Hey kamu! Pernah denger tentang bukti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang masih bisa kamu lihat di Sumatra Selatan? Kerajaan ini dulunya jadi salah satu rajanan maritim paling gede di Nusantara, pengaruhnya nyebar dari Jawa, Kalimantan, sampai ke Malaya, Kamboja, bahkan Muangthai. Yuk, kita kulik bareng-bareng sejarahnya yang keren abis!
1. Bukti Peninggalan Kerajaann Sriwijaya yang Masih Eksis
Berbagai jejak masa lalu masih terjaga, mulai dari candi megah, prasasti bersejarah, sampai pecahan gerabah dan keramik Cina. Semua itu ngasih gambaran betapa kaya budaya Sriwijaya zaman dulu. Berikut ini beberapa spot yang wajib kamu kunjungi kalau lagi traveling ke Sumatra.
a. Candi Muara Takus
Candi Muara Takus berada di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Dulunya jadi tempat ibadah umat Buddha, candi ini unik karena terbuat dari batu bata tebal, beda sama candi-candi di Jawa yang pakai batu sungai. Gaya arsitekturnya terinspirasi dari India, dengan tangga yang mengarah ke altar dan stupa silinder setinggi kira‑kira 14 meter. Kompleksnya juga meliputi Candi Mahligai, Candi Tua, Candi Bungsu, dan Candi Pangsa. Sekarang, tempat ini jadi spot wisata sejarah sekaligus lokasi penelitian arkeologi, karena masih banyak artefak yang belum terungkap.
b. Candi Muaro Jambi
Berada di Kabupaten Muaro Jambi, Candi Muaro Jambi terletak di pinggir Sungai Batang Hari. Kompleks seluas 260 hektar ini adalah yang terbesar di Sumatra. Dibangun pada abad ke‑11, candi ini mencerminkan perpaduan budaya Hindu‑Buddha yang dipengaruhi India. Ada satu candi utama plus enam candi kecil, semua terbuat dari batu bata yang disusun rapi. Di sekitarnya, kamu bisa menemukan perhiasan emas, koin Cina, arca perunggu, dan pecahan gerabah yang menambah nilai historis situs ini.
c. Prasasti Telaga Batu
Prasasti ini pertama kali ditemukan di Kolam Telaga Biru, Palembang. Bentuknya pipih dengan hiasan tujuh kepala kobra di atasnya. Tulisan menggunakan huruf Palawa, berisi peringatan keras untuk para pejabat supaya tidak mengkhianati raja Sriwijaya. Intinya, raja ingin menjaga stabilitas kerajaan dari intrik‑intrik internal.
d. Prasasti Kota Kapur
Disamping Pulau Bangka, Prasasti Kota Kapur ditemukan oleh arkeolog Belanda J.K. van der Meulen pada tahun 1892. Isi prasasti ini berisi kutukan dari Dapunta Hyang (sebut saja beliau) kepada siapa saja yang berani memberontak. Prasasti‑prasasti semacam ini berfungsi sebagai peringatan keras agar tidak ada pemberontakan yang mengganggu kestabilan kerajaan.
2. Sekilas Tentang Kerajaan Sriwijaya
Menurut catatan, Sriwijaya berdiri pada tahun 671 Masehi, dipimpin oleh raja pertama Sri Jayanasa. Dari posisi strategis di pinggir Selat Malaka, kerajaan ini berkembang jadi kekuatan maritim yang menguasai jalur perdagangan antara Cina, India, dan Gujarat. Barang‑barang hasil bumi Sumatra dijual ke luar negeri, dan pendapatan itu dipakai buat memperkuat militer serta armada laut.
Puncak kejayaan diraih saat Dapunta Hyang memimpin, menaklukkan kerajaan‑kerajaan kecil di sekitar Sumatra. Namun, di abad ke‑14, Sriwijaya mulai merasakan gejala keruntuhan. Konflik internal, pemberontakan, serta serangan eksternal—termasuk agresi dari Colamandala di Semenjung Malaka—menggoyahkan stabilitasnya. Akhirnya, wilayah-wilayahnya memisah dan muncul kerajaan‑kerajaan baru, sementara Majapahit mulai mengambil alih sebagian wilayahnya.
Itu dia, sekilas tentang Kerajaan Sriwijaya yang masih meninggalkan jejaknya sampai sekarang. Semoga kamu jadi makin tertarik buat mengeksplor sejarah Nusantara yang penuh warna ini. Selamat berpetualang!