih setan
Najis nan lebih menjijikkan
Virus nan lebih mematikan
Daripada virus alkohol, nikotn dan minyak babi
Bahkan lebih merajalela daripada epidemi
Bila sebab merusak kesehatan, roko kalian benci
Mengapa kalian diamkan korupsi nan merusak nurani
Bila sebab memabokkan, alkohol kalian perangi
Mengapa kalian biarkan korupsi
Yang kadar memabokkannya jauh lebih tinggi?
Bila sebab najis, babi kalian musuhi
Mengapa kalian abaikan korupsi
Yang lebih menjijikkanketimbang kotoran seribu babi
Ada apa dengan kalian
Kapan kalian berhenti membangun kandang-kandang babi
Di perut dan hati kalian dengan merusak kanan-kiri?
Sampai kalian wafat dan dilaknati?
Melalui puisi ini, beliau mengajak kita semua untuk tidak terjebak pada formalitas belaka. Beragama dan berspiritual itu harus seimbang antara ritual dan perilaku sosial nyata di kehidupan sehari-hari.
Membaca satstra spiritual kayak gini di sela-sela kesibukan kamu dijamin bisa jadi oase yang menyegarkan pikiran. Jadi, puisi religi mana nih yang paling relate sama kehidupan kamu sekarang?