Sejarah Mbah Priok dan Tanjung Priok

Sejarah Mbah Priok dan Tanjung Priok

Bagi warga Koja Jakarta Utara mungkin nama Mbah Priok sudah tak asing lagi di telinganya. Namun, bagi warga negara Indonesia mungkin banyak nan bertanya - tanya siapa nama Mbah Priok ini dan perjuangan apa nan telah di berikan kepad negara kita Indonesia ini. Warga negara di seluruh Indonesia ini mungkin mengetahui friksi nan terjadi di Jakarta tersebut nan membuat Mbahh Priok ini menjadi terkenal di seluruh Indonesia. Friksi nan terjadi pada 14 April 2010 silam, telah mengantarkan masyrakat miris dengan friksi antara satuan Polisi Pamong Praja atau biasa di sebut dengan Satpol PP tersebut.

Nama Mbah Priok ini muncul ke permukaan publik dari planning pemindahan makamya tersebut sebab adanya planning pemerintah buat menjadikan huma tersebut sebagai jalan tol. Hal ini tentu menjadi polemik di kalangan pengikut Mabh Priok tersebut. dan menjadikan planning tersebut menjadi arena friksi antara Satpol PP nan akan mengeksekusi huma tersebut dengan warga di sekitar makam.



Sejarah Mbah Priok dan Tanjung Priok

Mbah Priok ialah seorang ulama. Masyarakat menyebutnya Habib. Mbah Priok dilahirkan di Palembang pada 1727 dengan nama Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad RA. Menurut catatan sejarah, pada 1756 Habib Hasan bin Muhammad bersama Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad RA pergi ke Pulau Jawa buat menyebarkan agama Islam.

Akhirnya, Habib Hasan bin Muhammad bersama Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad RA berlayar menuju Batavia selama dua bulan. Aneka rintangan menghadang. Cerita nan tersebar dari mulut ke mulut, syahdan salah satu rintangan nan dihadapai oleh rombongan Habib atau Mbah Priok di jalan ialah agresi armada Belanda dengan persenjataan lengkap. Tanpa peringatan, bahtera Habib dihujani meriam. Namun, tidak satu pun meriam mengenai kapal.

Lolos dari agresi dan kejaran bahtera Belanda, kapal Habib terkena ombak besar. Semua perlengkapan di dalam kapal hanyut terbawa ombak. Barang-barang nan masih dapat digunakan hanya alat penanak nasi dan beberapa liter beras nan berceceran. Selanjutnya, ombak nan lebih besar kembali menghantam. Hantaman ombak nan kedua kalinya itu lebih keras sehingga membuat kapal terbalik. Dengan kondisi nan lemah dan dan tidak berdaya, kedua ulama itu terseret hingga ke semenanjung nan saat itu belum bernama.

Setelah terdampar di sebuah semenanjung, kedua ulama itu ditemukan warga. Akan tetapi, saat ditemukan kondisi Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad sudah dalam keadaan tak bernyawa, sedangkan Muhammad Al Hadad masih hidup. Di samping keduanya, terdapat periuk dan sebuah dayung. Akhirnya, warga memakamkan jenazah Habib Hasan tak jauh dari tempatnya ditemukan. Sebagai tanda, makam Habib diberi nisan berupa dayung nan menyertainya, sedangkan periuk diletakkan di sisi makam.

Konon, dayung nan dijadikan nisan Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad tumbuh menjadi pohon tanjung. Sementara itu, periuk nan asalnya diletakkan di sisi makam terbawa arus ombak hingga ke tengah laut. Menurut cerita, selama tiga hingga empat tahun setelah pemakaman itu, warga beberapa kali melihat periuk nan terseret ombak kembali menghampiri makam Habib.

Kisah periuk tersebut dipercaya sebagai latar belakang sebutan Priok buat kawasan nan berada di kawasan utara Jakarta ini. Sementara itu, sebutan "Mbah" diberikan kepada Habib Hassan nan merupakan sebuah penghormatan terhadap beliau. Kisah periuk nasi dan dayung nan menjadi pohon tanjung lantas diyakini sebagai asal usul nama Tanjung Priok bagi kawasan tersebut. Setelah peristiwa tersebut, sejumlah keluarga Habib Hassan pun ikut pindah ke Batavia menyebarkan Islam dan mengurus makamnya.

Sementara itu, rekan perjalanan Mbah Priok , Habib Ali Al Haddad, dikabarkan sempat menetap di daerah itu. Lalu, dia menyebarkan agama Islam hingga ke Pulau Sumbawa. Kemudian, dia memutuskan buat menetap di Sumbawa dan mati di sana.

Memang banyak beredar kabar mengenai siap sebenarnya sosok Mabh Prio ini. Mengenai asal muasal sejarah - sejarah makam akan seorang habib ini banyak beredar kabar nan berbeda - beda. Hingga polemik mengenai keberadaan makam Habib Hasan ini pun muncul di kalngan masyarkat sehingga menyebabkan pertumpahan darah antara Satpol PP dan juga masyarakat. Hingga banyak disoaran dalam berbagai macam warta di televisi maupun nan lainnya bahwa perdebatan akan makam Mbah Priok ini telah menelan korban luka - luka hingga korban jiwa.

Pada awal mulanya keberadaan makam orisinil Mabh Priok ini berada di kawasan Pondok Dayung. Kemudian makam tersebut di pindahkan ke loka nan saat ini masih menjadi perdebatan kalangan masyarakat. Seiring dengan berjalannya waktu, kawasan makam Habib Hasan nan disebut sebagai Mbah Priok ini menjadi pelabuhan terpadu tanjung priok. Sampai saat ini makam Habib hasan ini menjadi salah satu loka ziarah yag di datangi ole peziarah di seluruh pelosok Indonesia.

Makam nan disebut - sebut sebagai ulama ini, sekarang berada di dekat Terminal Peti Kemas atau TPK Koja, Jakarta Utara. Selain makam, loka ini juga digunakan buat oerumahan warga. Dari sinilah munculnya polemik perselisihan antara pihak pelabuhan, warga dan pakar waris nan mengaku pakar waris dari Habib hasan ini. Banyak orang nan mempertahankan wilayah ini dikarenakan mereka ialah oengikut ajaran Mbah Priok nan disebut - sebut sebagai seorang ulama Habib Hasan.

Aksi pembongkaran makam Habib Hasan Alhadad nan lebih populer dengan sebutan Mbah Priok ini mendapat tentangan keras dari warga sekitar makam tersebut. warga menolak penggusuran makam Habib Hasan ini, sebab mengangga makam ini keramat dan menjadi tepat bersejarah bagibperkembangan Islam di Jakarta atau Betawi. Habib Hasan Alhadad ini dianggapsebagai ulama mujahid dan juru dakwah Islam nan memperkenalkan Islam ke daerah tersebut. nama Tanjung Priok sendiri di ambil dari nama populernya Habib Hasan Alhadad tersebut.

Bentrokan antara warga dan Satpol PP dan Polisi akan penggusuran makam ini sudah tak dapat terelakkan lagi. Hal ini kemudian mengakibatan pertumpahan darah nan di akibatkan keberingasan Satpol PP dan Polisi serta Warga sekitar akam tersebut.

Aksi lempar batu nan terjadi antara aparat dan warga sekitarpun semakin tidak dapat terhindarkan lagi. Friksi terjadi hingga daerah jalan Jampea. Keberingasan kedua belah pihakpun mengakibatkan kerugian bagi orang banyak. Motor nan entah milik siapapun menjadi incaran kemarahan warga.

Di tengah jalan raya jampea ini, warga nan menolak penggusuran makam Mbah Priok ini menunjukkan kemarahannya dengan cara membakar benda - benda nan ada di sekitar loka tersebut. Mulai dari sepeda motor nan tak diketahui siap pemiliknya, bangku - bangku Satpol PP, balok kayu, hingga benda - benda nan lainnya. Tidak hanya itu, pintu masuk ke area makam pun terjadi friksi nan tak kalah bengisnya.

Tidak hanya itu, friksi antara warga selitar nan menolak makam Mabh Priok dengan aparat pun berlanjut hingga RSUD nan berjarak sekitar 500 meter dari pintubmasuk makam tersebut. cukup disyangkan memang kejadian tersebut berja;an dengan tanpa adanya pencerahan dari pihak masing - masing. Hal ini sangatlah tiak mencerminkan sikap orang - orang nan beragama nan dapat menyelesaikan maslah dengan cara bermusyawarah terleb8ih dahulu.

Dalam aksi friksi tersebut, warga - warga nan menolak penggusuran makan Mbah Priok itupu membakar mobil Satpol PP nan berada di RSUD. Arus lalu lintaspun terputus sebab warga nan menghadang arus lalu lintas dengan mobil Sapol PP nan telah di bakar lalu di gulingkan ke tengah jalan. Suasan kala itu di Jakarta Utara nan sangat cerah oleh sinar matahari pub menjadi tertutup asap hitam dari aksi pembakaran nan dilakukan oleh para warga di sekitar makam tersebut.