Petrokimia Gresik: Dari Pabrik Besi ke Lapangan Hijau & Sepakbola, Semua Bikin Kamu Penasaran
Daftar Isi
Produk Keren dari Petrokimia Gresik
Kalau kamu mikir Petrokimia Gresik cuma bikin pupuk doang, kamu salah besar! Mereka nyediain dua kategori produk: pupuk dan non‑pupuk. Di sisi pupuk, ada urea, ZA (zwavelzure ammoniak), SP‑36, ZK, phonska, NPK, pupuk organik, petro‑biofertil, KCL, sampai fosfat. Sementara di jajaran non‑pupuk, ada cement retarder buat semen, berbagai bahan kimia kayak amoniak, asam sulfat, asam fosfat, aluminium fluorida, CO₂ cair & dry ice, asam klorida, oksigen, nitrogen, hidrogen, dan gipsum. Gak ketinggalan, petroseed & petro hibrid (benih padi varietas Ciherang, Mira I, Bestari), petrofish, petrochick, kaptan (kapur petani), serta dekomposer buat percepat pembusukan kompos.
Kapasitas total produksi mereka mencapai 6.077.600 ton per tahun, dengan 4.430.000 ton untuk pupuk dan 1.647.600 ton untuk non‑pupuk. Gak cuma itu, fasilitas pendukungnya lengkap: dermaga 625 m, dua pembangkit listrik (PLTG & PLTU) total 53 MW, dua unit penjernihan air yang nyuplai 3.200 m³/jam ke Gresik, serta laboratorium, kebun percobaan, dan unit pengolahan limbah.
Sejarah Singkat Petrokimia Gresik
Awal‑mulanya, Petrokimia Gresik dibangun tahun 1962 sebagai bagian dari proyek Petrokimia Surabaya. Setelah proyek selesai 1972, lokasi yang dipilih buat pabrik adalah Gresik. Pada 10 Juli 1972, pabrik resmi dibuka oleh Presiden Suharto. Awalnya bentuknya perusahaan umum, lalu berubah jadi PT Perseroan Terbatas pada 1974.
Pada tahun 1997, pemerintah menggabungkan beberapa perusahaan pupuk jadi satu unit di bawah PT Pupuk Sriwidjaja. Di antara yang gabung ada Petrokimia Gresik, Pupuk Kujang, Pupuk Kalimantan Timur, Pupuk Iskandar Muda, Rekayasa Industri, dan Mega Eltra. Setelah itu, Petrokimia Gresik dapet tanggung jawab distribusi pupuk bersubsidi di sebagian besar Jawa Timur.
Program CSR Petrokimia Gresik yang Bikin Komunitas Lebih Cerah
Bergerak di bidang Corporate Social Responsibility (CSR), Petrokimia Gresik punya dua program utama: Bina Lingkungan dan Kemitraan. Bina Lingkungan pakai sebagian keuntungan buat donasi alam, pendidikan, kesehatan, fasilitas umum, serta pemugaran tempat ibadah. Meskipun respon masyarakat positif, tantangannya masih koordinasi data penerima.
Kemitraan difokusin ke UKM. Mereka ngasih pinjaman modal, kolaborasi sama BUMN lain, kerjasama dengan pemerintah daerah, serta dukungan perbankan dengan agunan. Pada 2011, dana pinjaman mencapai 164 miliar rupiah dengan tingkat macet cuma 15 %, membantu sekitar 12.000 UKM.
Program unik lainnya adalah LOLAPIL (Latihan Keterampilan Industri Kimia). Selama enam bulan, lulusan SMA IPA atau SMK Kimia dilatih operasional pabrik tanpa biaya, lengkap dengan akomodasi dan uang saku.
Selain itu, Petrokimia Gresik ikut dalam Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K). Mereka bantu intensifikasi lahan pertanian, dengan pola pemupukan seimbang: 500 kg petroganik, 300 kg phonska, 200 kg urea per hektar, menghasilkan peningkatan produksi sampai 8,7 ton gabah kering per hektar.
Petrokimia Gresik di Dunia Sepakbola
Siapa sangka, nama Petrokimia Gresik juga pernah bersinar di lapangan hijau! Klub Petrokimia Putra Gresik pernah jadi juara Perserikatan Indonesia tahun 2002. Bintang legendarisnya, Widodo Cahyono Putro, bersinar di tim nasional pada pertengahan 90‑an sampai awal 2000‑an.
Sayangnya, setelah kemenangan, tim sempat terdegradasi ke divisi satu, lalu pada 2005 bergabung dengan Liga Sepakbola Gresik (Persegres) yang sekarang lebih dikenal sebagai Gresik United. Petrokimia Gresik juga mendirikan Stadion Tri Dharma (alias Stadion Petrokimia) yang bisa nampung 25.000 penonton.
Infrastruktur & Fasilitas Penunjang Produksi
Untuk mendukung semua aktivitas produksi, Petrokimia Gresik punya dermaga 625 m panjang, bisa sandar tiga kapal 40.000 ton plus satu kapal 10.000 ton. Kapasitas bongkar‑muatnya sampai 16.500 ton per hari. Dua pembangkit listrik (PLTG & PLTU) total 53 MW nyediain energi, sementara dua unit penjernihan air ambil air dari Sungai Brantas dan Bengawan Solo, memastikan suplai air higienis ke kota.
Selain itu, ada unit pengolahan limbah, laboratorium riset, dan kebun percobaan yang terus dikembangkan untuk inovasi produk kimia dan pertanian.