Lewati ke konten

Sultan Hasanuddin: Si Jagoan Nusantara yang Bikin Belanda Garuk-garuk

1. Kenalan dulu sama Sultan Hasanuddin

Hai kamu! Yuk, kenalan dulu sama Sultan Hasanuddin, salah satu pahlawan nasional yang super keren dari Makassar. Beliau lahir dengan nama panjang I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe pada 12 Januari 1631. Karena memeluk Islam, beliau dapat gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, tapi temen‑temen biasanya manggil beliau cuma “Sultan Hasanuddin”.

2. Awal‑awal hidupnya yang penuh semangat

Beliau tumbuh di keluarga bangsawan, ayahnya I Manuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiung (Sultan Malikussaid) dan ibunya I Sabbe To’mo Lakuntu, putri bangsawan Laikang. Dari kecil, beliau udah nunjukin kecerdasan dan kerja keras. Meski anak bangsawan, beliau tetap rendah hati dan jujur, makanya keluarga dan sahabat selalu sayang sama beliau.

Belajar di Pusat Pendidikan Islam di Masjid Bontoala, beliau dapet bekal agama dan semangat juang yang tinggi. Saat umur 8 tahun, kakek beliau, Sultan Alauddin, meninggal setelah memerintah 46 tahun. Ayahnya naik takhta pada 15 Juni 1639, jadi Sultan Gowa ke‑15.

3. Perjalanan jadi pemimpin cilik

Masuk remaja, beliau suka belajar bareng temen‑temen, termasuk putra‑putra Raja Bone yang ditawan di Gowa. Pada umur 16 tahun, beliau sering diajak ayahnya ikut perundingan penting, belajar taktik perang, diplomasi, dan urusan pemerintahan. Mentor pentingnya, Karaeng Pattingaloang, ngajarin beliau banyak hal tentang tata kelola kerajaan.

Beliau juga ga takut temenan sama orang luar kayak Melayu, Inggris, dan Portugis yang berdagang di Makassar. Jadi, jaringan sosialnya luas banget, dari bangsawan sampe rakyat biasa.

4. Jadi Sultan Gowa ke‑16, tantangan baru

Pada usia 22 tahun, setelah ayahnya wafat, beliau diangkat jadi Raja Gowa ke‑16 pada November 1653. Ayahnya udah ngasih pesan supaya beliau terus tegas, berani, dan melanjutkan perjuangan melawan penjajah Belanda.

Beliau juga nikah sama I Bate Daeng Tommi (I Lo’mo Tombong Karaeng Pabineang), putri Mangngada’ Cinna Daeng Sitaba. Pernikahan ini memperkuat aliansi politik di dalam kerajaan.

5. Strategi melawan Belanda yang licik

Beliau berusaha menyatukan kerajaan‑kerajaan kecil di Indonesia Timur supaya kuat melawan Belanda yang lagi monopo­lis rempah di Maluku. Pada 1660, perang pecah antara Gowa dan Belanda, tapi cepat damai karena kesepakatan sementara.

Namun, pada 1666, Belanda kembali menyerang karena perjanjian dirasa merugikan Gowa. Dengan bantuan Cornelis Speelman dan Arung Palaka, Belanda memecah‑belah persaudaraan antara Bone dan Gowa. Pertempuran sengit, banyak korban, dan benteng‑benteng penting jatuh ke tangan Belanda.

Pada 22 Oktober 1667, armada Belanda yang dipimpin Kapten P. Dopun mengepung Makassar dengan meriam‑meriam besar. Pertempuran melibatkan pasukan Gowa, Bone, Buton, Ternate, dan Maluku. Karena tekanan terus‑menerus, Sultan Hasanuddin memutuskan buat mengadakan Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667 demi mengurangi korban.

Tetapi perjanjian itu cepat batal karena syaratnya merugikan Gowa, termasuk penyerahan benteng Ujung Pandang yang dijadiin “Fort Rotterdam”.

6. Kegigihan yang bikin Belanda tercengang

Tak mau menyerah, pada 21 April 1668 beliau kembali melancarkan serangan ke pos‑pos Belanda. Kekuatan pasukan Gowa yang dipimpin beliau berhasil bikin Belanda kebingungan. Namun, pada 15 Juni 1669, Belanda berhasil merebut benteng Somba Opu dengan persenjataan lengkap.

Walau kalah, keberanian beliau bikin Belanda ngasih julukan “Ayam Jantan Dari Timur”. Kegigihan ini tetap dikenang sampai sekarang.

7. Akhir perjalanan dan warisan

Pada 29 Juni 1669, setelah 16 tahun berperang, beliau mengundurkan diri sebagai Raja Gowa. Putra beliau, I Mappasomba Daeng Nguraga, dilantik jadi Sultan Amir Hamzah.

Beliau meninggal pada 12 Juni 1670 (23 Muharram 1081 Hijriah) di usia 39 tahun. Jenazahnya dimakamkan di bukit pemakaman raja‑raja Gowa di Benteng Kale Gowa, Kampung Tamalate.

Karena jasa beliau melawan penjajahan Belanda, pada 6 November 1973 Sultan Hasanuddin resmi ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Jadi, kalau kamu lagi belajar sejarah, jangan lupa inget sosok beliau yang penuh semangat, rendah hati, dan selalu berjuang demi persatuan Nusantara.

Artikel Lain di Profil