Cerita Keren Hatta: Dari Bukittinggi Sampai Jadi Pahlawan Nasional
Daftar Isi
Hey kamu! Yuk, intip biografi Mohammad Hatta yang keren abis. Kita bakal ngobrol santai soal perjalanan beliau, dari masa kecil di Bukittinggi sampe jadi tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Kepulangan & Perjuangan di Tanah Air
Setelah tamat kuliah di Belanda, Hatta balik ke Indonesia tanggal 5 Juli 1932. Karena prihatin sama situasi politik, beliau bareng Sutan Syahrir bikin organisasi pemimpin Indonesia yang fokus ngedidik kader perjuangan. Aktivitasnya yang dianggap mengganggu kolonial, bikin beliau sempat diasingkan ke Glodok, Boven Digoel, Banda Neira, dan Sukabumi.
Pada 1942, Hatta diangkat jadi kepala Kantor Penasihat pada pemerintahan pendudukan Jepang, terus jadi salah satu pemimpin Putera. Beliau juga aktif di BPUPKI dan PPKI, bahkan ikut nyusun UUD 1945. Karena peran pentingnya, Hatta jadi proklamator bareng Soekarno, dan keesokan harinya diangkat jadi Wakil Presiden pertama RI.
Petualangan di Negeri Kincir Angin
Selama sebelas tahun di Belanda, Hatta gak cuma kuliah di Nederland Handelshogeschool, tapi juga aktif di organisasi mahasiswa yang dulu bernama Indische Vereeniging, kemudian PI (Perhimpunan Indonesia). Beliau jadi bendahara, lalu ketua, dan memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Internasional di Prancis serta ke kongres anti‑imperialisme di Belgia.
Di sana, Hatta bareng temen-temennya sempat ditangkap karena dianggap subversif, tapi akhirnya dibebaskan pada 22 Maret 1928.
Masa Muda Hatta
Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 12 Agustus 1902. Ayahnya meninggal saat Hatta masih balita, jadi beliau dibesarkan sama ibu dan enam saudara perempuannya. Sekolah dulu dimulai di Sekolah Melayu Fort de Kock, terus lanjut ke Europeesche Lagere School di Padang, MULO, dan akhirnya ke Sekolah Tinggi Dagang di Batavia.
Di Batavia, Hatta mulai nulis artikel, salah satunya "Namaku Hindania" yang dimuat di majalah Jong Sumatera.
Setelah Merdeka: Peran Politik & Akademik
Pas Republik Indonesia Serikat (RIS) dibentuk, Hatta jadi Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan dan Wakil Presiden. Namun, pada 1 Desember 1956 beliau mengundurkan diri karena beda pandangan dengan Soekarno. Setelah itu, Hatta lebih fokus ke dunia akademik, menulis, dan mengajar.
Beliau juga memimpin delegasi Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 di Den Haag, yang akhirnya bikin Belanda mengakui kedaulatan RI.
Kehidupan Pribadi yang Sederhana
Hatta dikenal sebagai sosok pendiam dan sederhana. Beliau menikah dengan Siti Rachmiati pada 18 November 1945, dan dikaruniai tiga putri. Meski hidup sederhana, pensiunannya sebagai Wakil Presiden tak cukup buat bayar listrik dan air, jadi beliau tetap hidup sederhana sampai akhir hayatnya pada 14 Maret 1980.
Hatta dimakamkan di TPU Tanah Kusir, dengan Buya Hamka sebagai imam salat. Warisan beliau sebagai pemimpin yang rendah hati dan cinta tanah air tetap menginspirasi generasi muda saat ini.