Hai kamu! Yuk, intip bareng-bareng kebudayaan Kejawen yang masih eksis kuat di Jawa Tengah. Tradisi‑tradisinya penuh warna, penuh makna, dan pastinya seru buat dipelajarin. Di artikel ini, kita bakal ngobrol santai soal tiga jenis upacara utama yang sering dijadiin momen kumpul keluarga, tetangga, bahkan raja‑raja setempat. Siap?
1. Grebegan: Sedekah Rakyat yang Bikin Hati Lega
Grebegan diadakan tiga kali setahun, biasanya pada tanggal 12 Mulud, 1 Syawal, dan sekitar tanggal 10 Besar. Acara ini dipimpin beliau raja atau pemimpin daerah, kayak raja Solo atau Yogyakarta. Tujuannya? mengeluarkan sedekah sebagai ungkapan syukur ke hadirat Tuhan YME atas segala kemakmuran.
Gunungan yang dibawa ada dua: gunungan kakung (pria) yang berbentuk kerucut penuh kacang panjang, cabai merah, telur bebek, dan bendera kecil Indonesia; serta gunungan estri (wanita) yang isinya kue-kue tradisional dari tepung beras, kayak kue mangkok, putu, dan lain‑lain, dihias rangkaian kembang.
Serunya, di Demak, grebeg biasanya dibuka dengan ziarah ke makam Sultan‑Sultan Demak & Sunan Kalijaga. Bupati, Muspida, dan pejabat lain bareng pasangan mereka ngunjungi makam, terus dilanjutin Selamatan Tumpeng Sanga di Masjid Agung Demak menjelang Idul Adha.
2. Selamatan: Rutin Doa & Makan Bareng yang Bikin Kedekatan
Selamatan itu semacam acara doa bareng buat minta restu atau merayakan sesuatu. Biasanya dihadiri tetua desa, tetangga, sanak saudara, dan keluarga inti. Setelah doa selesai, tamu dibere besekan atau berkat berupa makanan basah (nasi, lauk, kue) atau kering (mi instan, kecap, minyak goreng, saus).
Berbagai jenis selamatan yang sering dijumpai:
a. Kenduren Badan (Lebaran) atau Mudunan
Diadakan pas Idul Fitri, tujuan utama beliau mengantarkan arwah leluhur kembali ke peristirahatannya. Sebelum upacara, keluarga biasanya nyekar ke makam dulu.
b. Kenduren Likuran
Berlangsung tiap tanggal 21 Ramadan, memperingati Nuzulul Quran. Biasanya di rumah ketua RT, dan tiap undangan bawa makanan sendiri kayak lodeh krecek, sambal goreng kentang, rempeyek, kerupuk, dan lalapan.
c. Kenduren Ujar (Tujuan Tertentu)
Biasanya di bulan Suro (Muharam) untuk keluarga yang punya nazar khusus. Ritual dimulai dengan nyekar ke makam, dan menu wajibnya ayam panggang utuh plus gudangan (urap).
d. Kenduren Wetonan
Ini khusus buat merayakan hari lahir (weton) seseorang. Dilakukan tiap selapan hari (sekitar sebulan sekali). Menu utama cuma tumpeng, sayur, lalapan, tempe goreng, thepleng, dan srundeng—tanpa ayam panggang.
e. Kenduren Sabanan (Munggahan)
Diadakan bulan Sya'ban, biasanya di desa‑desa seperti Watulawang. Sebelum upacara, ada ritual nyekar (atau “tilik” dalam bahasa setempat) dengan bawa kembang, menyan, dan empos. Tradisi bakar kemenyan juga tetap dijaga, dan menu wajibnya ayam panggang (ingkung).
3. Sekaten: Pesta Gamelan & Rangkaian Ritual yang Meriah
Asal‑usul sekaten datang dari Kerajaan Demak, yang mengadopsi istilah Islam “syahadatan” buat merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sekaten dimulai dengan pasar malam selama satu bulan, terus dua gamelan sakral—Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari—dipajang selama enam hari, dan dibunyikan pada hari ketujuh.
Sunan Kalijogo (yang kini disebut beliau) dulu pakai gamelan untuk menarik warga ikut meramaikan acara. Persiapan sekaten meliputi dua hal: fisik (alat‑alat gamelan, uang logam, kembang kanthil, busana, dsb) dan spiritual (puasa, siram jamas) bagi abdi‑dalem kraton yang bakal menabuh gamelan.
Acara ditutup dengan gunungan Mulud, berisi jajanan pasar dan hasil bumi sebagai tanda syukur.
Itulah sekilas upacara adat Jawa Tengah yang penuh warna. Semoga kamu makin tertarik dan bisa mengapresiasi kekayaan budaya kita. Jangan lupa share ke temen‑temen biar makin banyak yang tahu, ya!