Lewati ke konten

Prioritaskan Zakat

Disparitas zakat dengan pajak ialah suatu hal nan sangat mendasar. Secara sekilas keduanya memang tampak sama yaitu sebagai suatu kewajiban nan mengharuskan seseorang menyisihkan sebagian hartanya buat kepentingan di luar dirinya. Namun keduanya sangat berbeda baik sifat, hukum, sumber, target bahkan kadarnya. Selain itu disparitas fundamental juga tampak pada prinsip, tujuan dan jaminannya.

1. Zakat Itu Kewajiban Seorang Muslim

Kewajiban membayar zakat itu hanya terkena kepada orang Islam. Itupun tak semua umat muslim dikenai kewajiban membayar zakat. Ada syarat-syarat nan harus dipenuhi sebelum seorang muslim dikenai kewajiban membayar zakat. Anak kecil nan belum baligh tak mempunyai kewajiban membayar zakat. Orang-orang nan tak mampu secara ekonomi, pun tak terkena kewajiban membayar zakat. Terlihatlah satu keadilan dalam hal pembayaran zakat ini. Hanya orang-orang nan beriman, nan berharta lebih, nan merdeka, nan berkewajiban membayar zakat, baik zakat fitra maupun zakat maal.

Zakat maal ini termasuk juga nan dikatakan sebagai zakat profesi atau semua harta nan didapatkan dari berbagai cara dalam menjemput rezeki dari Allah Swt. Bagi nan telah memperolah gelar kehormatan sebagai seorang pembayar zakat, dia akan mendapatkan agunan bahwa harta nan dikeluarkannya di jalan Allah swt itu tak akan hilang setetes pun. Bahkan harta nan sudah dikeluarkan itu akan dibayar tunai dalam bentuk keberkahan hayati dan ketenangan jiwa serta selalu dituntun berada di jalan nan lurus bersama dengan orang-orang nan beriman lainnya.

Bahwa ketika membayar zakat ini telah menjadi bagian dari diri, maka akan terasa ‘merampok’ uang atau harta orang-orang nan berhak menerima zakat ketika belum menyisihkan harta nan menjadi hak mereka. Perasaan bersalah akan mengungkung hati dan jiwa sebelum zakat itu dibayarkan. Banyak sudah orang-orang tak terlihat kaya bahkan mereka belum mempunyai rumah dan pekerjaannya pun hanya sebagai pekerja honorer, namun zakat nan dibayarkannya sangat banyak hingga bernilai jutaan rupiah per tahunnya.

Usut punya usut, ternyata mereka menyisihkan 2,5% dari setiap setitik harta nan mereka dapatkan dari jalan halal apapun, melalui siapapun dan dari manapun. Mereka langsung memotong semua harta itu ketika menerimanya. Apa nan mereka rasakan setelah memutuskan buat menyisihkan 2,5% langsung dari semua harta nan mereka dapatkan itu, ialah perasaan tenang dan mereka tidak merasa kelaparan serta merasa mudah sekali tersentuh oleh tuntunan ke arah kebaikan.

Janji Alalh Swt itu sahih dan niscaya benar. Ketika merasa tak diberi balasan nan setimpal dari apa nan telah dikeluarkan, cobalah perhatikan kehidupan secara keseluruhan. Kesehatan nan bagus, anak-anak nan baik, makan, minum, tidur nyenyak, diangkatnya setiap kesulitan, itulah salah satu tanda bahwa balasan dari kebaikan itu telah berlaku. Kalaupun doa nan dianggap nan paling krusial seperti minta rezeki buat membeli rumah tanpa berutang, mengunjungi Ka’bah bersama suami, membeli mobil, belum juga terkabul, itu tandanya niscaya ada sesuatu nan tersembunyi nan akan latif pada saat nan tepat. Hanya Allah Swt nan mengetahui semua misteri masa depan nan begitu misterius.

Tetaplah berdoa dan tetaplah bayarkan zakat serta bersedekah. Semua itu akan terbalas. Tak ada janji nan teringkari oleh Sang Pemberi rezeki itu. Teruslah bersabar dan teruskah berdoa tanpa henti. Suatu saat akan ada kejutan nan menyenangkan dari Sang Maha Kuasa itu kepada para umatNya nan setia menjalani semua ketentuan dariNya dan tetap beriman dan tetap konfiden dengan semua tuntunannya.

2. Prioritaskan Zakat

Terlepas dari perbedaan zakat dengan pajak tersebut, sebagai umat muslim kita harus memiliki prinsip bahwa zakat tetaplah menduduki posisi terpenting. Dalam mengatur keuangan keluarga, porsi zakat harus menjadi prioritas lebih tinggi dari pada pajak. Bahkan letakkan zakat di atas keperluan nan lain. Artinya, ketika menerima harta, baik nan berupa gaji atau pembayaran dalam bentuk apapun, hal nan pertama dilakukan ialah memotongnya buat zakat.

Setelah itu, sisihkan buat membayar utang berapapun jumlahnya dengan siapapun utang itu dibayarkan. Kalau tak sanggup membayar lunas, menyicil sinkron dengan kesepakatan dan jangan ditunda.

Setelah itu baru buat tabungan. Jangan sisihkan buat tabungan setelah uang disisihkan buat keperluan sehari-hari. Dengan menyisihkan buat menabung, artinya telah memberikan batasan nan jelas kepada diri sendiri berapa besar pengeluaran bagi semua kebutuhan pada bulan itu. Berapapun penghasilan, kalau diniatkan buat menabung, niscaya ada. Misalnya, seseorang nan berada di taraf pengahsilan nan hanya 20 ribu setiap harinya, ternyata mampu menabung buat kurban kambing di Hari Idul Adha. Secara logika rasanya tak mungkin, buktinya ialah semua itu mungkin. Ketika ada kemauan menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim nan baik, jalan ke arah lubang mata air rezeki itu selalu muncul dan terkadang tanpa pernah disangka-sangka. Ini juga merupakan janji Allah Swt kepada orang nan bahagia bersedekah dan mengeluarkan zakat.

Zakat

Zakat ialah hak eksklusif nan diwajibkan oleh Allah Swt terhadap umat muslim. Zakat tersebut diperuntukkan bagi mereka nan telah ditetapkan dalam Al quran, sebagai bentuk rasa syukur dan upaya kita buat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mengenai tata cara pengeluaran dan kadar zakat nan harus dikeluarkan sudah diatur sedemikian rupa dalam Al quran dan sunnah Nabi. Pemerintah atau negara memiliki peran dalam hal pemungutan zakat (dalam hal ini Badan Amil Zakat). Namun, jika pemerintah tak berperan dalam mengumpulkan dan menyalurkan zakat, maka individu dapat menyalurkannya langsung pada mereka nan berhak menurut Al quran dan sunnah.

Pajak

Pajak ialah kewajiban nan dibebankan kepada wajib pajak. Pajak ini disetorkan kepada negara melalui instansi nan sudah ditunjuk sinkron dengan anggaran nan berlaku. Adapun besarnya nilai pajak nan harus dibayar ditetapkan oleh peraturan dan perundang-undangan nan berlaku dalam suatu wilayah atau negara.

Titik Persamaan Zakat Dan Pajak

Dari klarifikasi di atas bisa diketahui bahwa zakat dan pajak memiliki titik persamaan yaitu:

  1. Adanya unsur paksaan baik bagi wajib zakat maupun wajib pajak.
  2. Sama-sama disetor ke forum pemerintah (dalam zakat kita mengenal istilah amil zakat nan idealnya dikelola oleh pemerintah).
  3. Tidak ada imbalan konkret dan langsung kepada si pemberi dari pemerintah.
  4. Disamping tujuan keuangan, pajak dan zakat sama-sama memiliki tujuan kemasyarakatan, ekonomi dan politik.

Disparitas Zakat Dengan Pajak

  1. Memiliki motivasi nan berbeda dari segi nama.
    Zakat memiliki arti suci, tumbuh nan bermakna bahwa ibadah zakat tersebut bertujuan buat mensucikan dan memberi keberkahan pada harta pelakunya. Sedangkan pajak (dharaba) memiliki arti upeti. Dari arti kata pajak ini kita tak menemukan motivasi psikologis bagi pelakunya selain kewajiban nan harus dikeluarkan dalam jangka waktu tertentu.
  2. Hakikat dan tujuannya berbeda
    Zakat pada hakikatnya ialah ibadah nan bertujuan buat mendekatkan diri pada Allah semata. Motivasinya ialah ketundukan dan penghambaan diri seorang muslim pada Rabbnya. Sedangkan pajak ialah kewajiban nan merupakan bentuk ketaatan dan kepatuhan kita pada anggaran nan berlaku dalam masyarakat. Sekaligus bentuk kepatuhan kita pada pemimpin.
  3. Berbeda dalam nisab dan ketentuan nan menyertainya
    Nisab zakat sudah ditentukan oleh Allah Swt. Ketentuannya sudah standar dan tak dapat ditambah apalagi dikurangi. Sedangkan pajak, ketentuannya dapat berubah-ubah. Sinkron dengan ketentuan dan perundang-undangan nan berlaku.
  4. Berbeda dalam kelangsungan dan kelestariannya
    Zakat bersifat tetap dan terus menerus. Sementara zakat sangat fluktuatif, dapat berubah sewaktu-waktu sinkron dengan peraturan nan berlaku.
  5. Berbeda dalam target pengeluaran
    Target zakat sudah jelas sinkron dengan ketetapan Allah dalam Al quran dan dijabarkan dalam hadist nabi Saw. Pajak merupakan pengeluaran generik negara nan diatur dalam undang-undang.
  6. Hubungan dengan penguasa
    Aplikasi zakat berhubungan dengan perintah tuhan. Sehingga wajib zakat berhubungan dengan Tuhannya. Jika penguasa (dalam hal ini pemerintah) tak menjalankan perannya dalam pemungutan zakat, maka wajib zakat dapat mengeluarkannya sendiri-sendiri. Sementara interaksi wajib pajak sangat erat dan tergantung pada penguasa.
  7. Berbeda dalam maksud dan tujuan
    Zakat memiliki tujuan spritual dan moral nan jauh lebih tinggi dan sakral. Sementara pajak lebih pada tujuan pembangunan dan kewajiban sebagai warga negara.

Itulah perbedaan zakat dengan pajak. Semoga pemahaman ini membukan mata dan berharap bahwa pembayaran zakat ini dapat mengurangi pembayaran pajak. Sehingga ketentuan agama benar-benar dapat sejalan dengan peraturan negara.

Artikel Lain di Islam

  • Ayat Kursi, Penangkal Pengaruh Dursila Setan dan Iblis

    Setiap muslim niscaya sering mendengar sebutan ayat kursi . Ayat nan biasa dijadikan wirid usai shalat ataupun wirid nan dibaca setiap pagi dan petang. Ayat ke-255 dari surat al-Baqarah ini memiliki kandungan isi nan sangat...

  • Pahala Membaca al-Qur'an

    Sering kali kita memasuki rumah nan di dalamnya di sana sini tergantung tulisan ayat-ayat al-Qur'an dengan bingkai nan mewah dan mahal. Tidak sporadis tulisan ayat-ayat kudus itu dipadu dengan seni lukis nan dilukis oleh...

  • Keadilan Seorang Pemimpin, Umar bin Khattab

    Banyak orang nan merasa jenuh dengan hidupnya dan terlibat dengan berbagai masalah. Kadangkala berbagi cerita dengan sahabat, orang tua, maupun teman nan lain tak cukup. Untuk itu, mencari solusi suatu masalah bisa dilakukan...

  • Kenalan Sama Tafsir Ibnu Katsir: Bikin Qur'an Lebih 'Ngerti' di Era Zaman Now

    Yo, generasi milenial! Kalo lo masih ngerasa Al‑Qur'an kayak bahasa alien, tenang aja. Tafsir Ibnu Katsir hadir buat ngasih glow up pada pemahaman lo tentang ayat‑ayat suci. Kata "tafsir" sendiri asalnya dari bahasa Arab...

  • Kontra Kesatuan Transenden Pada Surat Al-Kafirun

    Turunnya Surat al-kafirun dengan adanya tawaran dari Kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad Saw. Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad saw di datangi oleh sekelompok Kaum Quraisy dan dan meminta agar NabiMuhammad mengikuti agama lama...

  • Maroko, Negara dengan Metode Menghafal Al Quran Terbaik

    Banyak orang lebih memilih buat menghafalkan syair lagu dibandingkan dengan menghafal Al Quran. Padahal, sudah jelas bahwa Al Quran ialah kitab kudus umat Muslim nan menjadi sumber dari segala informasi nan ada di global...

  • Akidah sebagai Tujuan Pendidikan Dasar dalam Islam

    Pendidikan dasar ialah pendidikan pertama nan diberikan kepada seseorang. Nantinya tujuan pendidikan dasar ini akan menjadi pondasi buat pendidikan-pendidikan selanjutnya. Kualitas pendidikan dasar ini akan memengaruhi kualitas...

  • Hikmah Hadits Puasa di Bulan Muharram

    Bagi Anda nan menganut agama islam niscaya tak asing lagi dengan puasa. Puasa ada nan hukumnya sunah dan adapula nan hukumnya wajib. Salah satunya puasa muharam. Memang bulan Allah ialah ketika bulan muharram tiba. Karena...

  • Mukjizat Cinta Sejati

    Mukjizat cinta bukanlah sebuah mukjizat sebagaimana nan dimiliki oleh para nabi dalam kepercayaan Islam. Karena meski pada dasarnya kedua hal tersebut sama-sama berujung pada kekuasaan Allah sebagai penguasa alam, namun memiliki...

  • Biar Nggak Clueless, Yuk Pahami Cara Islam Jawab Tantangan Zaman Now Lewat Ijtihad

    Islam itu emang terkenal bgt sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin , alias pembawa kasih sayang buat semesta alam. Keren banget, kan? Slogan ini juga diperkuat sama prinsip kalau Islam itu selalu cocok di setiap tempat...