Nggak Kalah Aesthetic dari Wattpad: Intip Pesona Sastra Klasik Indonesia yang Pernah Hits pada Zamannya!
Daftar Isi
Kalo lo pikir cerita drama percintaan penuh cobaan atau konflik perjodohan itu cuma ada di Webtoon atau novel digital zaman skarang, lo salah besar! Jauh sebelum ada smartphone, para penulis kawakan Indonesia udah lebih dulu bikin jagat literasi gempar lewat karya-karya kece di era Balai Pustaka. Cerita kayak *Siti Nurbaya* karya Marah Roesli atau *Salah Asuhan* buatan Abdul Muis tuh ibaratnya novel balai pustaka populer yang vibes-nya relate bgt sama problema anak muda pada masanya.
Karakteristik karya di era ini emang mulai bergeser ke bentuk prosa modern kayak novel, roman, dan cerpen. Nggak cuma Marah Roesli dan Abdul Muis, ada juga Nur Sutan Iskandar yang dapet julukan Raja Angkatan Balai Pustaka karena produktif bgt merilis karya seru kayak *Salah Pilih* dan *Hulubalang Raja*. Bahkan Mohammad Yamin juga ikutan meramaikan lewat puisi-puisi kebangsaan yang bikin akhrinya semangat anak muda zaman dlu makin berkobar.
Vibe Fantasy Lokal dalam Cerita Hikayat
Buat lo pencinta genre *action*, *fantasy*, atau petualangan ala-ala *isekai*, karya sastra melayu kuno yang namanya hikayat ini dijamin nggak bakal kalah serru! Hikayat tuh sejatinya cerita rekaan yang sering banget mengisahkan kehebatan para ksatria, keajaiban senjata sakti, sampai lika-liku kehidupan di istana raja. Vibes-nya mirip-mirip novel fantasi modern yang penuh aksi epic, deh.
Dulu, kumpulan hikayat Melayu kuno ini ditulis di atas media seadanya kayak daun lontar, bambu, bahkan kulit binatang sebelum kertas populer. Beberapa contoh hikayat legendaris yang sempet hits banget antara lain *Hikayat Hang Tuah* yang penuh aksi heroik, *Hikayat Bayan Budiman*, sampai *Hikayat Raja Sulaiman*. Ceritanya disebar secara turun-temurun dan sukses jadi hiburan paling mutakhir buat mrekah yang hidup di zaman itu.
Pantun dan Gurindam yang Cocok Buat Microblogging
Pernah mikir nggak sih kalau jenis puisi lama indonesia kayak pantun dan gurindam tuh konsepnya mirip banget sama unggahan *microblogging* atau caption aesthetic di medsos masa kini? Serius deh, bentuknya yang ringkas tapi punya rima padat dan pesan deep banget bikin karya-karya ini langsung *to the point* pas dibaca.
Pantun misalnya, selalu terikat aturan larik dan sampiran yang benr-benar kreatif. Contohnya nih:
Sungguh elok asam belimbing,
tumbuh dekat limau mangga.
Sungguh elok berbibir sumbing,
walaupun marah tertawa juga.
Sementara itu, kalau gurindam biasanya cuma terdiri dari dua baris aja, di mana baris pertama berisi syarat/sebab dan baris kedua berisi akibat. Gurindam paling fenomenal yang pernah ada di Indonesia tentu aja *Gurindam Dua Belas* ciptaan Raja Ali Haji yang penuh nasehat kehidupan dan nggk bakal basi dimakan zaman.
Jejak Estetik Kesusastraan Melayu Lama dan Pujangga Masa Dulu
Geliat dunia literasi di Nusantara sebenernya udah meluncur jauh sebelum abad ke-20 lewat deretan pujangga legendaris. Kalau kita kilas balik ke sejarah sastra melayu lama, pergerakannya meluas banget di wilayah pesisir Sumatra sampai ke Semenanjung Malaya. Nama-nama besar kayak Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, hingga Nuruddin ar-Raniri udah menelurkan karya-karya kitab dan syair yang sangat dihormati di lingkungan Kesultanan Aceh sejak abad ke-17.
Memasuki periode 1870 sampai 1942, geliat sastra Melayu Lama makin ramai lagi dengan masuknya pengaruh terjemahan novel-novel asing kayak *Robinson Crusoe* dan *Mengelilingi Bumi dalam 80 Hari*. Penulis lokal maupun keturunan Indo-Eropa dan Tionghoa juga rajin menerbitkan karya populer seperti *Cerita Si Conat* hingga *Hikayat Siti Mariah*. Kerennya lagi, diperkirakan ada ribuan karya eksotis yang lahir dari era transisi ini, lho!
Hakikat Sastra yang Nggak Pernah Redup Ditelan Zaman
Pada akhirnya, kalau ditarik dari akar katanya yang berasal dari bahasa Sanskerta, kata *sastra* itu emang punya arti petunjuk atau pedoman yang penuh estetika. Nggak heran kalau setiap rentetan karya sastra klasik indonesia punya kekuatan magis yang sanggup menggugah emosi, bikin kagum, sekaligus ngebawa kita bernostalgia ke masa lalu.
Sastra itu ibarat wadah ekspresi jiwa yang jujur dari para pengarangnya. Mau itu dikemas dalam bentuk lisan yang beredar dari mulut ke mulut seperti dongeng rakyat, maupun dicetak jadi buku tebal era modern, karya sastra yang adiluhung akan selalu punya loka tersendiri di hati para pembacanya dan terus menembus batasan ruang serta waktu.