Michel Foucault
Tokoh Sosiologi Modern
Giddens atau lengkapnyaAnthony Giddens merupakan salah satu tokoh sosiologi modern. Giddens mendefinisikan modernitas dilihat dari sudut empat institusi mendasar. Pertama ialah kapitalisme nan ditandai oleh produksi komoditi, pemilikan pribadi atas modal, tenaga kerja tanpa properti, dan sistem kelas nan berasal dari ciri-ciri tersebut. Kedua ialah industrialisme nan melibatkan pengunaan sumber daya alam dan mesin buat memproduksi barang.
Indistrialisme tak terbatas pada loka bekerja saja, dan industrialisme memengaruhi sederetan lingkungan lain seperti transportasi, komunikasi, dan bahkan kehidupan rumah tangga (Giddens, 1990: 56). Meski dua karakteristik modernitas pertama nan dikemukakan Giddens ini hampir tak merupakan sesuatu nan baru, tetapi karakteristik ketiga – kemampuan mengawasi – tampaknya berasal dari pemikiran Michel Foucault.
Seperti didefinisikan Giddens, kemampuan mengawasi mengacu pada supervisi atas aktivitas rona negara individual – terutama, tetapi bukan semata-mata – dalam bidang politik (1990: 58). Dimensi institusional nan keempat dari modernitas ialah kekuatan militer atau pengendalian atas alat-alat kekerasan, termasuk industrialisasi peralatan perang. Perlu dicatat bahwa dalam analisisnya tentang modernitas, setidaknya di taraf makro, Giddens memusatkan perhatian pada negara-bangsa nan dilihatnya sangat berbeda dari tipe komunitas nan menandai masyarakat promodern.
Modernitas memperoleh dinamismenya melalui tiga aspek krusial teori strukturasi Giddens; pertama pemisahan waktu dan ruang atau distanciation. Dalam masyarakat pramodern, waktu selalu dikaitkan dengan ruang dan pengukuran waktu biasanya tak tepat. Dengan modernisasi, waktu dibakukan ukurannya dan kaitan erat antara waktu dan ruang diputus.
Dalam hal ini, baik waktu maupun ruang “dikosongkan” dari isinya; tidak ada waktu dan ruang spesifik nan istimewa; keduanya menjadi bentuknya nan murni. Dalam masyarakat pramodern, ruang umumnya ditentukan oleh kehadiran secara fisik dan sebab itu ditentukan oleh ruang nan dilokalisir. Dengan datangnya modernitas, ruang makin lama makin dilepaskan dari tempatnya. Berhubungan dengan orang nan berjahan jeda fisik makin lama makin besar peluangnya.
Menurut Giddens, loka menjadi semakin ‘phantasmagoric’, artinya “tempat terjadi peristiwa sepenuhnya ditembus dan ditentukan oleh pengaruh sosial nan jauh jaraknya dari loka terjadinya peristiwa itu” (Giddens, 1990: 19).
Jurgen Habermas
Tokoh sosiologi modern berikutnya ialah Jurgen Habermas. Habermas menganggap modernitas berbeda dengan dirinya sendiri. Maksudnya ialah bahwa rasionalitas nan mencirikan sistem sosial berbeda dan bertentangan dengan rasionalitas nan menandai kehidupan sehari-hari. Sistem sosial berkembang semakin kompleks, terdiferensiasi, terintegrasi, dan ditandai oleh pertimbangan instrumental.
Kehidupan global juga telah menyaksikan peningkatan diferensiasi dan kondensasi, sekularisasi dan institusionalisasi kebiasaan refleksif dan kritik (Seidman, 1989: 24). Masyarakat rasional akan menjadi sebuah masyarakat di mana sistem dan kehidupan-dunia mungkin akan menjadi rasional menurut caranya sendiri, mengikuti logikanya sendiri. Rasionalitas sistem dan kehidupannya sebagai dampak dari sistem rasional dan sistem kebenaran, kebajikan dan estetika nan berasal dari kehidupan-dunia nan rasional.
Namun, dalam kehidupan modern, sistem menjadi dominan dan manjajah kehdupan-dominan. Akibatnya ialah bahwa meski kita menikmati buah sistem rasionalisme, kita terampas dari kekayaan kehidupan nan berasal dari kehidupan-dunia nan mungkin berkembang. Banyak gerakan sosial nan telah muncul di “perbatasan” antara kehidupan-dunia dan sistem dalam beberapa dasa warsa terakhir nan bersumber dari upaya menentang penjajahan dan pemiskinan kehidupan-dunia.
Kita kini menderita pemiskinan kehidupan-dunia dan masalah ini harus diatasi. Namun, jawabannya tidak terelakkan pada penghancuran sistem, terutama sistem ekonomi dan administrasi, sebab sistem itulah nan menyediakan persayaratn material nan diperlukan buat memungkinkan kehidupan-dunia menjadi rasional.
Salah satu masalah nan dibahas Habermas (1987b) ialah makin bertambahnya masalah nan dihadapi oleh negara kesejahteraan sosial nan birokratis dan modern. Banyak di antara negara modern nan mengakui masalah itu tetapi mereka menyelesaikannya di taraf sistem, misalnya dengan menambah subsistem baru.
Menurut Habermas, masalah nan dihadapi takkan terselesaikan dengan cara seperti itu. Masalah tersebut harus diselesaikan dalam rangka interaksi antara sistem adan kehidupan-dunia. Pertama , rintangan pengendali harus digunakan buat mengirangi pengaruh sistem terhadap kehiduoan-dunia. Kedua , sensor harus dibangun buat meningkatkan pengaruh kehidupan-dunia terhadap sistem.
Michel Foucault
Tokoh sosiologi modern nan tak boleh dilupakan ialah Michel Foucault. Foucault termasyur sebab kumpulan karanya nan mengagumkan nan memengaruhi pemikir di sejumlah bidang ilmu nan berbeda, termasuk sosiologi. Foucault juga menempuh kehidupan nan sangat menarik dan tema nan menandai kehidupannya itu cenderung menentukan karyanya.
Sebenarnya bisa dikatakan bahwa melihat karyanya ia mencoba buat memahami dirinya sendiri secara lebih baik dan kekuatan-kekuatan nan membuatnya menjalani kehidupan seperti nan dilakukannya itu. Di antara karyanya nan terakhir ialah trilogi nan memusatkan perhatian pada seks – The History od Sexuality (1980), The Care of the Self (1984) dan The Uses of Pleasure (1985).
Ketiga karya ini mencerminkan obsesi seumur hidupnya terhadap seks. Sebagian besar kehidupannya rupanya telah ditentukan oleh obsesi ini, khususnya tindakan homoseksualitasnya dan sadomasokismenya. Dalam lawatannya ke San Fransisco tahun 1875, ia mengunjungi dan sangat tertarik terhadap perkembangan komunitas homoseksual di kota itu. Dengan kata lain, dalam kehidupannya ia sangat tertarik pada “pengalaman luas biasa”.
Menurut strukturalisme Foucault dalam karya awalnya, kegilaan terjadi di dua taraf dan di taraf nan lebih dalam, “kegilaan ialah sebuah bentuk diskursus” (1965: 96). Khususnya sekurang-kurangnya di zaman kuno, kegilaan bukanlah perubahan mental atau fisik; “bahasa nan meracau ialah kegilaan nan sesungguhnya” (Foucault, 1965: 97).
Dalam karyanya The Birth of tha Clinic , Foucalut terus menggunakan metode strukturalis. Di sini ia memusatkan perhatian pada diskursus kedokteran dan struktur nan melandasinya; apa nan berarti dalam hal-hal nan dkatakan seseorang tidak selalu berarti apa nan mereka pikirkan, atau bukan berarti seberapa jauh hal-hal itu mencerminkan pemikiran mereka, sebab nan dikatakan itulah nan mensistematiskan pemikiran dari semula, dan dengan demikian pemikiran membuatnya bisa diakses buat diskursus baru dan terbuka buat tugas pentransformasiannya.
Kemajuan sebuah negara tampaknya akan terasa lebih mudah bila semua aspek masyarakatnya turut serta. Mulai dari masyarakat generik hingga para tokoh dalam berbagai bidang tersebut. Kehidupan Sosial masyarakat Indonesia nan cenderung masih belum stabil, tampaknya masih akan menjadi pekerjaan rumah bagi para tokoh sosiologi Indonesia .
Para tokoh sosiologi, ialah orang-orang nan pakar dalam ilmu-ilmu sosial. Tokoh sosiologi Indonesia nan namanya cukup terkenal hingga akhir hayatnya ialah Selo Soemardjan.
Tentang Selo Soemardjan
Selo Soemardjan ialah seorang pakar sosial nan lahir di Yogyakarta 23 Mei 1915. Lelaki nan juga dijuluki Bapak Sosiologi Indonesia ini sebenarnya ialah seorang staf pengajar lmu sosial di kalangan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia.
Beliau juga nan rupanya mempelopori berdirinya Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia. Selo Soemardjan pun kemudian diangkat menjadi dekan pertama nan dimiliki oleh fakultas tersebut.
Seluruh hayati Selo Soemardjan sepertinya memang dipersembahkan buat ilmu sosial. Beliau ialah orang kepercayaan Sultan Hamengku Buwono IX buat hal-hal nan berkenaan dengan ilmu-ilmu sosial kemasyarakatan Yogyakarta. Dari pihak pemerintah, Selo Soemardjan juga mendapatkan penghargaan sebab pengabdiannya terhadap ilmu sosial. Beliau menerima Bintang Mahaputra Utama.
Tokoh sosiologi Indonesia ini ialah seorang nan mempunyai disiplin tinggi dan lebih bahagia memberikan contoh nyata terhadap peserta didiknya. Di usianya nan sudah tak lagi muda, seharusnya Selo Soemardjan sudah dapat menikmati masa pensiunnya dengan tenang, namun sebab pengetahuannya tentang ilmu sosial nan masih diperlukan, pihak Universitas Indonesia memintanya buat kembali mengajar setelah masa pensiun.
Kepercayaan nan diberikan pihak Universitas Indonesia tak disia-siakan olehnya. Beliau tetap mengajar dengan profesionalitas dan semangat nan tinggi. Di kalangan orang-orang terdekat, Selo Soemardjan dikenal sebagai sosok nan sederhana, bersih, dan lurus. Beliau cenderung lebih suka memberikan contoh daripada memerintah dengan kata-kata. Beliau juga contoh manusia nan tak ingin berhenti buat belajar.
Ulah korupsi para petinggi negeri nan dipercaya menjadi penyebab carut marutnya keadaan sosial di negeri ini membuat Selo Soemardjan sangat menentang hal tersebut. Beliau ialah salah satu tokoh nan berteriak paling lantang mengenai hal ini.
Selain sebagai staf pengajar di UI, Selo Soemardjan juga pernah memegang jabatan di Pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta sekitaran tahun 1970 hingga 1980. Hingga akhir hayatnya, Selo Soemardjan telah banyak menyumbangkan pengetahuannya tentang ilmu sosial buat kemajuan kehidupan sosial di negara Indonesia.