Lewati ke konten

Allama Iqbal: Sang Penyair Revolusi yang Bikin Negara Pakistan Jadi Nyata

Hai kamu! Yuk, kenalan lebih deket sama sosok legendaris yang bikin Negara Pakistan terbentuk lewat tinta pena, bukan senjata. Tokoh yang satu ini dikenal sebagai Allama Iqbal, seorang penyair, filosof, dan pejuang Islam yang visioner. Semua kisahnya penuh inspirasi, jadi siap-siap terpesona!

1. Karya Sastra yang Menggugah Jiwa

Semua tulisan Allama Iqbal terinspirasi dari Al‑Qur’an. Sejak kecil, beliau belajar Al‑Qur’an bareng ayahnya, jadi tiap bait puisinya selalu ngangkat tema cinta tertinggi—cinta kepada Allah dan Rasul‑Nya. Beberapa karya paling hitsnya antara lain:

  • Asrar‑ul‑Khudi (Rahasia Diri)
  • Payam‑ul‑Masyriq (Pesan dari Timur)
  • Navid‑Namah (Kitab Keabadian)

Buku‑buku pentingnya meliputi Reconstruction of Religious Thought in Islam dan The Reconstruction of Muslim Jurisprudence. Karya‑karya ini bukan cuma sekadar tulisan, tapi jadi bahan bakar pemikiran Islam modern.

2. Jejak Karir di Dunia Politik

Setelah balik dari Eropa dengan segudang ilmu, beliau gabung lagi di kolese pemerintah sebagai profesor Filsafat Islam dan sastra Inggris. Tapi, gak puas jadi akademisi doang, Allama Iqbal melangkah ke arena politik. Pada 1908, beliau gabung Komite Inggris Perserikatan Muslim se‑India, terus terpilih jadi anggota legislatif Punjab.

Melihat kondisi umat Muslim di India yang tertekan, beliau terus menyerukan pentingnya negara merdeka bagi Muslim. Pidatonya di 1930 jadi momentum utama pembentukan Negara Pakistan. Karena peran besarnya, beliau dijuluki “Bapak Pendiri Pakistan”.

3. Awal Kehidupan dan Keluarga

Lahir di Sialkot, Punjab pada 9 November 1877, Allama Iqbal dibesarkan dalam keluarga kelas menengah yang taat Islam. Ayahnya, Syekh Nur Muhammad, meski cuma penjahit, tetap menjadi sumber ilmu agama yang luas. Ibunya, Imam Bibi, terkenal dermawan dan penuh kasih. Cinta beliau pada ibunya begitu kuat sampai ketika beliau meninggal, Allama Iqbal menulis puisi khusus untuk mengenang beliau.

Dari usia 4 tahun, nilai‑nilai Islam udah tertanam kuat. Lingkungan keluarga yang aman bikin beliau tumbuh jadi anak kritis, kreatif, dan selalu penasaran.

4. Pendidikan yang Membuka Wawasan

Setelah lulus dari Scotch Mission College di Sialkot, beliau pindah ke Lahore dan masuk ke kolese pemerintah, belajar di bawah Sir Thomas Arnold, pakar Islam dan filsafat modern. Lulus cum laude, Allama Iqbal lanjut S2 di bidang filsafat, jadi pengajar bahasa Arab di Universitas Oriental, Lahore.

Pada 1905, beliau melanjutkan studi hukum di Lincoln’s Inn, London, lalu menambah ilmu filsafat di Universitas Cambridge. Tidak lama setelahnya, beliau menyelesaikan disertasi doktoral di Universitas Munich, Jerman dengan judul “Perkembangan Metafisika di Persia” pada 1907.

5. Kehidupan Pribadi yang Penuh Warna

Setelah menyelesaikan kuliah, Allama Iqbal menikah tiga kali. Pernikahan pertamanya dengan Karim Bibi, putri ilmuwan fisika Khan Bahadur Ata Muhammad Khan, menghasilkan dua anak: Miraj Begum dan Aftab Iqbal. Dari pernikahan kedua dengan Sardar Begum, beliau dikaruniai Javid Iqbal. Pernikahan ketiga bersama Mukhtar Begum terjadi pada Desember 1914.

6. Akhir Hayat Sang Penyair

Antara 1934‑1938, Allama Iqbal mengalami sakit berkepanjangan setelah perjalanan ke Spanyol dan Afghanistan. Di sisa waktunya, beliau mengembangkan Darul Islam Trust Institute di Real Jamalpur bareng Chaudhry Niaz Ali Khan.

Pada 21 April 1938, beliau menghembuskan napas terakhir dan dimakamkan di Masjid Badshahi, Lahore. Sayangnya, beliau tidak sempat melihat Negara Pakistan merdeka. Namun, pada 1947, impian beliau terwujud, dan Pakistan berdiri sebagai negara merdeka.

7. Warisan Pemikiran yang Tetap Hidup

Sebelum mengakhiri hidupnya, Allama Iqbal menuliskan puisi terakhir yang mengisyaratkan keabadian pemikirannya:

Bila saya telah meninggalkan dunia ini
Tiap orang berkata bahwa mereka mengenal hamba Allah ini
Tapi sebenarnya, tiada seorangpun mengenal pengelana ini
Siapa nan saya ajak bicara dan darimana saya datang

Puisi ini jadi bukti bahwa semangat beliau tetap hidup dalam setiap generasi yang menginginkan perubahan positif. Jadi, kalau kamu lagi cari inspirasi, ingatlah Allama Iqbal—penyair yang bukannya hanya menulis, tapi juga menggerakkan dunia.

Artikel Lain di Profil