Lewati ke konten

Mitos & Fakta: Hukum Onani di Islam & Kristen yang Harus Kamu Tahu!

Hey kamu! Pernah kepikiran apa sih sebenarnya onani itu dan gimana pandangan dua agama besar soal hal itu? Yuk, kita kulik bareng-bareng dengan bahasa yang santai tapi tetap informatif. Artikel ini bakal ngebahas asal‑usul istilah, perbedaan istilah dalam Islam, serta apa kata Islam dan Kristen tentang praktik ini.

1. Hukum Onani dalam Kristen

Kalau liat kisah Onan di Kitab Kejadian, jelas banget kalau hukum onani dalam Kristen dianggap terlarang. Cerita tentang Onan yang “ngelakuin” hal itu bikin beliau (yang dimaksud di sini adalah Onan) dihukum mati karena “menyembunyikan keturunan”.

Berbagai ayat lain di Perjanjian Baru juga ngasih sinyal kuat soal hal ini. Misalnya di Matius 5:27‑28, “Jangan berzina,” dan “Setiap orang yang memandang perempuan dengan nafsu sudah berzina di hati.” Jadi, kalau kamu ngebayangin atau nonton konten dewasa, itu udah masuk dalam kategori yang dilarang.

Di Roma 13 dan 1 Korintus 6, disebutkan soal “menjauhkan diri dari percabulan.” Intinya, Kristen menekankan kontrol diri dan menjaga tubuh sebagai “badan milik Tuhan”.

2. Apa Itu Onani?

Secara simpel, onani atau masturbasi adalah tindakan mengeluarkan mani dengan cara sendiri tanpa melibatkan pasangan. Di dunia modern, istilah ini udah meluas jadi “self‑pleasure”. Di era digital, banyak cara yang dipake: lewat fantasi, video, atau bahkan chat.

Di dalam sejarah, istilah onani pertama kali muncul di konteks Kristen lewat cerita Onan. Dalam Islam, ada istilah azl (menahan ejakulasi) dan istimna (keluar mani di luar hubungan suami‑istri). Kedua istilah ini punya nuansa hukum yang beda‑beda.

3. Pandangan Ulama Tentang Azl

Beberapa sahabat Nabi, kayak Jabir bin Abdullah, pernah praktik azl pada masa Rasulullah SAW. Diriwayatkan beliau (Rasulullah) tidak melarangnya secara tegas. Namun, sebagian ulama menganggap azl makruh (sebaiknya dihindari) karena dianggap “memutuskan keturunan”.

Contohnya, Imam Nawawi menilai azl sebagai “perbuatan yang tidak dianjurkan”. Di sisi lain, Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa “mani adalah kelebihan tubuh, jadi boleh dikeluarkan”—mirip kayak memotong daging yang berlebih. Pendapat ini juga didukung oleh Ibnu Hazm.

4. Hukum Onani dalam Islam

Mayoritas ulama Islam menilai onani (atau istimna) haram. Imam Malik, misalnya, merujuk pada Al‑Qur’an (Al‑Mu’minun 5‑7) yang menegaskan “jangan melampaui batas”. Begitu juga madzhab Syafi’i yang menguatkan pendapat ini.

Namun, ada kalangan Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Imam Ahmad yang menyebutnya makruh tanzih (sebaiknya dihindari). Mereka berargumen bahwa onani bukan perbuatan terpuji, jadi tidak dianjurkan.

Beberapa ulama bahkan memberi “kelonggaran” dengan syarat khusus, misalnya untuk menghindari zina atau karena tidak mampu menikah. Ibnu Abbas dan al‑Hasan mengaku bahwa pada masa perang dulu, onani dipraktikkan untuk menjaga kebersihan diri.

5. Kapan Onani Boleh?

Menurut sebagian ulama yang lebih lunak, onani boleh dilakukan bila:

  • Tak ada pasangan (bujang/putri) dan ingin mengontrol hawa nafsu.
  • Tak ingin terjerumus ke zina karena situasi sulit, misalnya ketika pasangan sedang jauh.

Walaupun ada pengecualian, mayoritas tetap mengingatkan supaya tidak menjadi “pintu gerbang” menuju perbuatan yang lebih besar.

6. Kesimpulan: Apa yang Harus Kamu Lakukan?

Jadi, intinya hukum onani di Islam dan Kristen cenderung negatif, walaupun ada perbedaan detail. Kedua agama menekankan pentingnya mengendalikan diri, menjaga kebersihan hati, dan menghindari perbuatan yang dapat menjerumuskan pada dosa.

Kalau kamu masih bingung, coba deh diskusi dengan orang yang kamu percaya atau cari ilmu lebih dalam lewat sumber yang terpercaya. Semoga artikel ini membantu kamu memahami topik yang kadang tabu ini dengan cara yang lebih fresh dan mudah dicerna!

Artikel Lain di Ilmu Sosial