Hai kamu! Pernah nggak sih ngebayangin kalau dulu televisi di Indonesia cuma satu, Televisi Republik Indonesia alias TVRI, yang ngasih hiburan sekaligus info buat seluruh negeri? Sekarang, meski udah banyak stasiun lain, TVRI tetap jadi “pahlawan” yang nyebarin persatuan dan semangat baru buat semua. Yuk, intip perjalanan serunya!
1. Ragam Tayangan Legendaris yang Masih Bikin Nostalgic
Selama era 80‑an sampai 90‑an, TVRI jadi satu-satunya pilihan buat nonton acara yang “bikin hati hangat”. Beberapa program ikonik masih diingat sampai sekarang:
- “Berpacu dalam Melodi” – kuis musik yang dipandu Koes Hendratmo, nyanyiin lagu‑lagu klasik 1950‑an sampai 80‑an. Program ini sempat “re‑boot” di MetroTV tahun 2000‑2005.
- “Si Unyil” – serial boneka yang ngasih cerita ringan tentang Unyil, Ucrit, dan Usro. Dari TVRI ke RCTI, terus ke TPI (sekarang MnC TV), dan kini hadir lagi di Trans7 dengan format yang lebih edukatif.
- “Oshin” – drama Jepang yang ngangkat kisah hidup Shin Tanokura. Ditayangkan pertama kali di TVRI 1983‑84, serial ini sempat diputar ulang di stasiun lain, tapi kenangan nontonnya tetap kuat di hati penonton Indonesia.
2. Misi & Motto yang Selalu Menginspirasi
Sejak dulu, TVRI punya motto “Menjalin Persatuan dan Kesatuan”. Seiring waktu, motto itu diupdate jadi “Saluran Pemersatu Bangsa dan Semangat Baru”. Jadi, setiap program yang keluar, baik berita, hiburan, atau edukasi, selalu diusahain buat nyatuin seluruh rakyat Indonesia. Kekuatan ini yang bikin TVRI tetap relevan meski kompetisi makin ketat.
3. Jejak Sejarah TVRI yang Menggugah
Pada 1961, pemerintah udah mikir buat bikin stasiun televisi sendiri demi meramaikan Asian Games IV di Jakarta. Soekarno, presiden saat itu, perintahkan pembangunan studio di Senayan. Hasilnya? TVRI resmi mengudara 23 Agustus 1962 dengan siaran hitam‑putih, menyiarkan upacara kemerdekaan ke‑17. Awalnya, tayangan masih sederhana, tapi cepat berkembang.
Beberapa momen penting:
- 1963: TVRI menyiarkan balapan Formula Satu pertama di Indonesia.
- 1966: Siaran pertandingan Piala Dunia (England vs Jerman Barat) yang bikin penonton heboh.
- 1974: TVRI berada di bawah Departemen Penerangan, memperluas peran sebagai penyampai informasi pemerintah.
- 1990‑an: Munculnya stasiun swasta seperti RCTI dan SCTV, mulai “nggoyang” monopoli TVRI.
- 2000: TVRI berubah jadi Perusahaan Jawatan, kemudian menjadi Perseroan Terbatas (PT) di bawah Kementerian BUMN.
Saat ini, TVRI udah punya 27 stasiun daerah dengan 376 transmisi, menjangkau seluruh pelosok Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Karyawan dan penontonnya terus bertambah, bikin TVRI makin kuat dalam kontribusinya membangun bangsa.
4. Pengaruh TVRI di Era Digital
Walaupun teknologi udah maju pesat, TVRI tetap adaptif. Platform digitalnya kini meliputi streaming online, aplikasi mobile, dan media sosial. Jadi, kamu yang suka nonton lewat HP atau laptop tetap bisa menikmati konten TVRI tanpa harus nunggu sinyal TV konvensional.
Dengan semangat “Semangat Baru”, TVRI terus berinovasi, menggabungkan konten tradisional dengan format modern yang cocok buat generasi milenial dan Gen‑Z. Jadi, tetap stay tuned, ya!