1. Fenomena Langit di Semarang yang Bikin Penasaran
Hai kamu! Pada malam Kamis, 15 Juli 2010, langit kota Semarang sempat jadi panggung benda luar angkasa yang super misterius. Sekitar pukul 11.30 WIB, penampakan UFO pertama kali terdeteksi oleh Angga Surya Adiputra (20) yang lagi menyorottt ke arah timur pakai teleskop pribadinya. Dari situ, cerita jadi viral dan sampai sekarang belum ada yang bisa jelasin apa sebenarnya benda itu.
Angga nyeritain kalau benda itu ngeluarin lampu hijau dan merah yang kedip‑kedip, bikin bentuk segitiga di langit. Lampu hijau kayak badan utama, sedangkan merah jadi “ekor” yang ngeluarin cahaya. Karena gelap banget, bentuk detailnya masih samar, tapi pola cahaya segitiga itu jelas kelihatan.
Ibu Angga, Sri Pratiningsih, juga sempat ngeliat langsung. Ia bilang benda itu kelihatan “aneh banget” dan pastinya bukan mainan karena terbang tinggi banget. Sri yakin benda itu bukan pesawat konvensional; gerakannya maju‑mundur, putar‑putar, dan bahkan bisa terbang melingkar.
Ternyata, bukan cuma keluarga Angga yang ngeliat. Seorang warga yang rumahnya cuma 2 km jauhnya juga melaporkan hal serupa. Benda itu terus melayang sekitar satu setengah jam, lalu akhirnya turun sekitar pukul 01.00 WIB. Saat turun, lampu merah dikedip‑kedip ke samping, gerakan meluncur menyamping, dan ukuran benda tampak makin gede seiring mendekat ke tanah.
2. Sejarah Penelitian UFO dari Abad ke‑Abad
Penelitian tentang penampakan UFO udah dimulai sejak abad ke‑13. Pada 1235, Jenderal Yoritsume dari Jepang melaporkan cahaya misterius di langit, lalu menugaskan tim peneliti untuk selidiki. Era modernnya mulai serius tahun 1933 setelah kejadian “Ghost Plane” di Skandinavia, dan di Australia sejak 1920 karena hilangnya kapal SS Amelia J di Selat Bass yang bersamaan dengan cahaya aneh.
Di Amerika, laporan paling ikonik datang dari Kenneth Arnold pada 24 Juni 1947. Ia melihat sembilan objek terbang berbentuk “piring konveks” di atas Gunung Rainier. Sejak saat itu, istilah “Piring Terbang” melejit dan menjadi bahan khayalan banyak orang.
Di Indonesia, istilah UFO dikenal dengan BETA (Benda Terbang Aneh) yang pertama kali dipopulerkan oleh LAPAN pada era 1990‑an. Ada juga istilah BETEDI (Benda Terbang Belum Dikenal) yang dipopulerkan oleh C.M. Tanadi, seorang akuntan sekaligus penulis buku terjemahan tentang fenomena langit misterius.
Meski sudah ratusan tahun diteliti, sampai kini belum ada konfirmasi definitif tentang asal‑usul benda‑benda ini. Namun, semangat peneliti masih tinggi, apalagi dengan dukungan satelit modern yang terus memantau fenomena luar angkasa.
3. Kawah Tabrakan: Jejak Benda Luar Angkasa di Bumi
Kawah tabrakan terbentuk ketika meteor, asteroid, atau komet menabrak permukaan planet. Di Bumi, sudah tercatat lebih dari 120 kaldera tabrakan, kebanyakan berada di Amerika Utara, Eropa, dan Australia. Satelit luar angkasa yang mengorbit Bumi membantu ilmuwan meneliti struktur‑struktur sulit dijangkau ini.
Contoh paling terkenal di Amerika adalah Barringten Crater di Arizona, yang pertama kali diidentifikasi pada 1920. Di dalamnya ditemukan sisa‑sisa meteorit, serta pecahan‑pecahan kecil yang memberi petunjuk tentang komposisi benda luar angkasa yang menghantam.
Studi tentang kaldera ini nggak cuma penting buat geologi, tapi juga bantu kita memahami seberapa sering benda luar angkasa berinteraksi dengan planet kita. Siapa tahu, suatu hari nanti penemuan baru dari kawah ini bisa memberi jawaban atas misteri yang masih menggantung di atas kota Semarang.