Mengenal Kerajaan Pajajaran: Sejarah Keren yang Bikin Kamu Penasaran
Daftar Isi
Raja‑Raja Keren yang Pernah Memimpin
Siapa sih yang gak tau Kerajaan Pajajaran yang pernah jadi pusat kebudayaan di Jawa Barat? Di sini, beliau bakal dikenalin satu per satu, biar kamu bisa ngerasain vibe raja‑raja masa lalu yang super inspiratif.
Prabu Siliwangi (1482‑1521) adalah raja pertama yang nge‑boost kerajaan ini sampai puncak. Beliau naik tahta pas udah 81 tahun, dan walau udah senior, beliau masih enerjik banget. Beliau bikin parit sepanjang 3 km buat pertahanan, terus pakai tanah galian buat bangun benteng. Selain itu, beliau juga ngembangin telaga besar di hulu Sungai Ciliwung yang dinamain Sang Hyang Telaga Rena Mahawijaya. Karena kebijakan positifnya, rakyatnya hidup makmur dan beliau jadi sosok yang dicintai.
Setelah Siliwangi, Prabu Suriwisesa (1521‑1535) melanjutkan tongkat estafet. Beliau dapet sambutan hangat dari utusan Portugis, Hedrique de Leme, yang bawa hadiah sebagai tanda persahabatan. Beliau juga terus ngembangin perdagangan sama Portugis, meski sempat ada ketegangan sama Sultan Trengganu. Akhirnya, pada 29 Juni 1531, tercapai perdamaian yang mengakui wilayah Cirebon.
Berikutnya, Prabu Ratu Dewata (1535‑1543) yang terkenal sebagai panglima perang religius. Sayangnya, beliau kurang jago urusan politik, jadi musuh makin banyak datang. Lalu, Sang Ratu Saksi Sang Mangabatan (1543‑1551) memerintah dengan gaya yang agak "hardcore", tapi tetap jadi bagian penting dari cerita.
Akhirnya, Prabu Nilakendra (1551‑1567) dan Prabu Seda/Raga Mulya (1567‑1579) memimpin sampai kerajaan ini akhirnya runtuh. Meski begitu, jejak beliau tetap hidup dalam sejarah.
Jejak Prasasti Kuno yang Bikin Kita Terkesima
Berbagai prasasti kuno jadi bukti nyata eksistensi Kerajaan Pajajaran. Di antaranya:
- Prasasti Rakryan Juru Pangambat (923 M): Nggak cuma pakai bahasa Jawa antik, tapi juga campuran Melayu. Ceritanya soal pengembalian kekuasaan Raja Pajajaran yang sempat direbut oleh kerajaan tetangga.
- Prasasti Horen (asal Majapahit): Nyebutkan gangguan dari arah barat yang diduga datang dari Kerajaan Pajajaran sendiri.
- Prasasti Citasih (1030 M): Dibuat atas perintah Raja Maharaja Jayabhupati untuk memperingati bangunan Sang Hyang Tapak sebagai tanda terima kasih ke rakyat setelah menang perang melawan Swarnabhumi.
- Prasasti Astanagede (di Kawali, Ciamis): Menandakan perpindahan pusat pemerintahan dari Pakwan (Pakuan) Pajajaran ke Kawali.
Semua prasasti ini ngasih gambaran betapa Kerajaan Pajajaran dulu punya jaringan politik dan budaya yang luas.
Asal‑Usul Kerajaan Pajajaran
Kalau mau tau gimana Kerajaan Pajajaran terbentuk, yuk simak cerita singkatnya. Setelah runtuhnya Kerajaan Sunda, Galuh, Kawali, dan Tarumanegara, muncul kerajaan baru yang dinamain Kerajaan Pajajaran. Ibukotanya diperkirakan di Pakuan (sekarang Bogor), Jawa Barat.
Dalam naskah kuno, Kerajaan Pajajaran juga disebut Negeri Sunda, Kerajaan Pasundan, atau Pakuan Pajajaran. Menurut prasasti Shangyang Tapak, kerajaan ini berdiri pada tahun 923 M dan diprakarsai oleh Sri Jayabhupati.
Lambangnya harimau putih, simbol keberanian dan keagungan. Nama "Pakuan" katanya berasal dari pohon paku yang tumbuh berjejer di sekitar sungai Cipaku. Menurut peneliti Belanda K.F. Holle De Batoe, "paku" di sini bukan paku tukang, melainkan paku jagat yang melambangkan pribadi raja.
Selain itu, "pajajaran" diadaptasi dari topografi wilayah yang berdekatan dengan dua sungai besar: Ciliwung dan Cisadane yang mengalir sejajar. Jadi, Kerajaan Pajajaran secara harfiah berarti "istana yang berdiri sejajar".
Dengan semua fakta di atas, sejarah Kerajaan Pajajaran bukan cuma cerita lama, tapi juga pelajaran positif tentang kebijakan, kerjasama, dan semangat kepemimpinan yang bisa menginspirasi kamu hari ini.