1. Asal Usul Monas dan Makna Ikon Jakarta
Hai kamu! Pernah penasaran sejarah Monas sampai bisa jadi landmark paling hits di Jakarta? Monumen Nasional atau yang akrab dipanggil Monas, berdiri setinggi 132 meter dan jadi simbol kebanggaan bangsa. Dibangun di Lapangan Medan Merdeka, di bawahnya ada museum sejarah seluas 80 × 80 meter yang bisa nampung sekitar 500 orang. Di empat sisinya ada 48 relief, plus 3 relief di tengah, total 51 relief yang menceritakan perjalanan Indonesia dari masa pra‑sejarah sampai era Orde Baru.
Setiap hari, Monas buka untuk kamu mulai jam 08.00 sampai 15.00 WIB, kecuali Senin pekan terakhir tiap bulan yang ditutup buat umum. Jadi, kalau mau mampir, catat dulu jadwalnya ya!
2. Peran Soekarno dalam Mewujudkan Monas
Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, punya visi gede buat tugu Monas. Ide beliau terinspirasi dari Menara Eiffel, ingin Jakarta punya ikon yang sama megahnya. Setelah kembali ke Jakarta pas 1949, beliau mulai nyusun rencana pada 17 Agustus 1961. Arsitek‑arsitek top Indonesia, Soedarsono dan Friedrich Silaban, ikut andil lewat sayembara desain.
Sayembara pertama (1955) menghasilkan 51 desain, tapi belum ada yang cocok. Sayembara kedua (1960) dengan 136 peserta pun belum memuaskan. Akhirnya Soekarno minta Silaban revisi, tapi desainnya dianggap “terlalu luar biasa” dan biaya tinggi. Karena kondisi ekonomi masih rapuh, beliau minta desain yang lebih simpel dan ekonomis. Silaban menolak, lalu Soekarno ajak Soedarsono yang menambahkan angka 17‑8‑45 (tanggal Proklamasi). Desain ini akhirnya disetujui dan pembangunan resmi dimulai.
3. Sejarah Monas Melalui 3 Termin Pembangunan
Pembangunan Monas terbagi dalam tiga fase utama. Termin pertama (1961‑1965) dimulai dengan penancapan 284 pasak beton sebagai fondasi utama, plus 360 pasak bumi untuk museum di bawahnya. Dinding museum selesai Oktober 1962, dan obelisk selesai Agustus 1963.
Termin kedua (1966‑1968) sempat terhenti karena situasi politik‑ekonomi yang kacau pas G‑30‑S/PKI. Setelah stabil, pembangunan dilanjutkan lagi.
Termin ketiga (1969‑1976) menambahkan relief‑relief pada museum. Meski ada masalah kebocoran air, Monas akhirnya diresmikan pada 12 Juli 1975 oleh Presiden kedua, H.M. Soeharto, dan dibuka untuk publik.
4. Keunikan Lidah Barah Emas di Puncak Monas
Salah satu hal yang bikin kamu takjub adalah Lidah Barah berlapis emas setinggi 14 meter dengan diameter 6 meter. Lampu ini melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia. Emasnya awalnya sumbangan dari Teuku Markam, seorang pengusaha kaya Aceh, beratnya 35 kg. Pada 1995, lidah barah kembali dilapisi emas sehingga beratnya naik menjadi 50 kg.
Jika dilihat dekat, patung lidah barah menyerupai seorang perempuan duduk bersimpuh dengan rambut panjang mengalir. Siapa sebenarnya sosok ini masih misteri, tapi kehadirannya menambah aura magis Monas.
5. Monas Sekarang: Spot Foto & Wisata Edukatif
Sekarang Monas jadi destinasi wajib buat warga Jakarta dan wisatawan. Banyak yang bilang, “Kalau ke Jakarta belum ke Monas, belum lengkap!” Selain foto-foto Instagramable, kamu juga bisa masuk museum, naik lift ke observatorium, dan menikmati panorama kota dari atas. Jadi, jangan lupa sisipkan Monas dalam itinerary kamu ya!