Kenangan Orde Baru: Sisi Positif & Negatif yang Bikin Kamu Paham Sejarah Indonesia
Sisi Negatif Masa Orde Baru
Kayak ada dua sisi koin, masa Orde Baru juga nggak lepas dari korupsi, kolusi, nepotisme alias KKN. Soeharto yang dijuluki “Bapak Pembangunan” ternyata juga terkenal dengan jaringan keluarga Cendana yang nyebar ke hampir semua sektor, mulai pemerintahan sampai bisnis.
Dwifungsi ABRI juga jadi sorotan, karena tentara terlibat di banyak urusan sipil, dari keamanan sampai urusan ekonomi. Akibatnya, ruang gerak warga sipil terasa terbatas.
Pembangunan yang “gemerlap” di Jakarta bikin kesenjangan di daerah lain makin lebar. Daerah‑daerah kayak Aceh dan Papua ngerasa “terpinggirkan”.
Selain itu, warga Tionghoa sempat dibatasi haknya, kayak larangan tampil barongsai atau pakai bahasa Mandarin. Padahal, banyak dari mereka cuma pengen dagang dengan tenang.
Kebebasan berpendapat juga sempit. Kritik yang “menyimpang” cepat “ditindaklanjuti” oleh pemerintah, jadi demokrasi terasa “stagnan”.
Terakhir, penggunaan kekerasan dan pengasingan terhadap aktivis atau orang yang nyuarain pendapat kritis jadi bagian gelap dari era ini.
Sisi Positif Masa Orde Baru
Walau ada banyak tantangan, era Orde Baru juga ngasih kontribusi yang patut diakui. Salah satunya adalah pembangunan nasional lewat program PELITA I‑VI yang ngasih arah bagi infrastruktur dan industri.
Program transmigrasi juga digulirkan, dengan dua tipe: generik (biaya perjalanan ditanggung pemerintah) dan spontan (biaya utama dibayar oleh transmigran). Banyak daerah kayak Kalimantan, Papua, dan Sulawesi dapat manfaat dari program ini.
Indonesia sempat swasembada pangan, bahkan jadi pengekspor beras. Ini berkat kebijakan pertanian yang kuat pada masa itu.
Gerakan wajib belajar diluncurkan tahun 1994, bikin akses pendidikan makin luas. Program GN‑OTA (Gerakan Nasional Orang‑Tua Asuh) juga bantu ngurangin buta huruf.
Rasa nasionalisme tinggi, dengan program P4 (Pedoman Penghayatan Pancasila) yang menanamkan nilai‑nilai kebangsaan di generasi muda.
Ekonomi tumbuh stabil berkat paket kebijakan seperti kebijakkan Desember 1987 dan Oktober 1988, yang menarik investor asing dan menurunkan angka pengangguran.
Harga barang konsumen relatif stabil, jadi lebaran atau kenaikan BBM nggak bikin panik. Program Keluarga Berencana (KB) juga berhasil mengendalikan pertumbuhan penduduk.
Konteks Sejarah Orde Baru
Masa Orde Baru dimulai tahun 1966 setelah Soeharto naik sebagai Presiden, menggantikan Soekarno lewat Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Peristiwa G‑30 S jadi latar belakang politik saat itu.
Krisis moneter 1997 jadi pemicu runtuhnya rezim. Bantuan International Monetary Fund (IMF) tidak cukup mengangkat perekonomian, ditambah dengan praktik KKN yang meluas. Mahasiswa menggelar demo besar di Mei 1998, dan pada 21 Mei 1998 Soeharto mengundurkan diri, digantikan oleh B. J. Habibie.
Setelah Orde Baru runtuh, Indonesia melangkah ke era reformasi dengan harapan demokrasi yang lebih terbuka dan pemerintahan yang lebih akuntabel.
Jadi, sebagai generasi muda, penting banget buat kamu memahami dua sisi ini: apa yang berhasil, apa yang gagal, dan bagaimana pelajaran itu bisa jadi bekal buat masa depan yang lebih baik.