Portal Informasi Gaya Hidup Sehat, Edukasi Nutrisi, dan Tips Praktis Sehari-hari.

Seni Kreatif atau Vandalisme Berkedok Estetik? Menguak Story Panjang Grafiti di Jalanan

Tembok Jakarta dan Suara Kritis Anak Muda

Inget nggak sih, pas kasus kriminalisasi KPK lagi viral-viralnya dulu, tembok-tembok Jakarta mendadak rame sama gambar kartun cicak, tikus, sampai buaya? Nggak cuma di situ, pilar-pilar proyek monorel deket gedung DPR juga sempet penuh sama ilustrasi "nyentrik" yang menyindir para pejabat negara. Nah, gambar-gambar nakal tapi penuh kritik sosial di tembok fasilitas umum inilah yang biasa kita kenal dengan sebutan grafiti.

Dari Mana Sih Usul Asal Kata Grafiti?

Eits, sebelum kita bahas makin jauh, yuk kenalan dulu sama history-nya! Kalau ditarik dari sejarahnya, kata "grafiti" tuh berasal dari bahasa Italia, yaitu graffito, yang artinya 'goresan di tembok'. Istilah ini sebenarnya udah eksis sejak pertengahan abad ke-19, lho! Sekarang, grafiti makin dikenal sebagai karya visual berupa gambar atau tulisan yang dilukis di tembok maupun permukaan keras lainnya di ruang publik. FYI, kalian masih inget vibes lukisan tembok di film Alexandria yang sempet hits dulu nggak?

Seni Keren atau Cuma Vandalism Doang?

Perjalanan sejarah grafiti emang nggak pernah sepi dari debat panas. Banyak orang yang masih mempertanyakan: grafiti itu murni sebuah karya seni, tindakan kriminal vandalisme, atau justru simbol perjuangan aspirasi rakyat? Yang jelas, mayoritas masyarakat - bahkan sebagian anak muda sendiri - masih sering ngasih cap kriminal ke para bomber (sebutan buat kreator atau kelompok pembuat grafiti).

Aksi "Kucing-kucingan" Para Bomber Malam Hari

Stempel negatif ini mau tak mau bikin seni grafiti selalu berurusan sama hukum. Para bomber dianggap ngerusak estetika kota, sampai-sampai petugas harus putar otak buat "menertibkan" mereka. Uniknya, para bomber yang didominasi anak muda ini emang hobi banget ngasih *surprise*. Mereka biasanya beraksi secara rahasia pas *midnight*, terus bikin warga kaget pas pagi-pagi nemu tembok lingkungannya udah berubah penuh lukisan estetik.

Hukuman Unik Sampai Wadah Khusus Vandalism

Di Amerika Serikat, remaja yang kena hukuman akibat kejahatan ringan biasanya disuruh buat ngebersihin grafiti di dinding-dinding kota sebagai sanksi sosial. Nah, kalau di Jakarta sekitar tahun 1990-an, warga senior pasti inget sama keberadaan "Tugu Corat-coret". Tugu tembok polos dan tinggi ini emang sengaja disediakan pemerintah zaman dulu biar para bomber punya wadah resmi, jadi mereka nggak melampiaskan kreativitasnya secara liar di fasilitas umum lagi.

Saat Grafiti Bikin Kota Jadi Lebih Fresh dan Berwarna

Tapi tenang, grafiti nggak selamanya dianggap sebagai "musuh" kok! Ada kalanya grafiti justru dirangkul hangat, contohnya pas beberapa instansi pemerintah dan sekolah kolaborasi bareng buat melukisi pilar-pilar flyover di sepanjang Jl. Yos Sudarso, Jakarta. Grafiti yang sarat pesan budaya dan edukasi ini malah banjir pujian karena sukses menyulap pilar beton kelabu yang boring jadi jauh lebih *fresh* dan berwarna. Mau dipandang positif atau negatif, satu hal yang pasti: sejarah grafiti bakal tetap membuktikan kalau aksi corat-coret ini adalah salah satu bentuk kreativitas anak muda yang nggak ada matinya!