Hai kamu! Pernah nggak sih ngerasa jalanan di kotamu kayak lagi main “cari lubang” atau terjebak macet gara‑gara saluran air yang belum selesai? Kebanyakan orang otomatis nyalahin Departemen Pekerjaan Umum (PUPR). Padahal, kerjaan mereka itu luas banget, biaya gede, dan wilayahnya nyebar ke seluruh Indonesia. Jadi, mari kita kulik bareng‑bareng sejarah beliau yang keren ini, dari zaman Belanda sampai peringatan Hari Bakti yang selalu dinanti.
1. Sejarah Awal: Zaman Belanda Openbare Werken
Waktu Indonesia masih dijajah Belanda, departemen ini disebut Openbare Werken (pekerjaan umum). Dipimpin sama Dep. Van Verkeer & Waterstaat (disingkat Dep. V & W). Tugas utama mereka meliputi:
- Jalan raya (Lands gebouwen)
- Irigasi (Wegen, Irrigatie & Assainering)
- Jembatan (Water Kracht Constructie burreau)
- Pelabuhan (Havenwezen)
- Kelistrikan (Electriciteitswezen)
- Penerbangan sipil (Luchtvaart)
Penjajah Belanda butuh infrastruktur yang “nggak ribet” buat ngangkut hasil bumi ke Eropa. Karena itu, pekerjaan umum dibagi jadi beberapa wilayah, kayak Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta wilayah khusus kayak Yogyakarta dan Surakarta. Hasilnya? Jalan‑jalan dan jembatan‑jembatan peninggalan Belanda masih dipake sampai sekarang, plus arsitektur art deco yang masih keren di beberapa kota.
2. Era Jepang: Kotubu Bunsitsu yang Lebih Militeristik
Masuknya Jepang bikin perubahan nama jadi “Kotubu Bunsitsu”. Fokusnya bukan cuma infrastruktur sipil, melainkan buat dukung kebutuhan perang. Jadi, pembangunan lebih terpusat di Jawa dan Sumatera, plus kerja paksa yang disebut “Romusha”.
Walau masa itu singkat, satu hal penting yang terjadi: gedung pusat PUPR di Bandung, dulu “Gedung Sate”, diambil alih sama pemuda Indonesia. Gedung ini jadi markas utama Departemen Pekerjaan Umum pas Indonesia merdeka.
3. Perjuangan 1945: Hari Bakti 3 Desember
Setelah Jepang menyerah, sekutu (Belanda + NICA) nyoba merebut kembali Gedung Sate pada November‑Desember 1945. Pada 3 Desember 1945, 21 pejuang yang kebanyakan karyawan PUPR berjuang mati‑matinya melawan serangan sekutu. Tujuh di antaranya gugur: Didi Hardianto Kamarga, Muchtaruddin, Soehodo, Rio Soesilo, Soebengat, Ranu, dan Soerjono.
Untuk menghormati mereka, nama-nama pahlawan ini ditaburi di batu besar di halaman Gedung Sate, dan mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Setiap 3 Desember, Indonesia merayakan Hari Bakti PUPR sebagai wujud apresiasi atas jasa‑jasa mereka.
4. Peran Pekerjaan Umum Sekarang: Dari Jalan Layang Sampai Tol
Bandingkan lingkunganmu sekarang dengan sepuluh tahun lalu. Pasti ada banyak perubahan: jalan layang baru, tol yang melintas dekat rumah, atau jalan raya yang lebih lebar. Semua itu berkat kerja keras Departemen Pekerjaan Umum. Meski volume proyek masih kalah sama swasta, kontribusi beliau tetap top banget buat kemajuan infrastruktur nasional.
Saat ini, PUPR ngurus pembangunan jalan, jembatan, gedung, saluran air, irigasi, serta proyek‑proyek hijau yang mendukung smart city. Teknologi terbaru kayak GIS mapping dan building information modeling (BIM) udah dipakai buat rencanain proyek dengan lebih akurat dan efisien.
5. Mengapa Kita Harus Apresiasi PUPR?
Karena tanpa Departemen Pekerjaan Umum, kehidupan sehari‑hari kamu bakal terasa “ribet” banget. Jalan berlubang, air meluap, atau listrik yang sering putus? Itu semua bakal jadi masalah besar. Jadi, meski kadang ada keluhan, tetaplah ingat kalau kerjaan beliau meliputi hal‑hal yang bikin hidup kamu lebih nyaman dan terhubung.
Semoga dengan mengenal sejarah dan peran Departemen Pekerjaan Umum ini, kamu jadi lebih menghargai setiap jalan yang kamu lewatin, setiap jembatan yang kamu lewati, dan setiap kali lampu jalan menyala di malam hari. Keep walking, keep exploring, dan tetap dukung pembangunan yang lebih baik!