Lewati ke konten

Kenalan Sama James Sidis: Si orang terpintar di dunia yang Bikin Kita Terpukau

Hai kamu! Pernah denger tentang James Sidis? Beliau itu bukan cuma nama yang aneh-aneh di buku sejarah, melainkan orang terpintar di dunia yang IQ‑nya nyampe IQ 250. Yuk, kita kulik bareng kisah seru beliau yang penuh warna, dari masa kecil sampai akhir hayatnya.

1. Kehidupan Pribadi & Hobi yang Bikin Santai

Setelah lepas dari sorotan media, James Sidis milih hidup yang lebih tenang di East Coast. Beliau suka ngumpulin karcis trem, nulis majalah kecil, dan sharing ilmu tentang sejarah Amerika ke temen‑temen terdekat. Hobi‑hobi ini bikin hari‑hari beliau terasa lebih relax meskipun tetap penuh semangat.

Walau pernah dapet penghargaan dari The New Yorker pada 1944, beliau harus ngadepin tantangan hukum karena dianggap nyebar info palsu. Akhirnya, beliau menulis pakai nama samaran supaya tetap bisa berbagi pemikiran tanpa harus dibatasi.

2. Awal Mula Kejeniusan yang Mengagumkan

Beliau lahir di New York, 1 April 1898, dari pasangan Boris Sidis (psikolog Harvard) dan Sarah Mandelbaum. Karena ayahnya menentang pendidikan alternatif yang mainstream, James Sidis dijadiin “cobaan” model belajar baru. Hasilnya? Beliau udah bisa makan sendiri saat masih 8 bulan!

Pada usia 28 bulan, James Sidis udah bisa baca New York Times. Gak cuma itu, di umur 8 tahun beliau udah fasih dalam 8 bahasa: Latin, Yunani, Jerman, Perancis, Turki, Armenian, Ibrani, dan tentu saja Bahasa Inggris. Bayangin, belajar 8 bahasa sebelum masuk SD!

3. Petualangan di Harvard University yang Legendaris

Ketika baru 9 tahun, ayahnya udah coba daftarin beliau ke Harvard University, tapi ditolak karena masih terlalu muda. Akhirnya, pada usia 11 tahun, beliau resmi jadi mahasiswa termuda di Harvard, ngasih ceramah tentang Four Dimensional Bodies di klub matematika kampus.

Beliau terus menimba ilmu, sampai pada 16 tahun berhasil dapetin gelar Bachelor of Arts dengan predikat Cum Laude. Gak cuma itu, di usia 17 tahun beliau udah mengajar tiga kelas matematika sekaligus, termasuk Euclidean dan non‑Euclidean geometry, serta trigonometri.

4. Kisah Politik & Kebebasan yang Menginspirasi

Setelah lulus, James Sidis sempat nyemplung ke dunia politik. Beliau ikutan parade sosialis di Boston, yang sayangnya berubah jadi kerusuhan. Karena itu, beliau sempat dipenjara selama 18 bulan.

Selama di penjara, beliau menegaskan bahwa dirinya menolak Perang Dunia I dan tidak percaya pada Tuhan. Ide-ide ini melahirkan pemikiran Libertarianism yang merupakan evolusi dari sosialis Amerika. Ayahnya berusaha membantu beliau keluar dari penjara dan mengirimnya ke sanatorium untuk pemulihan.

Walau banyak tantangan, James Sidis tetap menunjukkan semangat positif. Beliau terus menulis, mengajar, dan berbagi pengetahuan tanpa pernah menyerah pada tekanan publik. Hingga akhir hayatnya, pada usia 46 tahun, beliau tetap menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin menembus batas kemampuan diri.

Artikel Lain di Karya Ilmiah