Portal Informasi Gaya Hidup Sehat, Edukasi Nutrisi, dan Tips Praktis Sehari-hari.

Bersembunyi di Balik Cerita Film Horor

Suatu kali, aku menonton film di bioskop, judulnya Dendam Pocong Mupeng . Saya memilih menonton sebab tertarik dengan judulnya nan aneh bin ajaib. Mengapa harus pocong mupeng? Memangnya, apa nan sedang si pocong pikirkan?

Membayangkan pertanyaan itu aku sudah digelitik rasa penasaran. Siapa sangka, awal film horor nan gambar iklannya serem itu malah dibuka oleh adegan vulgar. Belum apa-apa sudah ada adegan di kolam renang. Parahnya lagi, adegan vulgar tersebut ternyata terus berlanjut pada tiap-tiap bagian ceritanya. Lucunya lagi, hantu pocong nan disinyalir merupakan si tokoh primer malah muncul dadakan, sekadar buat menakut-nakuti. Belum film usai, aku sudah lebih dulu bubar keluar sebab bosan.

Mungkin hal itu pula nan pernah Anda rasakan ketika menonton film horor nan dalam pikiran Anda mungkin akan menjadi hal menarik nan memacu adrenalin rasa takut dan bergidik. Namun, siapa sangka jika film horor tersebut tiba-tiba berubah seketika menjadi seperti film biru sehingga muncul pertanyaan dalam benak Anda : Ini film horor atau film biru ya?

Oleh karena itu, banyak sekali orang nan terjerumus kepada hal-hal nan kurang baik hanya sebab salah memilih tontonan. Misalnya saja, banyak remaja nan niatnya menonton film horor namun malah terjebak dan makin terjebak lagi setelah lama-kelamaan para remaja tersebut mengetahui ada 'sesuatu' nan mengundang mereka ketika menonton film horor.

Film horor tak lagi sinkron dengan namanya. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya keinginan para produser film agar dapat meningkatkan rating film nan dibuatnya sebab mereka tahu bahwa tema seks selalu membawa perhatian nan banyak dari masyarakat.

Film Indonesia dari Masa ke Masa

Pada era 70-an sampai 80-an, film Indonesia sempat berjaya. Saat itu, bahkan kita punya piala bergengsi buat pertarungan film-film tersebut. Banyak karya emas lahir di zaman itu. Sebut saja film Pacar Ketinggalan Kereta, Kampus Biru, Naga Bonar, dan lain-lain. Selain itu, lahir pula banyak pelawak spesifik nan bermain film, seperti Benyamin Sueb, Iskak-Ateng, Darto Helm, Warkop.

Para pelawak itu sampai sekarang pun tetap tercatat di dalam sejarah perfilman kita. Bersamaan dengan berjayanya film drama dan komedi, film horor pun mengalami masa jayanya. Film horor melahirkan Suzana, sang ratu Horor, Farida Pasha, dan nan lainnya. Nama-nama besar tersebut sudah menjadi agunan film laik tonton.

Namun, kejayaan film Indonesia mulai dinodai oleh unsur vulgar, bahkan nyaris bak film biru. Kualitas dan kuantitas global perfilman kita menurun, surut, bahkan nyaris musnah ditelan gelombang masuknya film-film Barat dan India nan lebih menarik dari segi cerita, pengambilan gambar, dan taraf ketegangan.

Imbasnya, kalau ada spanduk film Indonesia terpampang, paling niscaya gambarnya wanita mengenakan bikini, judulnya tak jauh dari kata-kata ranjang, hot, dan panas . Judulnya niscaya menggunakan semua kata nan kiranya mengacu pada kata-kata tak senonoh. Berharap, kata-kata itu akan memancing pada penonton pria berbondong-bondong memberi karcis nan harganya di bawah standar. Hebatnya lagi, film tersebut sukses lolos badan sensor.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa perfilman di Indonesia tak lagi mementingkan kualitas melainkan mementingkan kuantitas serta sebarapa besar laba nan dapat diperoleh dari hasil menjual tiket film tersebut.

Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan mengingat banyaknya sumber daya manusia di Indonesia, terutama dalam bidang perfilman, nan memiliki kemampuan nan mumpuni buat dapat membuat film di Indonesia menjadi film berkualitas nan layak buat ditonton.

Baik sutradara, penulis skenario, maupun pemeran tokoh dalam film nan hendak dibuat seyogyanya dipilih sinkron dengan tujuan pembuatan film tersebut. Aapakah berfungsi sebagai hiburan atau sebagai media nan sekaligus memberikan kegunaan pendidikan terhadap penonton.

Film dan Masyarakat

Hubungan film dengan masyarakat sepertinya merupakan interaksi nan tak ada ujungnya. Ada timbal balik nan saling memengaruhi satu sama lain antara keduanya sehingga masyarakat dan film tak dapat dipisahkan begitu saja.

Tanpa masyarakat, film tak mungkin dapat berdiri sebagai sebuah karya seni nan diapresiasi. Begitu juga sebaliknya, tanpa film, masyarakat tak akan mendapatkan berbagai informasi, hiburan, dan pendidikan nan dimunculkan oleh global perfilman.

Dengan kata lain, masyarakat merupakan inspirasi nan sangat besar dalam global perfilman sehingga tanpa masyarakat, tak akan ada karya seni gambar bergerak berupa film.

Namun, nan menjadi permasalahan di sini ialah bagaimana para pelaku perfilman di Indonesia merefleksikan serta menginterpretasikan keinginan masyarakat dalam bentuk gambar bergerak. Hampir semua pelaku perfilman Indonesia merepresentasikan kedua hal tersebut secara dangkal sehingga masyarakat pun menerima pemahaman nan dangkal pula mengenai berbagai pemahaman kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai bagian dari seni, film juga sebenarnya memiliki pengaruh nan sangat besar terhadap perkembangan kebudayaan masyarakat. Cara pandang dan berpikir masyarakat sangat dipengaruhi oleh simbol simbol nan dimunculkan dalam televisi.

Bukan hanya film, iklan pun memiliki pengaruh nan sama besarnya sehingga selalu sine qua non badan sensor nan mampu membentengi masyarakat penonton dari pengaruh negatif nan muncul dari film dan iklan nan ditayangkan di televisi.

Lantas, mampukah masyarakat menerima perubahan besar apabila film Indonesia mengubah taktik penayangan mereka menjadi lebih terdidik dan memberikan kontribusi nan baik bagi perkembangan kebudayaan masyarakat?

Bersembunyi di Balik Cerita Film Horor

Para sineas muda mulai menggeliat. Gerah melihat tingkah produser film vulgar nan semakin memperburuk gambaran perfilman Indonesia, mereka berontak, berusaha menyeruak keluar dari gambaran buruk, melahirkan karya-karya baru. Seakan perfilman Indonesia lahir kembali, serupa bayi mungil nan cantik, siap tumbuh besar dan sehat.

Sayangnya, para produser cabul masih tetap ada dalam bayang-bayang. Mereka merasa bahwa nan tetap menjual ialah film dengan bumbu-bumbu seks. Akhirnya, lewat film-film horor nan lebih mudah digandrungi, para produser itu lagi-lagi menyusupi adegan biru. Kali ini terselubung, dengan embel-embel Kuntilanak, Pocong, Suster Ngesot, dan sebagainya mereka memasukkan kembali unsur seks.

Film horor Indonesia pun terpasung. Kreativitas wafat oleh label vulgar nan keburu disematkan. Sayangnya, kenapa para produser itu tak terang-terangan saja membuat film biru daripada merusak satu bentuk gendre perfilman kita? Sehingga seringkali menjadi tanda tanya, apakah film nan ditayangkan merupakan film horor atau film biru ? Kalau sudah begini, rusaklah gambaran film kita, tinggal tunggu kembali runtuhnya tiang perfilman Indonesia nan kita bangun. Tragis!

Dengan demikian, perlu adanya pembenahan dalam perfilman di Indonesia agar film nan dihadirkan dapat bermanfaat bagi perkembangan budaya masyarakat. Bukan hanya mementingkan laba pihak rumah produksi saja, tapi juga memberikan timbal balik berupa hiburan, pengetahuan, dan pendidikan nan mampu diserap dengan baik oleh masyarakat Indonesia.

Di balik kekurangan gambaran perfilman horor di Indonesia, ada pula hal positif nan dapat diambil sebagai bahan pembelajaran bagi masyarakat. Salah satu hal nan dapat dijadikan hikmah sekaligus pembelajaran tersebut ialah bagaimana kita menyikapi perkembangan zaman dan hal-hal negatif nan muncul di zaman nan serba modern ini.

Artinya, setiap tontonan akan memberikan pengaruh, baik secara langsung maupun tak langsung, terhadap penontonnya. Namun, sebagai penonton cerdas, kita dapat memilih bagaimana cara nan tepat buat menghadapi berbagai pengaruh tersebut sehingga tak emmbuat perubahan negatif pada diri kita.