Hai kamu! Pernah denger tentang Perserikatan Premier Indonesia (sering disingkat LPI)? Ini cerita seru tentang liga yang lahir karena ketidakpuasan sama kepemimpinan lama PSSI. Kalau dulu sempat “dibungkam”, sekarang kita bakal kulik bareng-bareng, biar kamu makin ngerti kenapa liga ini penting buat sepak bola tanah air.
1. Format Kompetisi yang Bikin Fans Gak Bosen
Berbeda dari liga “official” lain, Liga Premier Indonesia pake sistem kandang‑tandang penuh. Jadi tiap tim bakal ketemu lawan yang sama dua kali dalam satu musim, kayak kompetisi Eropa. Poin tertinggi jadi juara, simpel kan?
Di musim pertamanya, ada 19 klub profesional yang gabung. Menurut standar FIFA dan AFC, klub profesional itu harus punya stadion layak, program pembinaan usia muda, mandiri secara finansial, dan terdaftar secara hukum. Makanya, cuma klub‑klub yang meet kriteria yang diundang.
Beberapa klub itu bener‑bener baru, kayak Aceh United yang pakai Stadion Asa Bangsa (kapasitas 40.000). Ada juga yang “reinkarnasi” dari klub lama, contohnya Bandung FC (turunan Bandung Raya). Dan ada yang “pindah hati” karena nggak puas sama kebijakan PSSI, kayak Persebaya 1927 yang dulu pecah dari Persebaya.
Semua tim ini bawa warna dan cerita masing‑masing, jadi tiap pertandingan jadi lebih colorful dan menarik buat nonton.
2. Sejarah Singkat yang Bikin Penasaran
Awal‑nya, Perserikatan Premier Indonesia dibentuk pada 2010 sebagai alternatif dari Perserikatan Super Indonesia yang dikendalikan PSSI. Arifin Panigoro (yang jadi motor penggerak utama) bareng konsorsiumnya nyiptain liga yang profesional tanpa tergantung dana APBD.
Debut resmi kompetisi jatuh pada 8 Januari 2011 di Stadion Manahan, Solo. Solo FC jadi tuan rumah melawan Persema Malang. Acara pembukaannya dibuka sama walikota Solo, Joko Widodo, lengkap dengan pertunjukan tari oleh lebih dari seribu penari. Sayangnya, Solo FC harus mengakui kehebatan Persema dengan skor 1‑5.
Sebelum pertandingan pertama, hampir batal karena Polri belum ngasih izin. Alasan? PSSI belum ngakuin eksistensi liga ini. Akhirnya, Menpora Andi Malarangeng coba mediasi bareng pengurus LPI, Polri, dan PSSI. Sayangnya, perwakilan PSSI nggak hadir, jadi Menpora nyatakan kalau penyelenggaraan kompetisi cukup dapat izin dari BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia), bukan PSSI.
Setelah sedikit drama, F.X Hadi Rudyatmo (ketua Persis Solo sekaligus ketua PSSI Cabang Solo) diam‑diam ngasih rekomendasi ke Polri supaya izin tetap dikeluarkan. Kebijakan beliau ini agak “nyeleneh” dibanding kebijakan pusat PSSI, tapi berhasil bikin pertandingan tetap jalan.
Selama satu musim, ada total 171 pertandingan dengan 488 gol (rata‑rata 2,85 gol per laga). Gol terbanyak diraih sama tiga pemain: Juan Manuel Cortes, Fernando Gaston Soler, dan Laakkad Abdelhadi masing‑masing catat 13 gol.
Siapa yang siarkan laga? Awalnya Indosiar, terus Metro TV, dan akhirnya Trans TV plus Trans 7. Jadi fans di rumah tetep bisa nyimak aksi-aksi seru.
Walau sempat dianggap ilegal oleh PSSI karena bertentangan sama keputusan Kongres Sepak Bola Nasional 2010, akhirnya Komite Normalisasi PSSI yang diketuai Agum Gumelar resmi mengakui keberadaan Perserikatan Premier Indonesia. Tapi, politik sepak bola terus berputar, dan kebijakan berubah‑ubah tergantung siapa yang pegang kendali.
3. Kenapa Liga Ini Masih Penting Buat Kamu?
Kalau kamu pengen nonton sepak bola yang berkualitas dan berkarakter, Perserikatan Premier Indonesia tetap jadi contoh bagusnya. Klub‑klubnya profesional, pendanaan mandiri, dan kompetisinya seru. Selain itu, liga ini memberi peluang buat pemain muda menampilkan bakatnya di panggung nasional.
Jadi, kalau lagi cari tontonan yang bikin jantung deg-degan, coba cek highlight atau rekaman pertandingan lama Liga Premier Indonesia. Siapa tahu kamu temuin pemain atau tim favorit yang belum pernah kamu denger sebelumnya!