Menulis Skenario

Menulis Skenario



Sederhana Saja Tetapi Dalam Maknanya

Pengertian skenario sebenarnya sangat sederhana. Skenario ialah cerita itu sendiri. Cerita dalam skenario itu nantinya akan diubah menjadi bentuk audio visual (berupa gambar bergerak dan suara). Skenario ini mempunyai kekuatan nan luar biasa buat suatu pertunjukan seni. Tanpa adanya skenario, bagaimana akan membuat pertunjukan nan hebat? Untuk itulah, sebelum skenario diyakini benar-benar bagus, latihan pertunjukan tak akan dilakukan. Tidak jarang, perubahan skenario ini dapat terjadi berkali-kali.

Apalagi buat sebuah skenario sinetron atau telenovela nan kejar tayang. Skenario diubah atas permintaan pihak eksklusif atau menyesuaikan dengan keadaan termasuk ketika akan mengganti pemain nan dianggap tak terlalu bagus lagi. Pergantian pemain ini dapat dengan membuat karakternya mengalami kecelakaan lalu ketika sembuh ia berganti paras setelah dioperasi. Dapat juga dengan membuat karakter tersebut meninggal global sebab sakit, kecelakaan, atau diculik dan menghilang.

Demi kepentingan pengiklan atau sponsor, skenario pun diubah. Para pemain harus mau melakukan seperti nan ada di skenario. Kalau terlalu banyak improvisasi ditakutkan kekuatan cerita akan tergerus. Cerita apapun tanpa skenario nan bagus, akan terlihat asal jadi dan alurnya tak akan bagus. Seorang penulis skenario nan berpengalaman akan sangat mudah mengarahkan pemain mengikuti jalan cerita. Inilah nan membuat pemain mau melakukan apapun demi tuntutan dari skenario.

Skenario bukan seperti cerpen atau novel. Skenario itu mempunyai format dan tata penulisan nan jelas. Ini disparitas fundamental antara skenario dengan cerpen, cerber, atau novel. Pada cerpen, cerber, atau novel, cerita hanya berupa untaian kalimat tanpa melibatkan unsur audio visual. Ada keterangan nan sangat jelas dan rinci dalam sebuah skenario. Keterangan inilah nan diperagakan oleh pemain. Mulai dari mimik wajah, pandangan mata, mobilitas bibir, bentuk pipi, mobilitas tangan dan kaki. Semuanya tertuang dengan jelas di sebuah skenario.

Sebelum pengambilan gambar, biasanya ada acara ‘Reading’. Pada saat pemain mencoba membaca dan membahasakan kondisi dan situasi nan sebenarnya, seorang pembuat skenario dapat saja mengubah kata-kata atau mobilitas tubuh pemain atas usulan pemain nan bersangkutan. Apa nan ditulis terkadang menjadi berbeda setelah dibaca. Inilah diperlukan kolaborasi nan sangat erat dan jelas antara pemain dan kru nan lainnya. Dalam satu film atau sinetron ialah sesuatu nan biasa kalau terdapat beberapa penulis skenario.

Seperti pada film James Bond. Penulis skenario setiap episodenya berbeda. Seorang penulis skenario terkadang hanya diminta buat membaut satu atau dua episode saja. Sebagai bahan penyegaran, dengan banyaknya penulis skenario ini, ide cerita dapat berbeda-beda. Masing-masing penuli situ mempunyai karakter dan spesifikasi tersendiri. Tidak heran kalau mereka akan terlihat hebat dengan jalan cerita tertentu. Latar belakang pendidikan dan latar belakang sosial sang penulis skenario juga akan berpengaruh pada hasil dari tulisannya.

Belajar Membuat Skenario

Kehebatan seseorang itu akan terlihat ketika ia terus berlatih dan membuktikan kalau ia benar-benar bekerja keras. Saat hasil dari kerja keras ini diakui kehebatannya, maka harga satu buah skenario dapat cukup mahal.

Setelah memahami pengertian skenario, akan lebih mudah bagi kita buat belajar menulis skenario. Logikanya, kita tak mungkin dapat memasak spageti jika kita tak tahu apa itu spageti. Begitu juga dengan skenario. Kita tak mungkin menulis skenario jika tidak tahu apa itu skenario.


Istilah skenario
Dalam menulis skenario, ada beberapa istilah spesifik nan harus dipahami oleh penulis skenario. Istilah ini berlaku universal, artinya di negara apa pun skenario itu ditulis dan kemudian diproduksi, istilah ini mempunyai arti nan sama. Pemahaman akan istilah-istilah ini akan membuat sebuah skenario lebih gampang divisualisasikan. Dengan adanya pemahaman nan sama, seorang penulis skenario nan ada di Indonesia, dapat juga berkarir di industri film nan ada di seluruh dunia.

Istilah-istilah nan biasa digunakan dalam penulisan skenario:
* Fade in : Ketika adegan baru dimulai pertama kali.
* Fade out: Ketika sebuah babak berakhir dan kemudian diselingi oleh iklan sebelum memulai babak baru. Atau ketika sebuah episode berakhir dan akan kontiniu ke episode selanjutnya.
* Cut to: Perpindahan dari satu adegan ke adegan lain secara berkesinambungan.
* Dissolve to: mirip dengan cut to tapi dipergunakan buat adegan masa lalu (flashback) nan memiliki durasi cukup panjang.
* V.O (voice over) : hanya terdengar suara. Biasanya digunakan buat narasi atau buat suara dalam hati si tokoh.
* O.S (Off scene) : suara pemain terdengar lebih dahulu sebelum sosoknya sendiri muncul.
* Flashback: adegan masa lalu. Flashback ini dapat berlangsung sebentar, dapat juga agak lama.
* POV: point of view, yaitu melihat sesuatu dari sudut pandang seorang tokoh.
* VFX: visual effect dan SFX: sound effect. VFX dan SFX ini biasa dipakai jika ada adegan nan sulit divisualisasikan.

Istilah-istilah itu harus dipahami dan dimengerti. Nanti seiring dengan bergantinya waktu dan semakin banyaknya pengalaman, maka semua arti dari istilah itu akan menjadi bagian dari kehidupan sehingga bukan menjadi suatu beban buat menghapalkannya. Kalau baru awal, terkadang memang ada kesalahan ketika menempatkan istilah atau harus selalu melirik catatan agar tak salah dalam menempatkan istilah tersebut.

Menulis Skenario

Pengertian skenario dan istilah-istilah nan biasa terdapat dalan sebuah skenario sudah dipahami, sekarang waktunya menulis. Dalam menulis skenario nan terpenting ialah adanya ide cerita. Dengan adanya ide nan segar dan sinkron dengan kategori cerita nan akan dibuat, format dapat dibuat sinkron dengan kebutuhan saja. Tidak sporadis seorang penulis skenario itu akan bekerja sama dengan banyak penulis atau orang nan lain ceritanya akan dibuatkan skenarionya.

Di Amerika, para pembuat skenario ini malah mempunyai perhimpunan nan membuat mereka tampak cukup kompak. Persatuan di antara mereka bahkan dapat membaut satu boikot nan dapat mematikan industri perfilman di Amerika. Tidak dapat dibayangkan kalau industri film Hollywood menjadi rancu sebab adanya aksi mogok sari para penulis cerita. Para penulis Indonesia mungkin belum terdengar dengung persatuan dan kesatuan mereka.

Ketika mereka bersatu, harga buat karya mereka dapat saja cukup mahal. Hal ini sebab mereka dapat menentukan harga dan tak ada nan dapat mempermainkan harga. Kalau mereka sebagai indivisu, akhirnya ada persaingan nan tak sehat. Misalnya, seseorang nan membutuhkan dana segar segera, akhirnya harus menjual ceritanya dengan sangat murah. Tentu saja hal ini malah mematikan global penulisan. Terlalu menyakitkan kalau dijual dengan harga nan sangat menyedihkan.

Meskipun ide dasar datang dari rumah produksi, seorang penulis skenario tetap harus memiliki ide agar bisa mengembangkan sebuah skenario utuh nan siap divisualisasikan. Ide buat menulis skenario ini dapat diperoleh dari:

* Diri sendiri
Pengalaman pribadi ialah hal nan paling mudah dituliskan. Cari hal-hal nan unik dan menarik buat dikembangkan. Isu nan sedang berkembang atau perasaan nan sedang dirasakan, dapat dibuat cukup imajinatif.

* Lingkungan sekitar
Lingkungan sekitar, tetangga, teman arisan, teman hangout, dan sebagainya merupakan sumber ide nan tidak pernah habis.

* Membaca
Novel, cerpen, dan cerber nan dimuat di berbagai media cetak atau internet juga bisa menjadi sumber ide. Namun hati-hati, jangan sampai meniru mentah-mentah alias melakukan plagiatisme. Suratkabar juga dapat menjadi sumber ide nan segar sebab kebaruan dan variasi warta nan ditampilkannya.

* Dongeng dan cerita rakyat
Indonesia kaya dengan dongeng, legenda, dan cerita rakyat. Selalu ada hal menarik nan bisa diangkat dari kisah-kisah ini.

Jika mau berlatih, menulis skenario tidak lagi terasa susah. Laba nan akan diperoleh pun sudah terbayang di depan mata.