Mitos Edukasi Seks

Mitos Edukasi Seks

Pembicaraan mengenai edukasi seks masih dianggap sebagai hal tabu di kalangan masyarakat. Anak-anak nan belum cukup umur dianggap tak berhak diberikan edukasi seks. Padahal, setiap anak berhak mendapatkan edukasi seks secara seksama dan seimbang. Hal itu bertujuan agar anak menangkap pendidikan seks secara utuh sehingga dapat mengetahui imbas baik dan buruknya.

Edukasi seks dapat dilengkapi dengan informasi mengenai penggunaan alat kontrasepsi, misalnya kondom. Edukasi seks pada anak harus dilengkapi dengan klarifikasi tentang pelayanan kesehatan nan profesional serta cara berhubungan seks nan kondusif dan "legal". Hak anak memperoleh edukasi seks janganlah diabaikan gara-gara terlalu mempercayai mitos.

Mitos Edukasi Seks

Bagaimanapun, seks boleh dikatakan sebagai kebutuhan bagi setiap orang nan sudah menikah. Oleh karena itu, orangtua wajib menjelaskan mengenai hal ini. Mitos nan selama ini berkembang perlu diluruskan agar anak mendapatkan informasi secara sahih dan tepat mengenai kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi.

Berikut ini merupakan beberapa mitos nan berkembang di masyarakat terkait edukasi seks.

1. Hanya Perlu Diberikan pada nan Mau Menikah

Mitos ini bertentangan dengan sejumlah fakta nan ditemukan para peneliti. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa sikap demikian tak akan membuat para remaja menunda aktivitas seksual. Pemahaman seks nan sangat minim serta galat justru akan membuat para remaja mudah terjerumus ke dalam perilakuk seks tak sehat.

2. Mendorong Pelajar Menjadi Aktif Secara Seksual

Organisasi Kesehatan Global (WHO) telah mengevaluasi 47 program di Amerika Perkumpulan dan beberapa negara. Dalam 15 studi, edukasi seks dan HIV/AIDS meningkatkan aktivitas seksual, taraf kehamilan, dan infeksi menular seksual. Namun, 17 studi lain menunjukkan bahwa pendidikan seks dan HIV/AIDS mampu menunda aktivitas seksual, mengurangi jumlah pasangan seksual, mengurangi kehamilan di luar rencana, serta mengurangi infeksi menular seksual.

3. Mendorong Pelajar Aktif Secara Seksual dan Meningkatkan Kehamilan

Isu ini telah diteliti para pakar sehingga ditemukan simpulan bahwa pendidikan seks dan HIV/AIDS nan komprehensif, termasuk program ketersediaan kondom, tak menambah aktivitas seksual. Hal itu justru sangat efektif buat mengurangi aktivitas seksual di kalangan remaja.

4. Sering Terjadi Kegagalan Alat Kontrasepsi

Alat kontrasepsi sering menemui kegagalan sehingga para remaja lebih diajarkan buat menghindari hal-hal berbau seksual. Padahal, alat kontrasepsi modern sangat efektif asal dipergunakan secara sahih dan memilih jenis kontrasepsi nan paling cocok. Persentase kehamilan pada wanita nan menggunakan pil KB sekitar 0,03%, memakai kondom sekitar 21%, dan tanpa KB sekitar 85%.

5. Alat Kontrasepsi Tidak Menangkal HIV dan Infeksi Menular Seksual Lain

Mitos tersebut tidaklah benar. Faktanya, kondom masih dipercaya sebagai alat kontrasepsi paling ampuh buat melindungi penularan infeksi seksual, termasuk HIV. Oleh karena itu, para remaja harus diberikan edukasi nan sahih mengenai kondom.

6. Kondom Memiliki Angka Rata-Rata Kegagalan Tinggi

Seperti nan dinyatakan oleh The National Institutes of Health (TNIH), kondom merupakan alat kontrasepsi nan sangat efektif buat menangkal penularan HIV serta mencegah kehamilan. TNIH pun melaporkan bahwa studi laboratorium menunjukkan kondom mampu mencegah penyakit dampak infeksi menular seksual lain, misalnya gonore, klamidia , dan trichomoniasis.

7. Kondom Tidak Dapat Mencegah Human Papillomavirus (HPV)

Kondom memang tak mampu menangkal infeksi virus pada bagian tubuh nan tak tertutup kondom. Namun, pemakaian kondom dipercaya mampu meminimalisasi risiko penyakit nan terkait dengan HPV, misalnya kanker serviks. Hal ini dinyatakan oleh TNIH. Kanker serviks pun bisa dicegah dengan penggunaan kondom secara efektif dan konsisten serta deteksi dini HPV melalui inspeksi pap smear .

8. Kondom Tidak Efektif Mencegah Penularan HIV

Oleh TNIH, kondom dikonfirmasikan sebagai alat kontrasepsi nan efektif buat melawan infeksi HIV. Sebuah studi di Eropa menyatakan bahwa penggunaan kondom secara konsisten oleh 124 pasangan HIV- serodiscordant (satu terinfeksi, satu sehat) tak menunjukkan penularan pada pasangannya. Namun, penularan terjadi sekitar 12 persen pada pasangan nan menggunakan kondom secara tak konsisten.

Setelah mengtahui mitos-mitos dalam pendidikan seksual, bahasan selanjutnya ialah seputar ABG dan Edukasi seksual.

ABG dan Edukasi Seks

Pada dasarnya, seks itu merupakan sesuatu nan ";given" atau ";terberikan" oleh Tuhan. Setiap manusia, khususnya ABG atau Anak Baru Gede, memiliki hal tersebut. Bahkan, saat memasuki usia nan disebut dewasa, dorongan seksnya makin kuat dan menggebu-gebu tanpa diminta ataupun sengaja diminta oleh nan bersangkutan.

Tapi, kita sebagai manusia masih beruntung sebab Tuhan pun memberi kita akan dan rasa buat bisa mengelola pemberian-Nya itu dengan baik dan benar. Inilah disparitas manusia dengan makhluk hayati lainnya.

Bagi ";Anak Baru Gede", berubahnya fisik serta hormonal nan secara alami mereka rasakan sejak memasuki akil balig, membuat keingintahuan dan ketertarikan mencoba hal baru buat mendapatkan pengakuan atas jati dirinya tercermin menjadi sebuah aksi konyol di mata orang dewasa.

Proses pencarian seputar pemaknaan seks pun jadi bias dan rentan bila tak diperoleh dari sumber infomasi seputar edukasi seks nan baik. Apalagi saat ini teknologi informasi dan komunikasi nan berkembang begitu cepat sehingga peluang memperoleh berbagai informasi negative seputar edukasi seks semakin terbuka lebar.

Penelitian-penelitian nan terkait dengan pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja menyimpulkan bahwa para ";Anak Baru Gede", khususnya siswa SMU lebih tertarik buat mendiskusikan atau membicarakan tentang seks dengan teman mereka sendiri. Alasannya ialah sebab merasa lebih bebas dan nyaman.

Setelah melakukan hal itu, baru mereka kemudian mencari dan mengumpulkan infomasi seputar pendidikan seks di media massa, lalu berdiskusi atau bertanya kepada orangtua, dan terkahir bertanya pada guru di sekolah masing-masing.

Ketertarikan para AGB nan merasa lebih bebas dan nyaman mendapatkan informasi seputar edukasi seks lewat temannya dan media massa dianggap sangat berbahaya dan berisiko sebab belu tentu informasi nan dipeoleh tersebut akurat, benar, dan tepat.

Di sisi lain, para orangtua dan guru nan memang lebih paham tentang masalah pendidikan seks malah dijauhi oleh para AGB sebab masih adanya perasaan tabu dan malu di antara keduanya buat membicarakn pendidikan seks.

Hubungan seks ( intercourse ) itu bersifat multifungsi sebab bisa dianggap sebagai pro ciptaan dan bisa juga dianggap sebagai pro rekreasi. Artinya, maknanya sangat bergantung pada setiap individu sebagai puncak dari hasil sosialisasinya dengan sesama dan juga lingkungan sekitar sebab memang pada dasaranya manusia itu ialah makhluk sosial.

Satu hal lagi nan harus digarisbawahi, bahwa interaksi seks itu hanya dihalalkan bagi mereka nan telah menjadi pasangan absah suami istri secara agama, negara, serta di mata masyarakat. Namun dalam kenyataannya, praktik seks di luar nikah sudah sering terjadi dan dianggap biasa.

Kasus-kasus seks bebas sebab alasan cinta dan suka sama suka, pemerkosaan, pelecehan seksual, pernikahan dini nan terpaksa dilakukan, hamil di luar nikah, dan lain-lain merupakan sedikit potret dan akibat negatif nan dialami AGB. Di sinilah seksualitas bagi ABG dianggap sebuah bala nan menakutkan.

Kebimbangan dan kebingungan ketika menentukan jati diri nan baru dan sedikitnya informasi seksama dan tepat seputar pendidikan seks telah membuat ABG rentan menjadi korban dari statusnya sendiri.

Oleh sebab itu, seharusnya para orangtua dan guru bertanggung jawab terhadap masalah ini dengan cara berperan aktif menjadi sumber informasi primer dan seksama seputar edukasi seks nan diperlukan ABG. Dengan cara ini, pada ABG akan mudah memaknai bahwa seks merupakan anugerah dari Tuhan dan bukan sebuah bala bagi mereka. Semoga bermanfaat!

Semoga bermanfaat!