Madinah munawwarah Sebagai Puncak Peradaban Islam

Madinah munawwarah Sebagai Puncak Peradaban Islam

Kejayaan Islam telah dimulai dengan gemilang sejak masa awal kedatangan agama ilahiyah ini. Meskipun pertama kali dakwah nan dijalankan oleh Nabi SAW beserta para shahabat menemui rintangan nan sangat sulit. Dengan kesabaran dan semangat juang luar biasa dari generasi awal Islam ini, beberapa tahun setelah turun agama tauhid ini mampu bertransformasi menjadi sebuah ideology peradaban nan tinggi.

Bangsa arab semula tak mendapatkan perhitungan oleh negara-negara besar di sekitarnya. Setelah bangsa ini menerima Islam dan menjunjungnya sebagai etos maka bangsa arab menjadi sebuah kekuatan nan mampu menaklukkan negara adidaya di abad 6 masehi. Menurut sirah nabawiyah nan ditulis oleh Ibny Hisyam bahwa Nabi Muhammad telah membuka seluruh wilayah jazirah arab saat beliau memimpin. Dengan terbukanya sebuah wilayah bagi masuknya Islam, mendorong manusia setempat melihat langsung cahaya nan dipancarkan oleh peradaban nan bersumber pada tauhid ini.



Peradaban Madinah Munawwarah

Ketika Anda berkeinginan buat mempelajari peradaban Islam pada masa Nabi Muhammad , maka surat keterangan wajib nan harus Anda kaji ialah peradaban Madinah munawwarah. Sama sekali tak hiperbola apabila dikatakan bahwa peradaban Madinah munawwarah ialah puncak peradaban islam di sepanjang sejarahnya. Dan bahkan apabila Anda seorang muslim, Anda bisa menganggapnya sebagai peradaban paling tinggi nan pernah ada di global ini.

Madinah nan sebelumnya bernama kota Yasrib ialah kota nan didiami oleh berbagai elemen kabilah dan kepercayaan. Di kota ini awalnya berada kepercayaan orang-orang musyrik arab, pemeluk agama nasrani, pemeluk agama yahudi dan beberapa agama lainnya. Yasrib merupakan kota dengan kaum Aus dan Khazraj nan saling bermusuhan dan memendam dendam. Islam nan dibawa oleh Rasulullah mengubah kota ini menjadi kota nan penuh dengan kedamaian. Pemeluk agama selain Islam tak akan dipaksa berpindah keyakinan. Mereka non muslim atau biasa disebut sebagai pakar jizyah ialah warga peradaban madinah nan diakui keberdaannya. Harta, jiwa, kehormatan, dan kebutuhannya akan dijaga dan dipenuhi oleh kaum muslimin.

Peradaban madinah ialah sebuah peradaban nan bertitik tolak dari akidah Islamiyah. Anggaran nan berlaku di wilayah ini berasal dari Allah dan Rasulnya. Dengan begitu perselisihan diantara anggota masyarakat bisa diselesaikan dengan adil dan bijaksana. Islam tak membeda-bedakan orang dalam penegakan keadilan, pernah suatu saat Nabi SAW bersabda tentang hokum qishas juga berlaku bagi keluarganya nan melanggar anggaran berlaku.



Pengertian Madinah munawwarah

Madinah ialah salah satu kota nan terletak di Arab Saudi, di samping Makkah. Secara geografis, Madinah dikelilingi oleh gunung dan bukit sekaligus berada di dataran tinggi Nejd dan wilayah pantai Tihamath. Kata Madinah mempunyai akar kata nan sama dengan kata din , yakni kedua kata tersebut berasal dari tiga huruf, dal-yaf-nun.

Sedangkan munawwarah berasal dari kata nur nan memiliki arti cahaya. Sebagai tambahan, makna nan terkandung di dalam cahaya berbeda dengan makna nan dikandung di dalam kata sinar. Sinar bersumber langsung dari zat nan memancarkannya sementara cahaya merupakan pantulan dari sinar nan mengenai suatu obyek tertentu.

Itulah mengapa, matahari dikatakan sebagai benda nan bersinar dan bulan sebagai benda nan bercahaya (bulan memantulkan sinar matahari nan bisa dilihat dari bumi).

Oleh sebab itu, secara implisit Madinah munawwarah menunjukkan pengertian pada suatu loka nan penduduknya memiliki pola hayati tunduk dan patuh kepada Allah SWT dengan berpedoman pada Al Quran.

Pada surat Al Baqarah ayat 257, disebutkan bahwa Allah, dengan Al Quran, mengantarkan kehidupan orang nan beriman dari kegelapan menuju kehidupan nan terang benderang. Maka, peradaban nan sukses dilandaskan pada Al Quran seperti halnya Madinah di masa Nabi Muhammad disebut sebagai Madinah nan bercahaya, yaitu Madinah nan memantulkan sinar dari Ilmu Allah.



Madinah munawwarah Sebagai Puncak Peradaban Islam

Peradaban Islam pada masa Nabi Muhammad ialah satu peradaban nan berada langsung di bawah bimbingan dan kontrol Nabi Muhammad. Di sana, Al Quran benar-benar dijadikan sebagai panduan dan Islam menjadi tatanan hayati nan dipatuhi.

Apabila Anda ingin membuat kue manis nan Anda belum tahu bagaimana cara membuatnya, maka absolut Anda memerlukan panduan membuat kue tersebut. Jika Anda mematuhi panduan tersebut, tentulah kue nan Anda untuk akan betul terasa manis, dan bukannya hambar apalagi masam.

Begitu pulalah Madinah munawwarah nan telah mencerminkan kehidupan berkualitas tinggi, atau kue manis dalam analogi di atas. Berikut ialah sebagian kecil dari peradaban Islam di masa Nabi Muhammad. Yakni ketika Beliau menjadi pemimpin di Madinah munawwarah :

1. Sistem persamaan

Semua orang baik muslim maupun non muslim mempunyai kedudukan nan sama di depan hukum. Nabi Muhammad mengharuskan rakyatnya buat saling membantu dan tak diperkenankan seorang pun memperlakukan dan atau diperlakukan buruk.

Di dalam pasal enam belas dari Piagam Madinah, disebutkan bahwa siapapun orang Yahudi nan ingin bergabung dalam pemerintahan Nabi Muhammad berhak buat mendapatkan donasi dan persamaan hak, mereka tak boleh diperlakukan secara buruk. Namun secara logis, mereka dilarang memberikan donasi pada musuh Nabi Muhammad.

2. Persaudaraan sesama orang beriman

Sepertinya Anda sudah tak asing lagi dengan betapa erat interaksi persaudaraan nan dijalin antara kaum muhajirin dan kaum anshar. Kaum muhajirin ialah kaum nan berasal dari Makkah, mereka bersama Nabi Muhammad melakukan hijrah ke Madinah sebab tekanan nan kuat dari musuh-musuh Islam di Makkah.

Sedangkan kaum Anshar ialah kaum di Madinah nan menyambut dengan suka cita kedatangan kaum Muhajirin dan Rasulullah. Sebelum kedatangan Nabi Muhammad buat memimpin Madinah, Madinah dikenal sebagai daerah nan penuh dengan perpecahan dan kekacauan nan terjadi antara kaum aus, kaum hazraj, dan beberapa kaum Yahudi di dalamnya.

3. Hayati sederhana

Meskipun Nabi Muhammad mendapatkan posisi nan sangat terhormat di tengah penduduk Madinah, Beliau sama sekali tak memanfaatkannya demi kepentingan pribadi. Hayati Beliau tetaplah hayati nan penuh dengan kesederhanaan.

Rumah, pakaian, kendaraan, dan makanan Beliau tak lebih bagus dan mungkin jauh lebih jelek dari pada rumah, pakaian, kendaraan, dan makanan nan dimliki oleh rakyatnya.

Rasulullah bukan kekurangan harta, Allah nan Maha Kaya nan menjamin Beliau. Rasulullah ialah manusia nan paling cepat dalam bersedekah dan memenuhi kebutuhan orang-orang di sekitarnya. Baik itu waktu siang ataupun malam, beliau selalu memperhatikan kepentingan manusia dan membantu mereka bila kesusahan.

Ada sebuah kisah bagaimana Rasulullah begitu sayang terhadap ummatnya. Setelah Nabi SAW wafat, A'isyah RA mengumpulkan para shahabat buat menyampai sesuatu nan penting. A'isyah mengungkapkan bahwa Rasulullah setiap pagi pergi ke sebuah loka di pasar buat memberikan makanan kepada seseorang nan membutuhkan. Maka isteri Nabi ini menanyakan kepada para shahabat, siapa nan di antara mereka sanggup menggantikan Beliau buat memberikan makanan kepada orang tersebut.

Maka majulah Umar bin Khattab buat menawarkan diri. Di esok harinya Umar pergi ke pasar dan menemui orang nan dimaksud oleh A'isyah. Segeralah Umar mendapati orang tersebut ternyata seseorang nan buta. Diberikanlah roti nan dibawa kepada orang tesebut. Namun orang buta ini terbiasa disuapi oleh Rasulullah waktu Beliau masih hidup. Umar pun menyuapi orang ini. Betapa kagetnya Umar ternyata orang buta ini marah dan berkata kepada Umar, apakah kamu telah terpengaruh oleh seseorang nan bernama Muhammad? Biasanya engkau menyuapi saya dengan sangat baik, roti engkau suapi sangat lembut dan tak tergesa-gesa seperti sekarang. Namun sekarang seperti ini, ini niscaya salah Muhammad.

Umar bin Khattab pun menangis tersedu-sedu sebab teringat akan lembutnya beliau dalam menyayangi umatnya. Meskipun orang buta ini ialah orang nan membenci Beliau, Nabi tak mengungkapkan siapa Beliau sebenarnya tetapi terus memperhatikan dan menyuapi orang buta tersebut dengan sangat lembut penuh cinta kasih di setiap pagi nan dingin. Umar setelah bangkit dari rasa rindunya, mengungkapkan kepada orang buta nan kafir tersebut bahwa orang nan dahulu selalu mendatangi dan menyuapinya ialah Nabi Muhammad. Tak pelak sang buta pun juga bercucuran air mata dan menyatakan dirinya masuk agama Islam tanpa ragu.

Dan apabila Anda menghayati betapa Rasul telah sukses menuju puncak peradaban Islam di Madinah, kemudian Anda membandingkannya dengan peradaban dan kepemimpin di negara kita tercinta saat ini, tak mengherankan jika mata Anda akan menggenangkan air mata sebab haru.