Gali Seru‑serunya Sejarah Uang Kertas Indonesia: Dari Gulden Belanda Sampai Roepiah Jepang
Daftar Isi
Hai kamu! Pernah nggak sih penasaran kenapa uang kertas yang kamu pegang tiap hari punya cerita panjang yang seru? Yuk, kita kulik sejarah uang kertas Indonesia dari masa Hindia Belanda sampai era Jepang. Siapkan cemilan, karena bakal ada banyak fakta menarik yang bikin kamu makin paham dan bangga sama sejarah moneter tanah air.
Uang Kertas Zaman Jepang: Roepiah yang Bikin Penasaran
Walaupun pendudukan Jepang cuma sekitar 3,5 tahun (1942‑1945), jejak Roepiah Jepang tetap nempel kuat di ingatan. Saat Batavia jatuh ke tangan Jepang pada 5 Maret 1942, mereka langsung tarik uang Gulden Belanda dan ganti dengan seri "De Japansche Regeering". Uniknya, istilah "Gulden" masih dipertahankan dulu, tapi pada 1943 diganti jadi "Roepiah" - nama yang sampai sekarang masih dipake.
Uang Roepiah versi Jepang menampilkan gambar-gambar khas Indonesia: 1 Roepiah ada petani + kerbau yang lagi membajak sawah, 5 Roepiah menampilkan rumah adat Batak, 10 Roepiah ada dua varian - satu bergambar Gatotkaca, satu lagi Candi Borobudur. Bahkan 100 Roepiah menampilkan Dewa Wisnu naik Garuda dan wayang kulit Arjuna. Ada rencana buat 1.000 Roepiah, tapi nyatanya nggak pernah diedarkan.
Masalahnya, uang ini awalnya nggak pakai nomor seri, jadi banyak orang ragu keabsahannya. Tanpa kontrol, orang bisa nyetak uang palsu sesuka hati. Akhirnya, banyak warga kembali pake uang Gulden Belanda yang masih dipercaya, sampai Jepang mundur setelah bom Hiroshima & Nagasaki.
Jejak Hindia Belanda: Dari Pamflet Mini sampai Javasche Bank Canggih
Jejak uang kertas Hindia Belanda dimulai sejak 1782, ketika VOC terbitin pamflet kecil yang jadi cikal bakal uang kertas. Pamflet itu cuma cetak satu sisi pakai stensil, ada tanda tangan & stempel VOC, dan beredar di Ambon, Batavia, Ternate. Hanya kalangan pedagang, bangsawan, dan ningrat yang punya.
Barulah pada 1828 Javasche Bank dibentuk sebagai bank sentral, dan mulai terbitkan "biljet" berangka seri tulisan tangan. Tahun 1832 muncul seri "Tembaga" mirip kuitansi, 1846 ada "Recipes", 1851 "biljet Javasche Bank". Pada 1855, uang mulai dilengkapi garis tepi, nilai nominal, dan tanda pengaman kertas bergaris; bahasa yang dipakai campuran Belanda + Arab‑Melayu.
Pada 1864, Javasche Bank upgrade lagi: uang kini dicetak dua muka, pakai warna, watermark "Javasche Bank", serta bahasa Belanda, Jawa, China, Melayu. Seri "Frame" (Bingkai) muncul, menampilkan ornamen yang mirip uang modern. Tahun 1873 ada "Frame 2", 1897 "Coen Mercurius" yang menampilkan Jan Pieterszoon Coen - tokoh VOC yang berperan penting dalam kolonisasi. Coen digambarkan lagi di seri "Coen 1" tahun 1901.
Tak hanya Coen, Javasche Bank juga terbitin uang bergambar Ratu Wilhelmina pada 4 Agustus 1919 (seri "Munbiljet Wilhelmina"). Uang 1 Gulden & 2½ Gulden ini menampilkan ratu & lambang "Crowned Dutch". Pada 1933, muncul seri "Wayang Orang" dengan nilai 5‑1.000 Gulden, yang tampilannya makin artistik dan latif (menarik). Menjelang akhir, 1940 terbit "Munbiljet" dengan gambar Candi Borobudur di belakang.
Selain uang resmi, pemerintah Hindia Belanda juga keluarkan uang swasta (kupon) untuk perkebunan, nilai 10 sen‑1 Gulden, yang hanya bisa dipake oleh kuli kontrak di area perkebunan. Sistem ini bikin para kuli "terkunci" secara ekonomi, karena uangnya cuma berlaku di lingkungan perkebunan.
Jadi, dari pamflet mini VOC sampai Roepiah Jepang, perjalanan uang kertas Indonesia penuh dinamika, inovasi, dan cerita seru. Semoga kamu jadi makin paham dan bangga tiap lihat uang di dompetmu!