Lewati ke konten

Bukan Sekadar Hidup, Ini Alasan Kenapa Kamu Terlahir Jadi 'CEO' Bumi!

Pernah nggak sih kamu mikir pas lagi bengong, buat apa sih kita ada di dunia ini? Ternyata, Tuhan bener-bner nggak main-main pas nyiptain kita, lho. Di dalam Al-Qur'an surah Al-Mu’minun ayat 115, kita diingatkan dengan lembut tapi mendalam banget tentang tujuan hidup manusia yang sesungguhnya. Kita semua didesain buat jadi sosok pemimpin hebat yang membawa vibes positif di bumi ini.

1. Vibes Pemimpin Bumi dan Tanggung Jawab Keren Kita

Sebagai makhluk dengan bentuk fisik dan psikologis terbaik, kita dikasih privilese yang sngat luar biasa dibanding makhluk lainnya. Allah memilih manusia buat menjadi perwakilan-Nya di bumi. Tapi tenang, peran ini bukan berarti kita mengambil alih kekuasaan-Nya, melainkan kita dipercaya buat menjaga kestabilan alam raya ini sesuai dengan aturan-Nya yang penuh kedamaian.

Dulu tuh, para malaikat sempat ragu dan bertanya-tanya, kenapa manusia yang dipilih? Apalagi manusia berpotensi bikin kerusakan. Tapi Allah menegaskan kalau Beliau lebih mengetahui segala hal yang tidak diketahui oleh makhluk lainnya. Kerennya lagi, tugas sebagai pemimpin ini sempat ditawarkan ke langit, bumi, hingga gunung-gunung yang kokoh. Namun, mereka semua merasa ciut dan memilih mundur karena takut tidak mampu mengembannya. Cuma manusia yang dengan berani menerima tantangan hebat ini!

Makanya, menjalankan tanggung jawab khalifah ini sebenernya adalah bentuk ibadah paling tulus dari kita untuk Sang Pencipta. Rasulullah SAW juga pernah mengingatkan hal ini lewat pesan indahnya. Beliau bersabda bahwa setiap dari kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Mulai dari cowok yang memimpin keluarganya kelak, cewek yang mengelola rumah tangganya, hingga diri kita sendiri dalam memimpin masa depan.

2. Plot Twist Penciptaan Manusia Pertama di Alam Semesta

Kalau kita flashback ke sejarah awal mula eksistensi kita, semua ini bermula dari Nabi Adam. Beliau merupakan manusia pertama sekaligus sosok pemimpin awal yang diciptakan langsung oleh Sang Pencipta. Bila kita pelajari lebih dalam, proses penciptaan manusia pertama ini punya unsur yang estetik dan beragam banget. Bahan dasarnya mulanya berasal dari saripati tanah (*thin*), tanah kering (*shalshal*), lumpur hitam (*hama’in*), tanah tembikar (*fakhkhar*), hingga debu tanah (*turab*).

Nah, kalau buat keturunan beliau—yaitu kita-kita yang hidup di zaman sekarang—prosesnya disesuaikan lagi. Kita berkembang dari setetes cairan embyro (*ma'* atau *nuthfah*) yang disimpan di tempat yang super aman dan kokoh, yaitu rahim ibu. Dari fase yang sangat kecil tersebut, Allah memprosesnya menjadi sesuatu yang melekat, lalu tumbuh menjadi segumpal daging, tulang belulang, hingga dibungkus dengan otot dan kulit yang rapi. Proses ini jadi makin sempurna setelah ditiupkan ruh ke dalam tubuh kita. Menakjubkan sekali, kan?

3. Dua Jalan Hidup yang Bisa Kamu Pilih Sekarang

Dalam menjalani peran besar di bumi ini, tantangannya emang nggak gampang. Nggak semua orang bisa konsisten atau istiqamah di jalur kebaikan. Sejak zaman Nabi Adam dulu, banyak juga individu yang melipir dari amanah yang sudah disepakati. Pada akhirnya, sirkel kehidupan manusia terbagi menjadi dua kubu besar.

Kubu pertama adalah Golongan Kanan (*ashhabul yamin*). Mereka ini diisi oleh orang-orang yang selalu bersyukur dan konsisten menjalankan kebaikan di bumi. Kelak di akhirat, beliau-beliau yang berada di barisan ini bakal menempati tempat terbaik yang penuh kebahagiaan. Kubu kedua adalah Golongan Kiri (*ashhabusy syimal*), yaitu mereka yang abai dan menutup mata dari tanggung jawab moralnya. Pilihan sepenuhnya ada di tangan kamu, mau gabung ke sirkel yang mana untuk masa depanmu?

4. Menjaga Alam dan Hubungan Seru Kita dengan Semesta

Fungsi utama kita sebagai pengelola bumi itu luas banget dimensi-nya, salah satunya adalah dengan menerapkan konsep green living alias ramah lingkungan. Kita dituntut buat menghormati setiap proses alam yang sedang berjalan. Logikanya simpel banget, kalau kita merusak lingkungan sekitar, itu sama saja kita sedang merusak masa depan kita sendiri.

Hewan, tumbuhan, bahkan benda mati sekalipun pada dasarnya adalah sesama ciptaan Tuhan yang perlu kita perlakukan dengan penuh kasih sayang dan sewajarnya. Tuhan sudah melengkapi kita dengan paket komplit berupa akal sehat, perasaan, dan keinginan agar kita bisa mengelola bumi ini dengan bijak tanpa merusaknya. Berdasarkan esensi dari surah Al-Baqarah ayat 30, ada beberapa poin seru yang bisa kita renungkan bersama:

  • Tuhan mengumumkan kepada semesta bahwa manusia dipilih menjadi perwakilan resmi di bumi.
  • Meskipun sempat diragukan oleh malaikat, potensi besar yang ada di dalam diri manusia membuktikan bahwa kita layak mendapat kepercayaan ini.
  • Kita dibekali dengan kecerdasan emosional dan intelektual untuk menjadi solusi, bukan menjadi pembuat masalah di bumi.

Jadi, jangan pernah merasa tidak berharga atau insecure lagi ya! Kamu terlahir dengan misi yang bener-bener besar di semesta ini. Yuk, tunjukkan kalau kita bisa jadi generasi muda yang membawa perubahan positif bagi dunia!

Artikel Lain di Islam