Hai kamu! Pernah denger soal bacaan qunut di shalat Subuh? Di Indonesia, ada yang rutin ngelakuin, ada juga yang nggak. Nah, perbedaan ini sebenernya berakar dari mazhab Syafi'i dan mazhab Hanafi. Yuk, kita kulik bareng-bareng dengan gaya santai biar makin gampang dipahami!
1. Dalil dan Argumen mazhab Syafi'i
Penganut mazhab Syafi'i biasanya ngelakuin qunut di rakaat ke‑2 Subuh, baik ada bala atau nggak. Mereka ngedukung hal ini lewat beberapa hadis yang dianggap kuat, kayak riwayat Anas bin Malik yang nyebut, "Rasulullah Saw. selalu ngelakuin qunut di shalat Subuh sampai wafat."
Selain itu, ada pendapat Imam Nawawi dalam kitab Raudhah Ath‑Thalibin yang nyatakan qunut itu syar'i menurut mazhab mereka. Jadi, bagi mereka, qunut bukan sekadar tradisi, tapi udah jadi bagian penting dari ibadah Subuh.
2. Kenapa mazhab Hanafi Nggak Pakai Qunut?
Sementara itu, penganut mazhab Hanafi beranggapan qunut itu bid'ah alias inovasi yang nggak ada dasarnya. Mereka berpegang pada dalil-dalil yang menilai bahwa tidak ada contoh jelas Nabi SAW. yang melakukannya di Subuh, sehingga mereka memutuskan untuk tidak mengikutinya.
Namun, walaupun berpendapat beda, Imam Ahmad (rahimahullah) tetap anjurin kalau ada imam yang mengucapkan qunut, jamaah harus ikutin. Jadi, toleransi tetap jadi kunci utama.
3. Contoh Praktik Imam yang Beda Pendapat
Berikut kisah seru: Imam Syafi'i pernah dalam perjalanan ketemu warga yang nggak ngelakuin qunut. Kalau beliau jadi imam, beliau tidak menambah qunut dalam shalatnya. Sebaliknya, Imam Ahmad (rahimahullah) menganggap qunut sebagai bid'ah, tapi tetap menyarankan jamaah mengikuti imam yang melakukannya.
Intinya, baik yang ngelakuin atau yang ngga, semuanya sah selama niatnya tulus dan menghormati sesama.
4. Doa Qunut yang Sering Dipakai
Karena inti qunut itu doa, ada beberapa varian yang dipakai oleh sahabat. Salah satu yang terkenal adalah doa qunut yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab, tercatat dalam kitab Fathul Mu'in. Berikut cuplikan doa dan artinya (dengan sedikit bahasa gaul):
Allahumma inna nasta'iinuka...
(Ya Allah, kami minta pertolongan, ampunan, petunjuk, dan segala kebaikan dari-Mu.)Allahumma iyyaaka na'budu...
(Ya Allah, kami menyembah, shalat, dan sujud kepada-Mu, berharap rahmat-Mu.)Allahumma azzibil kufrata...
(Ya Allah, hancurkan orang kafir dan musyrik yang menghalangi jalan-Mu.)
Doa ini biasanya dibaca setelah ruku' pada rakaat ke‑2 Subuh, tapi ada juga yang menyebut sebelum ruku'. Pilihan ini tergantung mazhab dan kebiasaan masing‑masing.
5. Persatuan di Tengah Perbedaan
Walaupun ada perbedaan pendapat soal bacaan qunut, penting banget buat tetap menghormati satu sama lain. Kita semua sama-sama muslim, jadi mari fokus pada persatuan dan toleransi daripada nyari-nyari yang "paling bener".
Kalau ada yang ngelakuin qunut, beri salam, dan kalau nggak, tetap hormati. Dengan begitu, masjid jadi tempat yang nyaman buat semua, tanpa ada jurang pemisah.
6. Kesimpulan: Gak Perlu Ribet, Yang Penting Niat
Intinya, bacaan qunut di Subuh itu tergantung mazhab dan kebiasaan. Baik mazhab Syafi'i maupun mazhab Hanafi punya argumen kuat masing‑masing, dan semuanya sah selama dilandasi niat ikhlas.
Jadi, kamu yang lagi bingung, pilih yang sesuai dengan mazhab kamu atau ikuti imam di masjid. Yang penting, tetap semangat beribadah, jaga persatuan, dan jangan lupa senyum di setiap shalat!