Bongkar mitos suro: Kenapa muharram justru bikin ceria
Hai kamu! Udah pada denger belum soal perayaan tahun baru Islam yang sering disalahpahamin sebagai bulan sial? Padahal, bulan Muharram (atau yang sering disebut Suro) sebenernya justru bawa vibe kegembiraan buat seluruh umat. Yuk, kita kulik bareng kenapa mitos itu muncul dan gimana tradisinya di Jawa, terutama di Cirebon.
Tradisi Suro di Cirebon
Kalau kamu tinggal di Cirebon, pasti udah familiar sama tradisi Suro Jawa yang unik. Di sini, bulan Safar (setelah Suro) dianggap "bulan yang akeh blaie" alias banyak bencana. Makanya, warga Cirebon pantang nikah di bulan ini, apalagi hari Rabu akhir bulan yang disebut Rebo Wekasan. Untuk ngusir "bencana", ada tiga kegiatan khas: Ngapem, Ngirab, dan Tawurji.
Ngapem asalnya dari kue apem yang dicelup ke dalam kinca (air gula santan). Ritual ini simbolik: kue apem melambangkan manusia, sedangkan kinca melambangkan darah. Jadi, tiap kali apem nyelam ke kinca, diingatkan buat mawas diri supaya tak terjebak musibah.
Ngirab meneladani kebiasaan Sunan Kalijaga yang mandi di Sungai Drajat buat menghindari Rebo Wekasan. Masyarakat Cirebon masih melanjutkan tradisi ini dengan berperahu ke lokasi yang konon dulu dipakai Sunan Kalijaga.
Tawurji adalah tradisi minta sedekah anak‑anak yang berkeliling rumah sambil nyanyiin "Wur tawur ji, tawur... Selamet dawa umur". Cerita asal‑usulnya nyambung ke 40 anak yatim yang dulu dipimpin oleh Syekh SitiJenar, lalu mendapat restu Sunan Kalijaga dan Sunan Gunung Jati untuk menggalang bantuan.
Kajian Fikih dan Tauhid
Kalau dilihat dari sisi fikih, semua aktivitas selama bulan Muharram sah‑sah saja selama tidak melanggar syariat. Makanan yang disajikan pun halal, jadi gak ada yang haram‑haraman.
Dari sudut pandang tauhid, semua amal baik yang niatnya ikhlas kepada Allah SWT tidak akan merusak akidah. Bahkan, Rasulullah SAW bersabda, "Sedekah bisa menahan 70 bentuk bencana, termasuk penyakit kusta." Jadi, menambah sedekah di bulan Muharram itu justru plus point buat kamu.
Selain sedekah, ada amalan sunnah lain yang dianjurkan, kayak puasa Asyura (10 Muharram) yang menjadi penebus dosa setahun lalu, dan puasa Tasu'a (9 atau 11 Muharram) yang disunnahkan supaya tidak meniru orang Yahudi.
Latar Belakang Mitos Suro
Mitos bahwa bulan Suro "pantang" buat hajatan berawal dari masa kerajaan Jawa. Di era itu, keraton‑keraton di Surakarta dan Yogyakarta sering adakan upacara bersih‑bersih pusaka pada bulan Suro. Karena kegiatan keraton itu bersifat sakral, masyarakat dijaga supaya gak ganggu acara, lalu cerita "bulan Suro angker" mulai tersebar.
Sayangnya, sampai sekarang masih ada yang takut ngadain pesta atau pernikahan di bulan ini. Padahal, dalam Islam semua hari sama baiknya, gak ada tanggal yang otomatis "bawa sial". Jadi, kalau kamu masih ragu, ingat aja: mitos itu cuma katanya tanpa dasar otentik.
Semoga dengan penjelasan di atas, kamu jadi lebih paham kenapa Muharram itu seharusnya jadi momen yang positif dan ceria. Yuk, rayakan perayaan tahun baru Islam dengan hati yang bersih, amal yang ikhlas, dan semangat yang tinggi. Selamat menyambut bulan Suro, semoga menjadi Syarullah (bulan Allah) yang penuh berkah!