1. Geografi Keren Bima yang Bikin Mata Melotot
Pas kamu nyelam ke Pulau Sumbawa, pasti bakal nemuin Bima Nusa Tenggara Barat yang terletak di ujung timur pulau. Daerah ini punya topografi beragam: 70 % wilayahnya berupa dataran tinggi yang menantang, sisanya 30 % dataran rendah yang masih berisi huma‑kering. Karena curah hujan yang cenderung rendah (rata‑rata cuma 58,75 mm per tahun), pertanian di sini memang agak sulit buat dikembangin, tapi justru bikin landscape‑nya makin eksotis.
Bima punya lima gunung yang keren, termasuk Gunung Soromandi (4.775 m) di Kecamatan Donggo. Empat gunung lain—Lambitu, Maria, Sangiang, dan Tambora—menyebar di seluruh kabupaten, jadi cocok buat kamu yang suka trekking atau sekadar foto sunrise. Dataran terendahnya cuma sekitar 5 meter di atas permukaan laut, terletak di Kecamatan Sanggar dan Sape, jadi kamu bakal lihat kontras antara pegunungan tinggi dan pantai yang tenang.
Batas wilayah Bima? Di utara ada Bahari Flores, timur Selat Sape, selatan Samudra Indonesia, dan barat Kabupaten Dompu. Pada 2002, Bima punya 14 kecamatan dengan total luas 437,5 ha, lalu pada 2007 ditambah empat kecamatan baru (Lambitu, Pali'belo, Parado, Soromandi) jadi total 18 kecamatan dan luasnya naik jadi 459,7 ha.
2. Sejarah Seru Bima: Dari Kerajaan Sampai Kesultanan
Kalau ngomongin Sejarah Bima, ceritanya udah dimulai sejak abad ke‑17. Kabupaten Bima resmi berdiri pada 5 Juli 1640 dengan dasar pemerintahan Syariat Islam, jauh sebelum Indonesia merdeka. Sultan pertama yang dinobatkan saat itu adalah Sultan Abdul Kahir, dan tanggal 5 Juli tiap tahun dirayain sebagai ulang tahun Bima.
Awalnya Bima adalah kerajaan yang dibagi jadi lima wilayah, masing‑masing dipimpin oleh ncuhi (pemimpin lokal). Ncuhi Dara jadi pimpinan utama, dan semua keputusan penting diambil lewat musyawarah mufakat. Cerita asal‑usul kerajaan ini mirip legenda Pandawa: Maharaja Pandu Dewata punya lima anak, salah satunya bernama Bima yang kemudian berlayar ke timur, singgah di Pulau Satonda, dan menyatukan kelima ncuhi menjadi satu kerajaan yang dikenal sebagai Kerajaan Bima.
Gelar pertama raja Bima adalah Sangaji. Setelah mengimplementasikan hadat (adat) sebagai dasar pemerintahan, beliau menyerahkan kekuasaan ke Ncuhi Dara dan melanjutkan perjalanan ke timur. Pada abad ke‑14/15, Indra Zamrud (anak Sangaji) kembali naik takhta, dan selanjutnya kerajaan bertransformasi menjadi Kesultanan Bima ketika Islam masuk pada abad ke‑16.
Hubungan antar‑kesultanan juga lumayan seru. Sejak 1625, Kesultanan Bima menjalin kekerabatan dengan Kesultanan Gowa lewat pernikahan antar putra‑putri mahkota. Hubungan ini terputus pada 1819, tapi catatan menunjukkan masih ada pernikahan antar keturunan pada awal 1900‑an. Sultan terakhir Bima, Sultan Muhammad Salahuddin, memerintah hingga era modern, dan anak perempuannya, Siti Maryam (lahir 13 Juni 1927), menyumbangkan banyak naskah antik seperti Bo Sangaji Kai yang kini tersimpan di museum Belanda dan Perpustakaan Nasional Indonesia.
3. Warisan Budaya yang Masih Hidup di Bima
Setelah Indonesia merdeka, status Kesultanan Bima resmi dihapus lewat undang‑undang swapraja pada 1957. Bangunan‑bangunan bersejarah yang dulu dipakai raja‑raja kini dijadiin museum, menampilkan perabotan, mahkota, pedang, serta naskah kuno. Naskah Bo Sangaji Kai berisi catatan pemerintahan, interaksi dengan raja‑raja Jawa, dan perjanjian dengan Belanda, dimulai dari abad ke‑14.
Kalau kamu tertarik eksplor budaya, jangan lewatkan kunjungan ke desa‑desa asli seperti Donggo (dusun Padende) di mana penduduk asli menyebut diri mereka Dou Donggo (pantai) dan Dou Mbojo (pedalaman). Di sana kamu bakal temuin keramahan penduduk yang berasal dari beragam suku: Jawa, Madura, Maluku, Nusa Tenggara Timur, bahkan Sulawesi Selatan.
Jadi, Bima Nusa Tenggara Barat bukan cuma tempat wisata alam yang keren, tapi juga gudangnya sejarah, budaya, dan cerita-cerita epik yang siap bikin kamu makin jatuh cinta sama Indonesia.