Penis Besar dan Mitos Dibaliknya
Disadari atau tidak, pemahaman ini akan sampai pada anak dan mereka tangkap dengan baik. Akibatnya, anak akan berpendapat sama dan menganggap bahwa membicarakan penis ialah hal nan tabu dan menjijikkan.
Sebenarnya, apa itu penis? Penis ialah nama lain buat alat kelamin laki-laki. Mengapa kita harus berpikiran “jorok” ketika membahas tentang penis, apalagi jika berkaitan dengan penis besar? Mengapa harus menghubungkannya dengan segala hal nan berbau seksual?
Padahal interaksi seksual hanyalah masalah lain dari penis. Membicarakan tentang alat reproduksi ini seharusnya dapat sama ringannya, seperti ketika kita membicarakan tentang mata, tulang, tengkorak, kulit, hidung, atau jantung.
Setiap manusia memiliki sistem reproduksi. Pada lelaki, alat vital ini menjadi loka buat membentuk sel sperma nan ketika manunggal dengan sel telur wanita akan menghasilkan janin. Kelak, janin ini akan menjadi manusia baru.
Tentu hanya sel sperma dan sel telur nan sehat saja nan dapat membentuk janin nantinya. Ketika terstimulasi dengan interaksi seks, sperma akan terdorong masuk ke sebuah tabung. Tabung ini disebut dengan vas deferens nan akan bercampur dengan cairan seminal buat membentuk semen.
Semen ini akan dikeluarkan melalui uretra nan terdapat di alat vital ini, sekaligus menjadi loka keluarnya urine. Cairan semen atau sperma ini terlihat seperti beradu dengan ukuran nan sangat kecil. Sel sperma dibentuk di dalam testis.
Ketika seorang lelaki mencapai usia 15 tahun, testis mereka akan memproduksi sekitar 200 juta sperma baru. Testis juga memproduksi testosteron, hormon seks pria. Hormon ini memicu pertumbuhan tulang dan otot. Juga bertanggung jawab terhadap pertumbuhan rambut dan perubahan suara.
Penis mengalami pertumbuhan sinkron dengan usia anak. Jika diketahui kapan pertumbuhan tinggi badan seseorang akan berhenti, tak demikian dengan penis.
Penelitian nan melibatkan ribuan remaja menunjukkan tak adanya disparitas ukuran dengan jelas antara penis remaja berusia 17 dengan 19 tahun. Jadi, kesimpulannya, penis mengalami penghentian perkembangan di usia 17 tahun atau kurang.
Penis Besar dan Mak Erot
Ukuran alat vital ini selalu dihubungkan dengan Mak Erot, terutama nan merujuk pada upaya buat menambah ukurannya. Entah kenapa sepertinya belakangan ini kaum lelaki menjadi terobsesi dengan penis besar.
Orang awam beranggapan, ukurannya berhubungan dengan kualitas interaksi seksual. Ukurannya juga dianggap menjadi tanda bahwa seseorang memang “jantan”. Sehingga orang pun melakukan upaya buat memuat ukurannya bertambah.
Mak Erot dianggap sebagai salah satu jalan keluarnya. Begitu populernya Mak Erot sehingga pasiennya pun berdatangan tanpa henti, bahkan tak sedikit di antaranya nan berasal dari luar negeri.
Salah satu film Indonesia bahkan mengambil namanya dan dijadikan sebagai pelengkap judul. Ingat dengan film “XL, Antara Aku, Kau, dan Mak Erot?" Dari judulnya kita tentu dapat membayangkan permasalahan apa nan dibahas di film ini.
Nama Mak Erot sepertinya sangat populer. Pasien nan datang ke loka praktiknya cukup banyak. Bahkan Mak Erot melayani panggilan nan mengharuskannya datang ke hotel atau loka lain secara khusus.
Hal ini menunjukkan kepada kita, masyarakat Indonesia banyak nan tak puas dengan ukuran penisnya. Mak Erot nan berasal dari Sukabumi dan sudah meninggal ini dipercaya memiliki kemampuan nan mumpuni dalam hal pembesaran penis.
Konon, cara nan digunakan tak sulit. Calon pasien bahkan dapat memilih ukuran penis nan dikehendaki. Mereka diharuskan memilih ukuran lemang nan sudah dipersiapkan.
Lemang ialah makanan nan terbuat dari ketan dan santan nan sudah dimasak dan dimasukkan ke dalam bambu. Ukuran lemang ini cukup variatif. Setelahnya, sang pasien dipersilakan buat berbaring, Mak Erot pun memulai pengobatan dengan cara memijat, tanpa donasi alat apapun.
Pemijatan biasanya berlangsung hingga dua puluh menit. Lalu pasien akan diberi air putih nan sudah diberi mantra dan diharuskan menghabiskan lemang pilihannya tadi. Kemudian pasien diberi minyak spesifik nan harus dioleskan di penisnya secara teratur.
Pasien juga dilarang berhubungan intim selama beberapa lama. Tidak jelas apakah memang sukses atau tidak, nan jelas Mak Erot memiliki banyak pengekor. Meski sudah meninggal dunia, syahdan usahanya diteruskan oleh anak dan cucunya.
Penis Besar dan Mitos Dibaliknya
Apakah penis dapat diperbesar ukurannya? Secara medis, hal itu dianggap sebagai sesuatu nan mustahil. Karena begitu memasuki usia akil baligh, maka berhenti pulalah perkembangannya.
Pembesarannya hanya dapat dilakukan dengan cara-cara nan tak alami. Misalnya saja dengan bedah plastik. Meski nyaris mustahil, nyatanya banyak nan merasa tak puas dengan ukuran alat kelaminnya dan mengambil jalan pintas.
Selain meminta donasi pada Mak Erot dan bedah plastik nan mahal, ada juga nan melakukan injeksi silikon di alat kelaminnya. Padahal langkah seperti ini dianggap sangat berbahaya sebab silikon langsung disuntikkan begitu saja.
Dan ada kemungkinan menjadi penyebab terjadinya kerusakan fungsi seksual secara permanen atau gangguan kesehatan. Risikonya tinggi, bukan?
Ada banyak mitos nan beredar seputar penis. Yang paling populer ialah penis besar akan membuat interaksi seks menjadi lebih memuaskan. Tapi, benarkah demikian?
Menurut para pakar medis, tak ada hubungan antara ukuran penis besar dengan kualitas interaksi seksual. Ukuran penis besar tak berhubungan dengan persentase kenikmatan atau kepuasan dalam berhubungan intim.
Mengenali area sensitif terhadap rangsang jauh lebih baik. Bahkan tak sedikit wanita nan mengeluhkan penis nan terlalu panjang justru mengakibatkan rasa sakit ketika berhubungan intim.
Berhubungan intim tak sekadar menyangkut penis besar dan vagina. Interaksi seksual ialah salah satu cara mencurahkan cinta dan afeksi kepada pasangan dengan cara nan paling intim.
Keperkasaan pria tak ada hubungannya dengan ukuran penisnya. Keperkasaan pria lebih menitikberatkan pada evaluasi terhadap kasih sayang, perhatian, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap pasangan dan keluarga.
Hal itulah nan jauh lebih krusial ketimbang ukurannya nan besar belaka. Interaksi seks itu penting, tapi bukan segala-galanya. Selain itu, ada juga mitos nan berpendapat bahwa semakin besar ukuran alat kelamin pria, maka semakin perkasa pula dirinya.
Sekali lagi, ini pandangan nan keliru. Meski memiliki ukuran nan besar, namun ternyata mengalami masalah ejakulasi dini atau disfungsi ereksi, bukankah itu lebih mengganggu? Masalah seperti ini nan harus dihindari sebab akan membawa dampak jelek pada kualitas interaksi seksual dengan pasangan.
Memperbesar ukurannya tak perlu menjadi prioritas dalam hidup. Tuhan sudah memberikan nan terbaik buat manusia. Ukurannya selalu proporsional dengan ukuran tinggi seseorang.
Jadi, ukurannya berbanding lurus dengan ukuran dan tinggi tubuh seseorang. Penis besar bukanlah sesuatu nan perlu dipusingkan. Lebih baik meningkatkan kualitas hayati dengan banyak cara. Seks hanyalah meliputi sebagian kecil dari kebutuhan manusia.