Lewati ke konten

Keutamaan Salat Fajar

Rasulullah Saw. bersabda, "Dua rakaat fajar lebih baik dari global dan seisinya.” (H.R. Muslim dan Tirmidzi)
Sabda Nabi Muhammad Saw. tersebut memang benar. Bahwa salat fajar lebih baik dari global dan seisinya. Maksud "lebih baik dari global dan seisinya" adalah terdapat banyak kebaikan dan keutamaan dalam salat fajar. Di samping akan mendapatkan kesehatan tubuh, salat fajar juga akan meningkatkan semangat. Sehingga, ketika siang hari tiba, tubuh kita menjadi fit dan bersemangat buat bekerja.
Pengertian Salat Fajar
Berkaitan dengan penafsiran hadits di atas, Imam As-Sindiy mengatakan bahwa makna dari “dua rakaat fajar” itu ialah salat sunah fajar. Sedangkan, makna “Lebih baik dari dunia” yaitu lebih baik daripada diberikan seluruh global di jalan Allah Swt. atau keyakinan mereka bahwa isi global ialah kebaikan dan tidaklah seberat atom dari (kenikmatan) akhirat dapat disamai dengan global dan seisinya. (Syarh Sunan an Nasai, juz III hal 127).
Jadi, "dua rakaat fajar" nan dimaksud itu ialah salat sunah qabliyah Subuh seperti halnya salat rawatib 4 rakaat sebelum Zhuhur, 2 rakaat setelah Zhuhur, 2 rakaat setelah Maghrib, dan 2 rakaat setelah Isya. Waktu pelaksanaannya adalah sejak masuknya waktu fajar hingga dilaksanakannya salat fajar (Subuh). Tepatnya adalah antara azan Subuh dan iqamat.
Untuk kita, praktik salat fajar memang bisa bermanfaat bagi kesehatan fisik dan psikis. Oleh sebab itu, sebab di dalamnya terkandung keutamaan, tidak ada salahnya kalau kita menunaikannya. Untuk bisa menunaikan salat sunah fajar ini, beberapa tips di bawah ini kiranya bermanfaat bagi Anda.

1. Keutamaan Salat Fajar

Di antara shalat-shalat sunnah, ada shalat sunnah nan memiliki keutamaan nan tidak ternilai harganya. Dua rakaat nan memiliki keutamaan, sampai-sampai Rasulullah Saw tak pernah meninggalkannya. Sebuah amalan ringan, namun sarat pahala, nan tak selayaknya disepelekan seorang hamba. Amalan tersebut ialah dua rakaat shalat sunnah sebelum subuh atau disebut juga salat Fajar. Dikisahkan dari ‘Aisyah ra, beliau berkata:

"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melakukan satu shalat sunnah pun nan lebih beliau jaga dalam melaksanakannya melebihi dua rakaat shalat sunnah subuh.” (HR Bukhari 1093 dan Muslim 1191)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “ Ketika safar (perjalanan), Nabi Saw tetap rutin dan teratur mengerjakan shalat sunnah fajar dan shalat witir melebihi shalat-shalat sunnah nan lainnya. Tidak dinukil dari Nabi Saw bahwa beliau melaksankan shalat sunnah rawatib selain dua shalat tersebut selama beliau melakukan safar “ (Zaadul Ma’ad I/315). Keutamaan shalat sunnah subuh ini secara spesifik juga disebutkan oleh Nabi Saw:

“Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik daripada global dan seluruh isinya.”(HR. Muslim725).

Lihatlah, suatu keutamaan nan sangat agung nan merupakan karunia Allah Swt bagi hamba-hamba-Nya. Tidak selayaknya seorang hamba melewatkan kesempatan buat bisa meraihnya.

Melakukannya dengan Ringkas

Di antara petunjuk dan contoh Nabi Saw dalam melakukan dua rakaat salat Fajar ialah dengan meringankannya dan tak memanjangkan bacaannya, dengan syarat tak melanggar perkara-perkara nan wajib dalam shalat. Hal ini ditunjukkan oleh kisah berikut:

"Dari Ibnu Umar, beliau berkata bahwasanya Hafshah Ummul Mukminin telah menceritakan kepadanya bahwa dahulu bila muadzin selesai mengumandangkan adzan buat shalat subuh dan telah masuk waktu subuh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat sunnah dua rakaat dengan ringan sebelum melaksanakan shalat subuh ( HR Bukhari 583).

Diceritakan juga oleh ibunda ‘Aisyah ra:

“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat ringan antara adzan dan iqamat shalat subuh.”(HR. Bukhari 584)

‘Asiyah ra juga menjelaskan ringannya shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menyatakan:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meringankan dua rakaat shalat sunnah subuh sebelum shalat fardhu Subuh, sampai-sampai saya bertanya: “Apakah beliau membaca surat Al-Fatihah?” (HR Bukhari 1095 dan Muslim 1189)

Hadits-hadits di atas menunjukkan sunnahnya memperingan shalat ketika melaksanakan salat Fajar. Tentu saja nan dimaksud meringankan shalat di sini dengan tetap menjaga rukun dan hal-hal nan wajib dalam shalat.

Bacaan Pada Setiap Rakaat

Terdapat beberapa hadits nan menyebutkan bacaan surat nan biasa dibaca Nabi Saw setelah membaca surat Al Fatihah dalam shalat sunnah subuh.

  • Hadits dari Abu Hurairah ra nan berbunyi: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam dua rakaat shalat sunnah subuh surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas” (H.R Muslim 726).

  • Hadits dari Ibnu ‘Abbas ra nan berbunyi: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua rakaat shalat sunnah subuh membaca ayat Al Baqarah 136 pada rakaat pertama dan membaca Ali Imran 52 pada rakaat kedua” ( HR. Muslim 727).

  • Hadits dari Ibnu ‘Abbas ra nan berbunyi: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua rakaat shalat sunnah subuh membaca firman Allah dalam Al Baqarah 136 dan membaca Ali Imran ayat 64” (HR. Muslim 728).

Ringkasnya, ada tiga jenis variasi nan biasa dibaca Nabi Saw dalam shalat sunnah subuh, yaitu:

  • Rakaat pertama membaca surat Al Kafirun dan rakaat kedua membaca surat Al Ikhlas

  • Rakaat pertama membaca ayat dalam surat Al Baqarah 136. Rakaat kedua membaca ayat dalam surat Ali Imran 52.

  • Rakaat pertama membaca ayat dalam surat Al Baqarah 136. Rakaat kedua membaca ayat dalam surat Ali Imran ayat 64.

Itulah beberapa ayat nan biasa dibaca Nabi Saw dalam salat Fajar. Namun demikian tetap dibolehkan juga membaca selain ayat-ayat di atas.

Berbaring Sejenak Setelahnya

Terdapat beberapa hadits nan menyebutkan bahwa Nabi Saw biasa berbaring di sisi tubuh sebelah kanan setelah melakukan salat Fajar. Di antaranya ialah hadits berikut:

“Apabila muadzdzin telah selesai adzan buat shalat subuh, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum shalat subuh, beliau shalat ringan lebih dahulu dua rakaat sesudah terbit fajar. Setelah itu beliau berbaring pada sisi lambung kanan beliau sampai datang muadzin kepada beliau buat iqamat shalat subuh.” (HR Bukhari 590)

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berbaring setelah shalat sunnah subuh dalam beberapa pendapat:

  • Hukumnya sunnah secara mutlak. Ini ialah madzhab Syafi’i dan ini ialah pendapat Abu Musa Al ‘Asy’ari, Rafi’ bin Khadij, Anas bin Malik, dan Abu Hurairah ra.

  • Hukumnya wajib. Ini ialah madzhab Abu Muhammad bin Hazm rahimahullah. Bahkan beliau terlalu hiperbola dengan menjadikannya sebagai syarat sahnya shalat subuh.

  • Hukumnya makruh. Ini merupakan pendapat kebanyakan para salaf. Di anatarnya ialah Ibnu Mas’ud, Ibnul Musayyib, dan An Nakha’i rahimahumullah. Al Qadhi ‘Iyad rahimahullah menyebutkan ini merupakan pendapat jumhur ulama.

  • Hukumnya menyelisihi perkara nan lebih utama. Ini ialah pendapat Hasan Al Bashri rahimahullah.

  • Hukumnya mustahab bagi nan melakukan shalat malam agar bisa beristirahat. Ini ialah pendapat nan dipilih oleh Ibnul ‘Arabi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah.

Berbaring di sini bukanlah inti nan dimaksud, namun nan dimaksud ialah memisahkan antara shalat sunnah dan shalat wajib. Ini diriwayatkan dari pendapat Imam Syafi’i. Namun pendapat ini tertolak, karena pemisahan waktu memungkinkan dilakukan dengan selain berbaring. Kesimpulannya, nan lebih tepat dari pendapat-pendapat di atas bahwa berbaring setelah shalat sunnah subuh hukumnya mustahab (dianjurkan), asalkan memenuhi dua syarat:

  • Berbaring dilakukan di rumah dan bukan di masjid sebab tak pernah dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melakukannya di dalam masjid.

  • Hendaknya orang nan melakukan sunnah ini, mampu buat bangun kembali dan tak tertidur sehingga tak terlambat buat melakukan shalat subuh secara berjamaah.

Bersemangatlah buat menjaga dua rakaat ini. Amalan nan ringan, namun besar pahalanya. Dan sebaik-baik amalan, ialah amalan nan kontinyu dalam pelaksanaannya. Dari ’Aisyah ra, beliau mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Amalan nan paling dicintai oleh Allah Ta’ala ialah amalan nan kontinyu, walaupun sedikit.” (HR. Muslim 783)

Rasulullah Saw mencela seseorang nan tak kontinyu dalam beramal. Dikisahkan oleh sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash ra, Rasulullah Saw berkata padaku:

“Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tak mengerjakannya lagi.” (HR. Bukhari 1152)

Semoga sajian ringkas ini bermanfaat. Semoga Allah Swt memberi taufik kepada kita buat senantiasa melaksanakan amalan-amalan sunnah, khususnya salat Fajar. Laksanakanlah salat Fajar buat meraih berbagai keutamaan nan tersimpan di dalamnya. Setelah itu, Anda akan merasakan sebuah keberkahan nan tidak terkira. Selamat mencoba, sahabat!

Artikel Lain di Islam

  • Ayat Kursi, Penangkal Pengaruh Dursila Setan dan Iblis

    Setiap muslim niscaya sering mendengar sebutan ayat kursi . Ayat nan biasa dijadikan wirid usai shalat ataupun wirid nan dibaca setiap pagi dan petang. Ayat ke-255 dari surat al-Baqarah ini memiliki kandungan isi nan sangat...

  • Pahala Membaca al-Qur'an

    Sering kali kita memasuki rumah nan di dalamnya di sana sini tergantung tulisan ayat-ayat al-Qur'an dengan bingkai nan mewah dan mahal. Tidak sporadis tulisan ayat-ayat kudus itu dipadu dengan seni lukis nan dilukis oleh...

  • Keadilan Seorang Pemimpin, Umar bin Khattab

    Banyak orang nan merasa jenuh dengan hidupnya dan terlibat dengan berbagai masalah. Kadangkala berbagi cerita dengan sahabat, orang tua, maupun teman nan lain tak cukup. Untuk itu, mencari solusi suatu masalah bisa dilakukan...

  • Kenalan Sama Tafsir Ibnu Katsir: Bikin Qur'an Lebih 'Ngerti' di Era Zaman Now

    Yo, generasi milenial! Kalo lo masih ngerasa Al‑Qur'an kayak bahasa alien, tenang aja. Tafsir Ibnu Katsir hadir buat ngasih glow up pada pemahaman lo tentang ayat‑ayat suci. Kata "tafsir" sendiri asalnya dari bahasa Arab...

  • Kontra Kesatuan Transenden Pada Surat Al-Kafirun

    Turunnya Surat al-kafirun dengan adanya tawaran dari Kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad Saw. Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad saw di datangi oleh sekelompok Kaum Quraisy dan dan meminta agar NabiMuhammad mengikuti agama lama...

  • Maroko, Negara dengan Metode Menghafal Al Quran Terbaik

    Banyak orang lebih memilih buat menghafalkan syair lagu dibandingkan dengan menghafal Al Quran. Padahal, sudah jelas bahwa Al Quran ialah kitab kudus umat Muslim nan menjadi sumber dari segala informasi nan ada di global...

  • Akidah sebagai Tujuan Pendidikan Dasar dalam Islam

    Pendidikan dasar ialah pendidikan pertama nan diberikan kepada seseorang. Nantinya tujuan pendidikan dasar ini akan menjadi pondasi buat pendidikan-pendidikan selanjutnya. Kualitas pendidikan dasar ini akan memengaruhi kualitas...

  • Hikmah Hadits Puasa di Bulan Muharram

    Bagi Anda nan menganut agama islam niscaya tak asing lagi dengan puasa. Puasa ada nan hukumnya sunah dan adapula nan hukumnya wajib. Salah satunya puasa muharam. Memang bulan Allah ialah ketika bulan muharram tiba. Karena...

  • Mukjizat Cinta Sejati

    Mukjizat cinta bukanlah sebuah mukjizat sebagaimana nan dimiliki oleh para nabi dalam kepercayaan Islam. Karena meski pada dasarnya kedua hal tersebut sama-sama berujung pada kekuasaan Allah sebagai penguasa alam, namun memiliki...

  • Biar Nggak Clueless, Yuk Pahami Cara Islam Jawab Tantangan Zaman Now Lewat Ijtihad

    Islam itu emang terkenal bgt sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin , alias pembawa kasih sayang buat semesta alam. Keren banget, kan? Slogan ini juga diperkuat sama prinsip kalau Islam itu selalu cocok di setiap tempat...